Apr 24, 2012

Cerpen Romantis: FORTUNE

FORTUNE
Cerpen oleh Putri Permatasari

Raja bangkit lalu membersihkan kaos serta jeannya yang kotor oleh rumput dan tanah. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin. “Dasar barbar.”

Gadis itu tersenyum sinis dan membalas tatapan Raja. “Aku memang barbar. Sebab aku bukan orang kota sepertimu.”

Cerpen Romantis
“Audy, jaga mulutmu!” Wanita setengah baya tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Wajahnya mirip Audy, gadis yang tadi dengan sengaja menabrak Raja. Meskipun sudah setengah baya, wanita itu tetap cantik walau agak gemuk. Wajahnya menunjukkan keramahan. “Oh, maaf, Anda tentunya bermaksud untuk berlibur di desa ini bukan?”

“Eh, ya.” Raja mengambil tas besarnya dari tanah.

“Maafkan putriku. Hari sudah sore, sebaiknya Anda ke tempat kami saja.” tawarnya ramah. “Kami menyewakan losmen.”

Meskipun Raja tidak senang dengan putrinya yang kira-kira masih 15 tahunan, Raja menerima tawaran wanita setengah baya itu. Karena hari sudah sore, dan kelihatannya wanita pemilik losmen ini ramah. Malamnya Raja disediakan makanan khas di desa itu. Rasanya lezat, cocok dengan lidah Raja. Dan ia nambah.

Pak Toto merupakan kepala keluarga yang ramah, serasi dengan istrinya, Bu Amalia. Namun Raja heran karena anak mereka, Audy, tidak punya adat dan sopan santun. Kekanakan pula. Apa ia anak pungut? Tapi raja tidak terlalu memedulikannya. Ia ke sini untuk berlibur, bukan untuk diganggu. Raja sudah lelah bekerja dan ia ingin beristirahat. Tom, temannya, mengatakan bahwa desa ini merupakan tempat yang nyaman untuk berlibur. Karena selain suasana dan penduduknya ramah, pemandangannya pun indah serta udaranya sejuk.

Raja memandangi pemandangan di balik tirai putih yang menutupi bingkai jendela yang juga berwarna putih. dan ketika ia sedang menatap keindahan langit malam yang penuh bintang, Raja melihat seseorang yang sedang berdiri tidak jauh dari kamar Raja.
Gadis itu sedang memandang langit, kedua tangannya disimpan di balik punggung. Gadis itu berambut hitam kemilau tertimpa cahaya bulan yang keperakan. Gaun tidurnya panjang sampai mata kaki. Gadis itu bertelanjang kaki.

Raja merasa heran sendiri karena ia tertarik untuk menyapa gadis itu. tak terasa ia sudah melompati jendela kamarnya dan berjalan perlahan ke arah gadis itu. Raja sangat penasaran. “Hai.” Raja menyapa gadis itu setelah ia tepat berada di sampingnya. Saat gadis itu menoleh, Raja sangat terkejut. “Audy?”

“Mau apa kau?” Audy terkejut. Ia mundur selangkah. Kakinya terantuk batu dan hampir jatuh. Raja menangkap Audy, namun Audy berusaha melepaskan diri dan berteriak. “Lepaskan aku!”

Raja segera melepasnya. Apa-apaan gadis ini? Sudah ditolong malah marah-marah! Tidak tahu berterima kasih! Raja menatap dingin, lalu segera berbalik menjauh. “Sudah malam, sebaiknya kau tidur, anak kecil.”

“Brengsk, aku bukan anak kecil!” maki Audy. Sebenarnya Raja ingin membalas, tapi Raja malas. Lagipula sangat tidak dewasa meladeni anak yang masih berumur 15 tahun….

***
Pagi-pagi sekali Raja terbangun karena ia merasa terganggu dengan suara bising di luar kamar losmennya. Dengan masih mengantuk Raja melangkah ke jendela dan membukanya lebar-lebar. Ia mendapati Audy sedang menendang-tendang dan memukul-pukul pohon pinus di halaman losmen.

