Mar 26, 2012

Cerpen Pilihan: Rain In The Summer

Rain In The Summer
Oleh: Meyzira

“Jika kamu tak berusaha mewujudkan mimpimu sendiri, maka kamu akan menghabiskan hidupmu hanya untuk melihat orang lain mewujudkan mimpinya.”

Sudah dua hari dua malam aku menghabiskan waktuku untuk mencari bahan buat sosialisasi. Sebenarnya temanya tuch kinclong banget “Sukses itu adalah Saya”. Pasti keren banget. Tapi nyatanya nyari bahannya tuch susahnya setengah mati. Dari perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, sampai minjem buku sama temen-temen. Tapi nggak apa-apa sich. Namanya juga calon dosen. Ya harus berjuanglah. Karena sedang asyik aku cari bahan, sampai-sampai semua orang yang nelpon aku, yang masuk ke kamar aku hampir semuanya aku marahin. Hingga tiba-tiba telepon aku berdering dan ku angkat dengan marah.

Rain In The Summer
“Nggak usah ganggu. .”

Dan ternyata yang nelpon tadi tuch nyokap aku. Waduh..bisa-bisa aku dimarahin nih. Jangan-jangan nanti aku mau dipindahin ke panti asuhan akibat galak sama orang tua. Ternyata dugaan aku meleset, aku cuma dimarahin aja nggak sampe dibuang ke panti asuhan. Namanya juga orang tua, pasti nggak mungkin mindahin anaknya ke panti asuhan.

“Lain kali periksa dulu orang yang telpon kamu itu. Jangan langsung diangkat,” kata mama.

“Maaf deh, ma. Habisnya aku tuh sibuk banget. Nggak sempet jadinya ngeliat siapa yang telpon,” jawab aku menyesal.

“Kalah deh sibuknya presiden sama walikota,”

Aku cengengesan. Nggak tahu lagi harus ngomong apa. Akhirnya aku minta izin mama untuk ke kamar. Daripada dengerin nasihat nyokap yang panjangnya tuh sampai satu jus Al-Qur’an, mending aku ke kamar buat tidur yang nyenyak. Apalagi besok harus siapin mental untuk sosialisasi biar nggak malu-maluin. Sebenarnya aku pengen banget nulis di kertas bahan-bahan untuk sosialisai. Tapi nggak keren banget kan kalo ngomongnya sambil bawa-bawa kertas. Mending dihapalin, biarin aja tuh bahan sampai segunung banyaknya. Karena sudah semakin ngantuk akhirnya aku pun tidur.

“Rintangan apapun akan bisa kamu lewati jika kamu memiliki keyakinan. Kamu kuat karena kamu yakin. Kamu lemah karena kamu ragu.”

Esok hari dengan gagahnya aku ke SMA tempat kami sosialisasi. Namanya SMA Nusa Bangsa. Salah satu SMA yang terkenal karena beken dan pintar-pintarnya murid disini. Ketika sampai ku lihat sekeliling. Wah..besar banget nih sekolah. Pasti perpustakaannya besar dan lengkap. Masih aja kepikiran perpustakaan. Nih otak perlu diasah lagi untuk mengingat bahan-bahan yang sudah dihapal semalam. Kami para dosen UI (aku sih baru calon dosen) dipanggil kepala sekolah SMA itu dan langsung disuruh sosialisasi. Lalu kami semua dan murid kelas XII disuruh ke Aula. Di tempat itulah kami memulai sosialisasi kami.

Satu persatu dari kami mulai memperkenalkan diri. Namaku sendiri adalah Liana Maridhia. Biasa dipanggil Lia. Lalu kemudian menjelas tujuan kedatangan kami kesini. Aku yang bertugas menjelaskan materi karena aku sedang diuji untuk jadi dosen. Lalu kata demi kata aku sampaikan. Kalimat demi kalimat aku terangkan. Hingga pada akhirnya suatu hal yang lucu terjadi.

“Apa kalian mau menjadi sukses?” tanyaku semangat.

“Mau donk kak,” semua bersorak.

“Ingat dek, orang yang dikatakan sukses itu belum tentu orang yang banyak uang. Seseorang yang dikatakan sukses itu ketika apa yang diinginkannya tercapai. Sukses tersebut sudah ada pada diri kita sendiri tergantung kita yang mengolahnya. Sukses juga bukanlah suatu yang diraih dengan uang. Tanpa uang juga bisa.”

Lalu ada satu orang yang mengangkat tangan untuk memberi tanggapan.

“Selamat siang kak. Namaku Rahmat Adi. Aku mau memberi tanggapan. Tadi kan sudah dijelaskan orang yang dikatakan sukses itu bukan orang yang banyak uang. Tapi kita juga perlu uang untuk meraih hal yang kita anggap sukses itu. Berarti kita juga harus banyak uang donk.

