Cerpen Persahabatan: REMBULAN UNTUK SAHABATKU

Bersama Sukses
REMBULAN UNTUK SAHABATKU
Cerpen Persahabatan oleh Nurul Rahmah

Dia pria yang gagah, ceria, dan jagoan, dia sosok pria yang yang benar-benar jantan, pria yang selalu melukis senyum di wajahku dan pria yang selalu membuat damai hatiku ketika bersamanya. Dia itu sahabatku Dhery. Kami bersahabat ketika kami berumur 13 tahun tepatnya saat kami duduk di kelas 1 SMP. Dia sahabat yang mengajari ku tentang kehidupan, dia mengajariku untuk tidak mengenal kata mengeluh dan mengajariku untuk selalu bersyukur di setiap keadaan.

Cerpen Persahabatan
Unyu nama sapaan yang diberikan Dhery untukku dan uyun nama sapaan yang kuberikan untuk Dhery. Tepat diulang tahun Dhery yang ke-14 aku memberikan dia kejutan yang katanya tidak akan dilupakannya dan itu merupakan kejutan yang istimewa menurutnya. Bagaimana tidak pengorbananku untuk ulang tahunnya itu berbulan-bulan, dari persiapan kado dan party kecil-kecilan yang sudah kurencanakan sama mamanya, selama dua bulan aku menyisipkan setengah uang jajanku untuk membelikan Dhery kado sebuah baju batik dan kue yang bercorak pemain bola favoritnya yaitu Barcelona. Tawa riang Dhery memberikan kepuasan tersendiri buatku, dia begitu bahagia dengan semua kejutan itu.

Hingga hari itu datang, hari di mana Dhery difonis oleh dokter mengidap penyakit kanker darah, aku sebagai sahabatnya tidak bisa menahan sedih dengan kenyataan ini, sosok pria yang tegar, kuat dan humoris ini ternyata mengidap penyakit separah itu. Berawal dari sikap bungkam Dhery yang selalu menyembunyikan rasa sakitnya sehingga menyebabkan penyakitnya bisa separah itu. Tiap kali aku meneteskan air mata di hadapannya tiap kali itu pun dia membentakku dia sangat membenci melihat orang yang disayanginya menangis karena dia, tapi apa aku sanggup melihat sahabatku yang kian hari semakin parah dan kini umurnya pun bisa diperkirakan oleh para dokter yaitu tidak lebih dari 3 bulan.

Tiap kali Dhery menjalani Cemotherapi, dia selalu melarangku untuk menemaninya entah apa alasannya aku tidak pernah diberitahu. Hingga suatu hari Dhery mengijinkanku untuk menemaninya menjalani Cemotherapi, saat ku melihat dhery mulai diperiksa saat itupun ku tahu mengapa Dhery sangat melarangku melihatnya karena dia tidak mau dilihat dalam keadaan kesakitan, tangisku pecah ketika mamanya memelukku, aku tidak sanggup melihat sahabatku menderita seperti itu. Perjalanan pulang Dhery bercerita kepadaku saat pertama kali dia melihat bulan yang berbentuk sempurnah, Dhery sangat menyukai menatap bulan jikalau berbentuk sempurnah karena katanya bulan yang sempurnah sangat damai nampaknya bagaikan hati seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang, Dhery berkata kepadaku kalau dia diberi kesempatan untuk masih bisa hidup hingga ulang tahunku nanti dia akan memberiku kado sebuah bulan berbentuk sempurnah. Saat itu aku menyuruhnya berbalik dan kulampiaskan semua kesedihanku dipundaknya, mamanya yang ikut menangis melihatku hanya bisa merangkulku.

Getaran hendphone ku yang kuat memecahkan konsentrasi belajarku, seketika itu kumendapat kabar Dhery masuk rumah sakit lagi, hingga perasaanku tidak karuan yang kutunggu hanya suara gentingan lonceng, diotak dan hatiku hanya bisa memikirkan ”kuat Uyun kuat kamu bisa lewatin ini semua” seketika airmataku menetes membasahi kertas kosong di hadapanku.

Akhirnya yang kutunggu-tunggu tiba gentingan lonceng berbunyi tanda berakhirnya pelajaran. Aku pun berlari menghampiri kendaraanku dan mengendaraainya menuju Rumah Sakit Cahaya Kasih Sayang. Tiba dikamar rawat Dhery aku melihat tubuhnya penuh dengan alat-alat rumah sakit yang tak tau apa gunanya yang intinya itu adalah alat yang bisa membantu Dhery dalam kesakitannya, dalam ruangan ada Dokter, suster, mama, papa dan embak Nurah kakak satu-satunya Dhery. Mataku merah habis nangis sepanjang jalan, Dhery yang menatapku tersenyum membuat hatiku hancur .

“Tuhan berikan sahabatku kekuatan menjalani semua ini, jangan ambil dia sebelum kubisa menatap bulan bersamanya” suara hatiku tergambar dalam mata Dhery seketika itu Dhery memanggilku dan memberiku sebuah gambar 2 orang anak berlari mengejar bulan. Wajah Dhery yang kesakitan membuatku lemas dan terjatuh, kakak Dhery yang merangkulku dan menyemangatiku untuk tetap tersenyum di hadapan Dhery. Dengan terpatah-patah Dhery memanggil papanya dan menyuruhnya untuk menjadikan sandaran tubuhnya, saat itu kupegang erat-erat tangan Dhery seakan aku tak ingin Dhery pergi ke mana pun. Raut wajah Dhery yang kesakitan membuat kami di ruangan tak henti berdoa hingga Dokter saat itu menuntun Dhery membaca syahadat, Dhery yang dalam keadaan lemah mengikuti ajaran sang Dokter yang tak tau ke mana arah matanya tertuju, papa dan mama Dhery hanya bisa menangis terpaku melihatnya. Suasana menjadi pecah ketika mama Dhery berteriak dan menangis. Dhery telah pergi meninggalkan kami semua.

Meski pun Dhery telah tiada di dunia ini dia akan tetap ada di hati kami semua, terutama aku sahabatnya. Dhery begitu banyak memberiku pengalaman hidup. Dari tidak paham menjadi paham dan dari paham menjadi lebih paham.

Dari sebuah kisah hidup seseorang mengajarkan kita bagaimana cara mensyukuri tiap waktu yang diberikan kepada kita. Hidup di dunia bukan cuman untuk menerima dan disuap, semua itu tidak akan ada artinya jika tidak diiringi dengan memberi. Tanamlah dalam hati kita untuk tetap tersenyum dalam kesakitan dan tetap tegar dalam kerapuhan.


Nama : Nurul Rahmah
FB : nurul_rahma94@yahoo.com
Twetter : @gisminurul
Ditulis oleh Lukas Gentara

Masukkan email kamu untuk mendapatkan update artikel terbaru:

Delivered by FeedBurner