Mar 23, 2012

Cerpen Cinta: CINTA TAKKAN USAI

CINTA TAKKAN USAI
Oleh: Efih Sudini Afrilya

Masih belum bisa kulupakan memory 5 tahun yang lalu, pria yang sampai saat ini membuatku selalu memikirkannya. Bukan hanya itu, sampai saat ini aku masih mengharapkannya. Dia bukan pria yang sempurna, tapi dia mampu mengunci rapat hatiku.

CINTA TAKAN USAI
CERPEN CINTA TAKAN USAI
Lima tahun yang lalu, aku benar-benar yakin dan berani mengklasifikasikan perasaan yang kumiliki ini sebagai gejala jatuh cinta. Untuk yang pertama kalinya aku berani menyatakan perasaan pada seorang pria. Pada saat hari valentine, aku memberikan sebatang coklat dan sepucuk surat tanpa identitas pengirim. Siang malam aku memikirkan reaksi dia saat menerima coklat dariku, apa bahagia atau marah. Kerena aku tau betul, saat itu dia memiliki kekasih.

Tidak ada yang bisa kulakukan setelah itu, hanya menunggu hingga saatnya dia tau siapa wanita pengecut yang telah memberinya coklat dan surat saat valentine. Hingga harapanku hampir musnah ketika aku melihat dia sedang bersama kekasihnya. Aku hanya bisa menangis dan berusaha mengubur cintaku dalam-dalam. Tapi rasanya sangat sulit, semakin aku berusaha melupakan dia, semakin sakit hatiku.

Hingga suatu malam aku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak aku kenal, dan ternyata itu dia. Aku sangat bahagia saat itu, tidak kuduga pria itu bisa menghubungi aku. Setelah itu kami sering mengirimi pesan, rasanya seperti di surga bisa berhubungan dengan pria yang kucintai. Meskipun aku tau dia masih memiliki kekasih.

Lama setelah itu, dia mengungkapkan perasaan sayangnya padaku, tapi hanya sebatas sayang dari seorang kaka pada adiknya. Aku tidak bisa melupakan kata-kata itu, setelah sekian lama aku mencintainya, dia hanya menganggapku adik saja. Aku tidak bisa terus-terusan memendam perasaanku, hingga suatu saat aku meminta dia untuk melakukan suatu hal yang bisa membuatku membencinya. Dan dia benar-benar melakukannya, dia menghilang begitu saja dan tidak pernah menghubungiku. Sampai saat ini.

Dan sampai saat ini, aku masih mencintainya.

Efih Sudini Afrilya