Apr 27, 2012

Cerpen Cinta: DIA TELAH PERGI

Dia Telah Pergi
Oleh Rai Inamas Leoni

Aku menatap sekeliling. Namun sia-sia saja. Tak ada warna lain yang bisa kulihat selain warna putih.

“Maaf..” Ujar seseorang dari belakangku. Buru-buru aku menoleh dan lagi-lagi aku terkesima melihat wajah itu. Wajah pucat yang selalu memandangku dengan rasa bersalah. Perlahan ia tersenyum samar kepadaku lalu pergi dengan langkah tertatih. Aku ingin memanggilnya namun suaraku tertahan. Aku ingin mengejarnya namun kaki ku membeku, seolah seluruh organ tubuhku tidak befungsi sempurna.

***
Cerpen Cinta
“Jangaaan!!!” Aku terbangun dengan nafas memburu. Keringat dingin membasahi baju tidurku. Kulirik jam kecil yang bertengger manis disamping lampu tidurku, 05.30. Aku menelan ludah dengan susah payah. Mimpi itu kembali terulang. Selama seminggu ini bayangan Aldo selalu hadir dalam mimpiku. Aku tidak tau penyebabnya.

Memang akhir-akhir ini aku tak pernah melihat Aldo di sekolah. Walau aku tak begitu mengenalnya namun tiap kali melihatnya di kantin atau perpustakaan aku selalu merasa senang. Mungkin karena kejadian setahun lalu. Saat itu hari kenaikan kelas. Raporku di tahan pihak sekolah karena Mama belum datang mengambil raporku. Mama terlalu sibuk dengan urusan kantor sampai melupakan aku.
Saat itu aku menyadari bahwa aku tidak sendiri. Rapor Aldo juga tertahan karena orangtua Aldo harus mengantar nenek Aldo yang tiba-tiba sakit. Dari sana aku mulai mengenal Aldo. Sambil menunggu orangtua kami datang, aku dan Aldo bertukar cerita. Dibalik wajah pucatnya, Aldo memiliki selera humor yang bagus. Aku selalu tertawa tiap kali ia mulai bercerita. Apalagi jika ia sedang tertawa, mata sipitnya akan tenggelam. Aku menyukai mata itu.

“Sher, kamu mimpi buruk lagi?” Suara mama terdengar khawatir. Saking sibuknya memikirkan Aldo, aku sampai tidak menyadari mama masuk ke kamarku.

“Enggak kok, Ma. Aku Cuma kaget liat jam. Kirain telat bangun, ternyata baru jam setengah enam.” Aku meringis menutupi kebohonganku.

“Ya udah, mama tinggal dulu. Buruan mandi, entar beneran telat ke sekolah lho.” Ucap mama lalu meninggalkan kamarku.

Setelah mama menghilang, aku mengambil handuk putih yang tergantung di depan kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Tiba di sekolah, buru-buru aku menarik Tere, sahabat baikku yang lagi asyik bergosip ria di kantin. Sahabatku ini memang hobby menjadi narasumber gosip.

“Aldo? Maksud kamu Aldo Giovani?” Teriak Tere histeris usai mendengar ceritaku.

“Bisa nggak volumenya dikerasin lagi?” Sindirku kepada Tere.

Tere hanya nyengir mendengar sindiranku. “Hehe. Sori-sori, nggak sengaja. Aku baru tau kamu kenal sama Aldo. Gila, Aldo kan salah satu anak dari donatur sekolah kita. Apalagi dia ganteng, pasti banyak cewek-cewek yang suka sama dia. Tapi anehnya dia nggak pernah punya pacar.” Jelas Tere.

Aku hanya mangut-mangut mendengar penjelasan Tere. Sebenarnya bukan ini yang ingin aku ketahui. Aku ingin tau mengapa seminggu ini Aldo tidak pernah terlihat di sekolah dan kenyataan aku selalu memimpikan Aldo akhir-akhir ini membuat aku merinding. Tiap kali ia hadir dalam mimpiku, ia hanya mengucapkan kata maaf. Seolah-olah ia akan pergi jauh.

“Gimana kalau pulang sekolah kita ke rumah Aldo? Alamatnya kita cari di Ruang TU. Terus buat info-info lain aku tanya ke Mika. Kamu masih inget Mika kan, Sher? Itu lho temen kita kelas XI. Mika kan sekarang sekelas dengan Aldo.” Ujar Tere semangat.

Aku menatap Tere dengan pandangan ngeri. Tere memang paling semangat kalau diajak berpetualang mencari berita seperti ini. Dan yang lebih membuatku ngeri, Mika kan terkenal ratu gossip gadungan. Semua perkataannya tidak ada yang benar. Mika terlalu mengada-ada jika menceritakan suatu cerita.

***
Aku menatap kosong ke depan. Aku terlalu lelah untuk mengingat kejadian kemarin saat aku dan Tere berkunjung ke rumah Aldo. Berbekal info dari Mika yang mengatakan bahwa Aldo tidak sekolah karena sedang ijin untuk berobat. Lalu Mika menjelaskan bahwa Aldo mengidap penyakit kelainan jantung sejak kecil. Tiap kali kelas Mika berolahraga hanya Aldo yang tidak pernah menggenakan baju olahraga sekolah. Aldo memang tidak boleh berolahraga karena akan mengganggu kesehatan jantungnya.

Awalnya aku dan Tere tidak percaya akan omongan Mika. Hanya orang tolol yang percaya dengan perkataan Mika yang terlalu menghayal. Sayangnya kali ini aku harus mengakui bahwa aku merupakan salah satu dari sekian banyak orang tolol yang percaya dengan perkataan ratu gossip gadungan itu.