Sesaat Raja terpana melihatnya. Seperti semalam, enatah kenapa, pagi ini Audy terlihat menarik bagi Raja. Dengan kaos putih tanpa lengan dan celana pendek hitam, disertai semangat dan peluh yang bercucuran, Audy terlihat seksi.

Setelah mandi, Raja menghampiri Audy. Kali ini Raja melewati pintu depan. “Sedang latihan bela diri?”

Audy hanya melirik sekilas, tidak menghiraukan Raja. Ia tetap memukul dan menendang pohon, tanpa mengenakan pelindung. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Audy harum.

“Kau sombong sekali, anak kecil.”

Audy menghentikan latihannya. Ia memegang pohon, lalu ia menatap Raja dengan sinis. “Aku bukan anak kecil. Usiaku sudah 17 tahun. Dan aku latihan bela diri untuk berlindung dari orang-orang jahat dari kota sepertimu.”

Raja menyipitkan matanya. “Dari kemarin kau selalu menyebut-sebut ‘orang kota’. Ada masalah dengan orang kota?”

Audy tersenyum sinis. “Kau tanya saja orang tuaku.” Audy melewatinya dan berlari masuk ke losmen, meninggalkan Raja yang keheranan.

Siang itu Raja jalan-jalan ke bukit. Tempat itu benar-benar nyaman dan sejuk. Pemandangannya pun indah, ditambah air sungai yang dingin mengalir. Sambil menikmati keindahan alam, Raja teringat kata-kata Pak Toto, “Sahabat Audy ditipu pria yang datang dari kota. Setelah menghamili, pria itu tidak mau bertanggung jawab dan kabur ke kotanya. Audy sangat benci pada pria itu.”
Raja tiduran di atas rerumputan yang lembut. “Jadi begitu….”

Tiba-tiba seseorang menginjak kakinya. Raja dan orang itu sama-sama mengaduh. Raja melihat Audy membersihkan bagian depan kaos putihnya yang bergembar Felix. Raja jadi ingin balas dendam. Raja menatap Audy. “Kenapa selalu menggangguku? Sudah 2 kali kau menabrakku.”

Sambil masih terduduk, Audy mundur ke belakang. Ia menatap curiga dan sedikit takut. “Mau apa, kau?”

Raja bangkit dan mendekati Audy. Ia tertawa sinis dan mengejek. “Kaupikir apa, gadis barbar? Tentu saja melakukan kejahatan. Ayo, keluarkan jurusmu!” Raja segera mendorong Audy sebelum Audy sempat melakukan gerakan apa pun. Audy berusaha melawan Raja, tetapi Raja tidak membiarkannya. Ia memegang kedua tangan Audy dengan kuat. Audy terlihat ketakutan dan hampir menangis. Dan entah kenapa, Raja merasa menyesal telah menakut-takuti Audy. Raja segera melepaskan pegangannya. “Maaf, aku hanya bercanda….” Suara Raja tenggelam akibat tamparan Audy. Tamparannya benar-benar keras dan perih.

“Bercanda apa? Kau brengsek!” Audy segera bangkit, namun Raja segera menarik dan memeluknya, sehingga dada Raja dapat merasakan bahu dan punggung Audy yang lembut. “Lepaskan aku!”

“Tenang, Audy. Aku bukan orang jahat. Kenapa tadi kau menginjak kakiku?”

Audy diam saja. Namun setelah digertak akan dicium, Audy segera menjawab dengan terbata. “Aku membuntutimu, ingin tahu apa yang akan kaulakukan. Aku kehilangan jejakmu. Ketika akan mencarimu lagi, aku terantuk kakimu….” Audy terisak.

“Audy, aku tidak sama dengan pria yang menghamili sahabatmu. Lagipula aku tak berminat pada anak kecil sepertimu.” Raja membalikkan tubuh Audy sehingga mereka berhadapan dan Raja dapat menatap mata Audy. “Aku bisa menjamin kata-kataku.”

Audy melepaskan diri. Ia menunduk memandang rumput yang hijau segar. “Mira jatuh cinta pada Gray, pria kota yang tampan. Saat itu Mira 16 tahun dan Gray 19 tahun. Mira sangat tergila-gila pada Gray.”