“Iya. Tapi uang itu bukanlah suatu yang utama. Sukses itu nggak bisa ditulis, tapi harta bisa ditulis. Harta itu bisa habis, tapi kesuksesan bisa untuk mencari harta.

“Tapi ujung-ujungnya tetap uang kan?” Tanya Rahmat.

“Kalo ujung-ujungnya tetap uang tidak juga. Kita sukses bisa menghasilkan teman. Jika kamu berpikir harta yang utama, apa harta bisa buatmu bahagia? Pintar-pintarlah kamu dalam memakai uang ataupun dirimu. Jika uang telah membeli harga dirimu juga egomu, ketika itulah kamu akan lupa siapa dirimu.”

“Tapi untuk menuju kebahagiaan, kita perlu uang apa tidak?”

“Waduh, masih uang juga yang ada dipikiran kamu. Kebahagiaan juga bisa didapat dari orang di sekitar kita. Contohnya: kasih sayang dan cinta bisa membuat bahagia. Coba kamu berpikir produktif. Kamu saja tidak mau menunjukkan siapa diri kamu, kenapa kamu terlalu menuntut yang terbaik. Apa kamu sudah paham?”

“Iya. Terima kasih kakak.”

Kulihat anak itu tertawa. Kelihatannya dia emang sengaja buat aku harus panjang lebar menjelaskannya. Aku emang hampir kelabakan menjawab pertanyaan dari dia. Untung saja aku sudah menyiapkan beribu bahan untuk sosialisasi ini. Setelah selesai, aku menuju kantin untuk beli minuman dan duduk di salah satu meja kantin. Kulihat anak yang tadi menghampiriku lalu berkata.

“Terima kasih, kak atas penjelasannya tadi. Aku puas banget.”

“Iya..iya sama-sama,” aku menjawab seadanya lalu bergegas pergi. Dia masih tersenyum melihatku. Memang perbedaan umur kami tidak terlalu jauh. Aku masih berumur 21 tahun. Kemungkinan umur dia sekitar 18 tahun. Jadi dia seenaknya mengerjaiku. Ah.. lebih baik aku pulang saja daripada mikirin dia.

“Jika kamu menilai seseorang hanya dari penampilannya, kamu akan kehilangan banyak kesempatan bertemu orang-orang yang hebat.”

Esok harinya lagi, nyokap menyuruhku pergi ke supermarket membeli bahan untuk membuat kue. Dengan sepeda motorku, aku melaju dengan cepat. Layaknya miss Indonesia lewat. Ada-ada saja khalayanku. Ketika sampai, aku lalu masuk dan mencari barang-barang yang akan dibeli. Sekitar setengah jam aku berkeliling, akhirnya selesai juga. Aku pun menuju kasir dan pulang.

Tapi ketika akan menaiki motor. Kulihat seorang cowok sedang mengamen. Tapi setelah aku memperhatikan dengan seksama, rasanya aku mulai mengenali cowok tersebut. Ternyata dia adalah Rahmat. Anak yang kemarin aku temui pas acara sosialisasi. Ku urungkan niat untuk pulang. Aku lalu mengikutinya secara diam-diam. Sampai ke ujung jalan persimpangan, dia duduk di sebuah kursi taman. Aku lalu mendekatinya, lalu duduk disebelahnya. Dia terkejut lalu kemudian tenang dan tersenyum.

“Aku kira kamu anak orang kaya karena sangat terobsesi sekali dengan uang,” aku berkata dengan nada nggak enak hati.

“Ah..nggak gitu juga. Makanya jangan menilai orang dari penampilan. Hihihihi..”

“Kok jadi kamu yang nasehatin aku?” aku sewot.

“Hahaha.. semua orang juga pasti pernah salah, jadi buat apa marah kalau dinasihatin,”

“Lalu kenapa waktu itu, kamu nanya kayak gitu?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum lalu melihat ke arah langit. Lalu melihat sekeliling tempat kami duduk. Sepertinya ia mencari suatu jawaban. Ketika ada mobil mewah lewat di depan kami, dia menunjuk mobil itu.

“Lihat! Itu jawabannya,” Aku bingung. Dia melihatku dan mencoba menjelaskan lagi.

“Mereka itu orang kaya, kan! Kebanyakan orang kaya disini lebih mementingkan uang. Di mata mereka slalu yang nomor satu adalah uang. Kadang mereka sama sekali tidak memperdulikan orang miskin, anak jalanan, ataupun anak yatim yang meminta makanan. Mereka cuma bisa marah-marah dan mengusir orang-orang seperti itu. Padahal di dunia ini tuh uang bukanlah segalanya. Yang terpenting seberapa besar kebahagiaan yang kita beri untuk orang lain dengan rasa ikhlas dan tulus,”

Aku takjub. Kurasa aku sudah mulai mengerti. Ternyata dibalik sifat jahilnya, ada sebercik kemuliaan dan kepedulian di dalam dirinya. Aku tersenyum memandangnya. Kulihat wajahnya mirip sekali dengan orang-orang yang berwatak bijaksana. Walaupun penampilannya seperti anak begajulan, ternyata otaknya cerdas banget.