Aku masih ingat bagaimana keterkejutan Tere saat melihat rumah Aldo yang besar dan memiliki taman yang indah. Aku juga masih ingat saat Bik Suni, orang yang mengasuh Aldo sejak kecil mengatakan bahwa Aldo sedang koma di salah satu rumah sakit elit karena komplikasi yang dialaminya saat menjalani transpalasi jantung.

Perlahan wajahku mulai memanas, mataku mulai terpenuhi dengan butiran kristal yang siap meledak kapan saja. Buru-buru aku mengerjap dan membiarkan butiran kristal itu tertelan oleh mataku. Berhasil! Akhirnya air mata itu tidak berlinang lagi. Cukup saat mendengar perkataan Bik Suni saja aku meneteskan air mata. Itu pun hanya sebentar.

“Aldo sedang koma tapi bukan berarti ia akan pergi jauh. Ia pasti berhasil melewati masa kritis itu.” Ucapku dalam hati.

“Kakak, jangan!!!” Aku merasa tanganku ditarik oleh seseorang dengan keras. Sedetik kemudian motor sport melaju dengan kencang melewati diriku.

“Kakak kalau jalan jangan ngelamun. Hampir aja ketabrak. Untung ada aku.” Ucap gadis kecil itu.

Ternyata gadis kecil itu yang menolongku. Umurnya mungkin berkisar 8 tahun, setengah dari usiaku saat ini.

“Maaf ya, kakak lagi nggak fokus tadi. Makasi udah mau nolong kakak.” Aku tersenyum kecil. “ Nama kamu siapa?” Tanyaku kemudian.

“Fanny. Sebenernya aku nolong kakak karena orang itu.” Fanny menunjuk di sampingku. Namun aku tidak melihat siapa-siapa. “Kakak nggak bakal lihat orang itu karena kakak tidak mempunyai kemampuan seperti aku.” Ucap Fanny bangga.

“Disamping kakak? Kemampuan seperti kamu?” Aku mulai bingung dengan perkataan Fanny.
Fanny lalu memandang sesuatu yang berada di sebelah kiri ku. Perlahan ia mulai mengangguk.

“Cowok yang disamping kakak bilang kalau dia bersyukur bisa kenal kakak dan baginya kakak adalah malaikat kecilnya.” Fanny pun memulai ceritanya. Aku hanya mendengarnya dengan tatapan setengah percaya. Kemudian Fanny pun meminta aku untuk memejamkan mata sejenak.

“Sebentar aja. Heningkan pikiran kakak dan dengar apa yang ingin kakak dengar.” Nasehat Fanny. Dengan setengah hati aku memejamkan mata namun aku tidak merasakan bahkan mendengarkan sesuatu . Lalu sedetik kemudian aku merasa ada seseorang berada di sampingku.

“Hai Sherly, lama tidak bertemu. Aku baru sadar kalau waktu ku telah habis dan kenyataan bahwa karena dirimu aku mampu bertahan sampai detik ini. Untuk itu aku mengucapkan terima kasih.” Perlahan suara itu tidak terdengar. “Namun cerita tidak bisa ditawar lagi, Tuhan telah mengatur semua ini. Berjanjilah mulai besok kau akan mencari kebahagiaan mu dan juga mama mu. Dengan begitu aku bisa tersenyum melihatmu dari surga. Terimakasih karena telah mengajariku sesuatu yang dulu mustahil untuk aku terima. Ketahuilah sejak penerimaan rapor setahun yang lalu aku mulai menyukaimu. Dan maaf karena mulai besok kita tidak bisa bertemu lagi di perpustakaan..”
Aku masih terdiam menunggu suara itu berbicara lagi. Namun lama kelamaan hanya keheningan yang terdengar. Kubuka mataku secara perlahan. Kulihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Fanny sudah ada diseberang jalan, ia melambaikan tangannya kepadaku. Aku tak mampu membalas lambaian Fanny saking terkejut mendengar suara tadi. Itu suara Aldo! Mataku terasa perih karena air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. Seperti orang kesetanan, aku menutup telingaku kuat-kuat lalu jatuh terduduk diatas trotoar sambil menahan tangisku. Aku mulai berteriak memanggil nama Aldo tiada henti.

***
Aldo menatap nanar dirinya yang terbaring lemah di ruang ICU. Lima belas menit yang lalu ia dinyatakan meninggal kerena tidak mampu melewati masa koma. Sebenarnya ia tau akan berakhir seperti ini. Namun karena Sherly ia bertahan seminggu dalam masa kiritis.

Aldo merasa ada suatu hal yang harus diucapkannya sebelum meninggalkan gadis itu dengan tenang. Bahwa sejak setahun lalu Aldo mulai menyukai Sherly. Melihat keikhlasan Sherly terhadap Papa-nya yang menikah lagi dengan wanita lain membuat Aldo menyadari keegosiannya selama ini. Sejak saat itu Aldo mulai berdamai dengan kenyataan bahwa kelak dirinya akan meninggal lebih dahulu dibandingkan manusia normal lainnya.

“Terima kasih, Sherly..” Ucap Aldo lirih lalu perlahan menghilang bersama cahaya putih.
***


Nama : Rai Inamas Leoni
TTL : Denpasar, 08 Agustus 1995
Sekolah : SMA Negeri 7 Denpasar
Blog : raiinamas.blogspot.com
Twitter : @RaiInamasLeoni
Cerpen sebelumnya : Kenapa Bukan Aku?, Me and My Best Friend, Sebuah Janji dan My Valentine.