Raja dapat melihat mata Audy penuh amarah dan kebencian. Dan wajahnya memerah. “Mira betul-betul bodoh.” Suara Audy bergetar. “Mira melahirkan anak pria itu, anak yang lucu dan tak berdosa….Aku benci pria itu!”

Raja mengelus rambut Audy. “Aku bisa meminjamkan bahuku….” Audy mengira Audy akan memukulnya. Karena itu ia sangat kaget saat Audy menangis dan menghambur ke pelukannya. Dengan ragu Raja memeluknya. Akhirnya ia tahu kenapa Audy bersikap buruk padanya. Raja merasa malu karena telah menghina dan meremehkan Audy.

Hari telah sore saat Raja dan Audy menuruni bukit.

Audy membungkuk mengucapkan maaf dan terima kasih. “Kuharap kau berbeda dengan Gray.” Lalu Audy berlari mendahului menuju losmen. Raja hanya tersenyum melihat Audy.

Keesokan harinya Raja meminta Audy untuk menemaninya jalan-jalan mengelilingi desa. Mulanya Audy menolak, namun Raja mengatakan bahwa jalan-jalan di desa ini merupakan servis losmen. Akhirnya Audy bersedia walaupun masih terlihat enggan. Tapi Raja cuek saja. Hitung-hitung balas dendam, Raja tersenyum sendiri. “Aku betah di sini, pemandangannya indah.”

Audy tidak berkomentar. “Hei, sepertinya orang-orang memperhatikan kita?” celetuknya tiba-tiba.

Arbian, teman sekelas Audy bersiul. “Wah, Audy, kau berpacaran dengan Om yang gagah dan ganteng yaaa!”

Audy merasa wajahnya merah padam. “Arbian, hentikan omong kosong itu!” Audy hendak memukul Arbian, namun tiba-tiba Audy melihat Mira. Ia sedang menggendong anaknya yang baru berusia satu tahun. Mira melihatnya dan melambaikan tangan dengan senyum. Audy mengajak Raja menghampiri Mira dan Gray junior.

“Namaku Raja. Aku menginap di losmen Hijau.” Raja menyalami gadis berusia 18 tahun itu dengan ramah. Ia tampak keibuan, tidak seperti Audy. Padahal usia mereka hanya terpaut satu tahun. Raja melirik Audy sekilas. “Putramu sangat tampan.”

Mira tersenyum. “Semua orang bilang begitu. Terima kasih. Gray, ucapkan salam pada Om Raja.”

Dalam perjalanan menuju pasar, Raja menegurnya. “Mira tidak terlihat membenci Gray. Malah, sepertinya sangat mencintainya.”

Audy menatap lurus ke jalan. “Sudah kukatakan, Mira itu bodoh dan sangat tergila-gila pada Gray. Mira tidak membenci Gray, tapi aku yang membenci Gray.”

Raja memandang Audy heran. Apakah dulu Audy mencintai Gray? Tiba-tiba perasaan aneh menyelinap masuk. Dadanya berdebar. Apa aku cemburu?

“Kau kenapa tertawa sendiri? Oya, jangan dekat-dekat, nanti orang menyangka kita pacaran.” Audy menjauh.

“Tidak mungkin. Paling-paling orang menyangka kalau kau ini kekasih gelapku. Soalnya usia kita berbeda 9 tahun. Itu terlihat sekali….” Raja tersenyum puas. Ia merangkul Audy namun Audy menepisnya. “Jangan menolak, atau kau mau kucium?”

Audy merasa akhir-akhir ini ia aneh. Ia selalu berdebar jika bertemu atau berada didekat Raja. Dan itu telah berlangsung tiga hari.

“Audy, buatkan air panas ya untuk mandi. Sore ini ini dingin sekali.” ujar Raja.

Audy membuatkan air panas sambil melamun. Kenapa aku harus memikirkan pria yang tidak memikirkan aku? Ya benar, percuma saja….

***
“Halo, hei, Tom!” Raja menguap. “Ada apa?” Raja bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan ke jendela dan membukanya. Tumben Audy tidak latihan. Masa latihannya sudah bosan, sih?

“Bagaimana liburannya?”