Hari semakin siang. Aku teringat bahwa aku harus pulang mengantar barang-barang yang sudah kubeli. Lalu kutawarkan untuk mengantar dia pulang. Dia mengangguk. Di perjalanan kami mengobrol bersama. Asyik juga ternyata orangnya. Kami sempat bertukar nomor handphone. Ketika sampai, aku melihat rumahnya. Ternyata dia anak yang kurang mampu. Kulihat ibunya sedang duduk di teras. Lalu aku pun tersenyum kepada ibunya. Dia mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarnya pulang. Aku cuma tersenyum lalu mengangguk kemudian bergegas pulang ke rumah.

“Kadang kita lupa, bahwa untuk melihat diri kita, jalan terbaik adalah melalui mata orang lain”

Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berjalan. Tak terasa kami sudah berteman dekat. Hingga pada akhirnya kami berdua pun berpacaran. Aku yang dulunya paling benci berpacaran dengan anak kecil akhirnya bisa luluh juga oleh anak kecil. Tak terasa sudah hampir lima bulan kami berpacaran. Tiba-tiba ada suatu konflik yang terjadi. Rahmat melihatku pergi dengan seorang cowok. Padahal cowok itu sepupuku sendiri. Dia marah besar. Dia protes kenapa nggak sama dia saja aku pergi. Aku coba menjelaskan kepada dia, tapi dia tetap tak mau mengerti.

“Ayolah, Mat. Tolong ngerti. Itu cuma sepupu aku. Berhentilah marah-marah dan ubahlah sikap kamu itu. Dari dulu sampai sekarang aku yang slalu ngalah sama kamu. Kamu nggak pernah ngalah sama aku. Aku sudah capek, tau nggak.”

Hari itu habis sudah kesabaranku. Aku kesal karena dia tak pernah mau mengerti. Rahmat itu orangnya sensitive banget. Dikit-dikit marah. Padahal dulu dia nggak seperti itu. Aku pengen banget dia berubah kayak dulu lagi.

Sudah dua hari aku bertengkar dengannya. Dan sejak pertengkaran itu kami nggak pernah berkomunikasi lagi. Smsan juga nggak pernah. Aku sedih. Sebenarnya aku ingin sekali minta maaf. Tapi karena gengsiku yang tinggi, ku urungkan niatku untuk minta maaf. Aku tunggu aja dia buat minta maaf. Untuk menghilangkan rasa sedihku, aku pergi keluar. Aku pun melaju ke pantai. Kemudian, aku duduk di sebuah pondok. Hari itu panas sekali. Karena memang sedang musim panas. Aku pengen banget Rahmat ada disini. Aku rindu dengannya. Tolong berubahlah Rahmat. Kalaupun bukan demi aku, berubahlah demi kebaikan dirimu dan hubungan kita. Aku menunduk mencoba berpikir apa yang harus aku perbuat. Tiba-tiba aku mendengar suara cowok yang sedang bernyanyi.

Aku tau ku takkan bisa..
Menjadi seperti yang engkau minta..
Namun selama nafas berhembus..
Aku kan mencoba..
Menjadi seperti yang engkau minta.

Aku tersentak. Ketika kulihat ternyata Rahmat yang bernyanyi sambil bermain gitar. Rasanya aku pengen banget nangis. Karena saat aku sedang merindukannya, dia datang kepadaku. Sesaat yang bersamaan, hujan turun dihari yang cerah itu. Ku keluarkan air mataku, aku menangis bersama hujan. Perlahan-lahan dia menghampiriku. Aku berdiri. Dia menghambur memelukku lalu berkata.

“Terima kasih telah memberiku air mata kebahagiaan ini. Maafkan atas perbuatanku yang kemarin. Aku sangat menyayangimu. Aku tidak akan mengulanginya lagi

Aku tersenyum bahagia. Dibalik hujan aku menangis. Sehingga tidak seorangpun akan melihat aku menangis. Kecuali pacarku yang satu ini. Selalu tau apa aku sedang menangis atau tidak.

“Tiga hal yang tidak pernah terlambat untuk dilakukan: mencintai, memaafkan, dan memperbaiki diri.”


Nama : Meyzira
alamat fb: Opanwizzkid@yahoo.co.id
Cerpen lainnya karya Meyzira bisa dibaca dalam Sampaikan Kepada Tuhan Seuntai Kata Sayang.