“Sangat menyenangkan.” Raja tertawa. Ia membayangkan wajah Audy tersenyum, dan itu membuatnya terkejut. Kenapa aku memikirkan gadis itu? “Pemandangannya indah dan udaranya sejuk, tepat seperti katamu.”

Tom tertawa. “Namanya juga desa di kaki gunung. Eh, gimana gadis-gadisnya?”

Raja berdehem, “biasa saja.”

“Raja, kalau mau mandi pagi dengan air panas, akan kubuatkan….” Ketika Audy masuk ke kamar Raja, ia langsung membalikkan tubuhnya. Sebab Raja hanya mengenakan celana panjang.

Raja tersenyum. “Sudah dulu, ya.” Raja mematikan handphone-nya. “Aku akan mandi dengan air dingin saja, terima kasih.”

***
“Oh, jadi Anda tinggal 2 hari lagi di sini?”

Audy mendengar ayahnya berbicara dengan Raja di teras. Jadi Raja tinggal dua hari lagi di sini? Entah kenapa Audy merasa tidak senang dengan kabar ini. Kenapa waktu berlalu dengan cepat? pikirnya.

Audy merasa heran pada dirinya sendiri karena siang itu ia menawarkan diri untuk menemani Raja berjalan-jalan.

“Tumben.”

“Aku hanya ingin berbaik hati.” Audy menemani Raja ke pasar untuk mencari oleh-oleh.

Raja merasa senang dapat berbaikan dengan Audy. Audy berbeda dengan teman-teman kantornya yang selalu mementingkan penampilan, kekayaan, dan pria tampan. “Kau cantik.”

Audy berusaha keras menenangkan debar jantungnya. “Aku memang anak kecil yang cantik.” Audy tersenyum dibuat-buat. Raja diam saja, ia hanya tersenyum menatap Audy.

Keesokannya sebelum Raja pulang, ia minta Audy menemaninya berjalan-jalan ke bukit pinus. Audy menyanggupi. Sesampainya di bukit pinus, Raja menyuruh Audy bergaya. “Untuk kenang-kenangan.” Raja melihat mata Audy berkaca-kaca. “Ada apa?”

“Aku tidak mau hanya menjadi kenangan bagimu!” Tiba-tiba Audy memeluknya, membuat Raja terkejut. “Aku suka Raja!”

Raja sangat terkejut. Ia tersenyum dan memeluk Audy. Selama beberapa menit tidak ada yang berbicara, hanya angin membelai tubuh mereka. Raja membelai bahu dan rambut Audy dengan mesra dan sayang. Lalu ia melepaskan pelukannya. Kedua tangannya merangkum wajah Audy yang putih bersemu merah. Ia menatap bibir Audy yang merah dan lembab. Raja mengecup dahi Audy. “Aku juga suka padamu, anak kecil. Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku meminta fotomu untuk kenang-kenangan.”

Audy menatapnya lembut. “Aku tidak mau kau bohong. Kau sudah punya pacar di kota ‘kan? Aku tidak mengharap kau membalas perasaanku….”

Raja memegang bahu Audy. “Dengar, Audy. Aku tidak bercanda. Apa yang harus kulakukan agar kaupercaya? Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya! Selama ini aku selalu sibuk bekerja….”

“Aku juga…kau cinta pertamaku.” Audy menatapnya.

“Bukankah kau suka Gray?”

“Gray? Kenapa kau berpikir begitu? Aku ‘kan tadi bilang, kau cinta pertamaku.”

“Begitukah? Syukurlah.” Raja memeluk Audy dengan gembira. “Tahun depan aku ke sini lagi, untuk melamarmu….”

“Kau bilang kau tak berminat pada anak kecil sepertiku.”

“Yah, tahun depan kau sudah 18 tahun ‘kan...sudah siap untuk menikah.”

Wajah Audy merah padam. Ia tersenyum senang. Mereka berpandangan, lalu berjalan bergandengan menuruni bukit sambil menikmati pemandangan yang terlihat lebih indah dibandingkan sebelumnya.
TAMAT


Nama: Putri Permatasari
Fb: putri_comics86_ydws@yahoo.com