Cerpen Cinta: Pengkhianatan Terdalam

Bersama Sukses
Pengkhianatan Terdalam
Oleh:  Erni Nuraeni

Semilir angin yang begitu bergeloma menyelimuti hatiku yang sejuk. Aku tak terdiam, pikiranku penuh dengan panorama cinta. Begitupun raut wajahku yang biasanya melambangkan rasa  pilu dan bimbang, kini tiada lagi. Angan-anganku menerawang di tepian syurga. Ingin kulukis nama dan wajahnya di lubuk hati ini, seakan tak ada orang yang dapat memilikinya selain aku. Saat pertama bertemu dengannya, sungguh tak ada kesan yang dapat aku raih, namun waktu terus berganti hingga kini hanya dialah yang dapat membuat hatiku bergelora bak lembayung senja. Rindu terus berkilauan bagaikan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Walau aku jauh darinya, namun dalam gemerlap malam dan penjuru rumah yang kini kusinggahi, aku selalu merasa berada di sampingnya. Di tengah kerinduan ini, aku sangat terkejut karena tiba-tiba saja aku mendapat sebuah pesan singkat (sms) dari lelaki idamanku, dia bernama Kevin.

Cerpen Cinta: Pengkhianatan Terdalam

Kala kumenatap bola matamu yang indah, kutemukan sebuah nuansa bening dalam dirimu. Kegalauan yang begitu dalam, kini kusirami dengan benih-benih cinta. Dan aku ingin mengungkapkan seluruh perasaan ini padamu. I love you Regita..  

Saat aku membaca pesan tersebut aku tak dapat berkata-kata, sang kalbu melayang di udara dan hatiku terbang ke penjuru angkasa. Ku terlalu bahagia karena orang yang sangat kucintai juga mencintaiku. Ada angin apa Tuhan? Aku yang lemah seakan bangkit karenanya. Ku tak ingin mengalah, aku pun segera membalas pesannya dengan kata-kata yang tak jauh berbeda. 

Kau memang bukanlah suatu keajaiban yang bisa membuat bumi berkilau indah, namun hati kecilku berkata bahwa kau adalah sebuah mukjizat yang tak tertandingi oleh apapun di dalam hidup dan jiwaku. I love you too Kevin.

*
Malam mulai berganti menjadi pagi. Kini aku dan Kevin bukanlah teman biasa lagi, melainkan sebuah pasangan kekasih yang sangat serasi. Aku yakin bahwa aku layak menjadi kekasih terakhirnya sampai maut memisahkan kita berdua. Teman-teman di sekolah pun mendukung hubunganku dengan dia, termasuk sahabatku yang bernama Silvi.
“Hey Kak Regitaaaaaaaaaaaa alias kakakku yang sangat baiiiiiiik!” sahut Silvi dengan suaranya yang sangat lantang.
“Ada apa Sil?” jawabku singkat.
“Aku mau tanya nih, Kakak jadian ya sama Kak Kevin? Ciyeeeee… longlast ya kakakku. Aku turut bahagia lho, semoga hubungan kalian bisa bertahan sampai ajal menjemput ya Kak,” kata Silvi dengan senyum semangatnya.
“Iya adikku sayang, makasih ya. Kakak juga berharap seperti itu…” jawabku.
“Oh iya Kak, ini ada hadiah dari Kak Kevin, katanya hadiah ini spesial untuk Kak Regita. Dia menitipkannya padaku,” kata Silvi sambil memberikan hadiah itu.
“Makasih Sil, aku terima hadiah ini.”
Dengan perbincangan yang cukup lama dan lonceng sekolah yang telah berbunyi kencang, aku bergegas pulang dengan Silvi. Sesampai di rumah, handphone-ku bergetar dan suara getaran itu seakan membuat tubuhku terguncang. Setelah aku mengambil handphone dari dalam saku rok abu-abuku, ada sebuah panggilan masuk dan ternyata Kevin meneleponku. Aku pun mengangkat telepon tersebut dan berbicara panjang lebar dengan dia. Walaupun hanya sebatas berkomunikasi melalui perantara, namun aku merasa sedang berada disampingnya, benih-benih cinta ini seakan merasuki hidupku.
“Sayang, apakah hadiah dariku sudah kamu buka?” tanya Kevin.
 “Hadiah? Ya ampun Kevin, aku lupa. Ya sudah, sekarang aku akan membukanya,” jawabku.
Sifat lupa ini memang sering menaungi pikiranku. Aku segera mengambil tas dan membuka hadiah yang telah Kevin beri padaku. Dan ternyata di dalam sebuah kado yang berwarna merah muda itu, aku menemukan sebuah kalung liontin dan sehelai kertas dari Kevin yang bertuliskan:
Tolong jaga kalung ini Regita sayang, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu selamanya.
Rasa terimakasihku mungkin cukup untuk Kevin. Saking bahagianya hati ini, rasanya aku ingin membawa dia terbang melewati langit ke tujuh agar dia tahu bahwa hatiku sangat berbunga-bunga.
*
Bila aku sedang merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam, semua rasa bahagia itu pasti kucurahkan pada sahabat terdekatku yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, dialah Silvi. Apapun isi hatiku, seburuk dan sebagusnya perasaanku, semuanya selalu kucurahkan pada Silvi.
“Kakak… hadiah dari Kak Kevin itu apa isinya? Aku boleh tahu nggak?” tanya Silvi.
“Ya boleh dong anak manis, kamu kan sahabatku. Lihat ini!” jawabku sambil menunjuk ke arah kalung yang dipakai di leherku.
“Waaaah… cantik sekali kalungnya. Liontin ya Kak? Di kalung itu pasti ada foto Kak Regita dengan Kak Kevin kan? Hihi…” tanya Silvi dengan senyum dan tawanya yang nakal.
“Hahaha iya Sil, kamu tahu aja.”
            Aku tak pernah takut untuk bercerita kepada Silvi, karena dia selalu menjaga semua rahasiaku. Dari mulai rahasia terkecil sampai rahasia terbesar pun dia tak pernah mencoba membocorkannya. Begitu pula aku yang sering mendengarkan curahan hati Silvi tentang lelaki yang dicintainya walaupun dia tidak pernah memberi tahu siapa nama lelaki itu. Kita sudah saling percaya satu sama lain. Dan kita yakin, tak ada hal yang lebih erat selain persahabatan.
*
            Hubunganku dengan Kevin kini menjadi sebuah trending topic di sekolah. Begitu bahagianya diriku walaupun sempat malu juga karena hampir semua guru tahu tentang hubungan ini. Saking banyaknya orang yang mendukung hubungan kita, nama Regita dan Kevin telah terpampang dimana-mana, di majalah dinding, di tembok kelas, di bangku, bahkan di tembok toilet. Semua itu sangat mengesankan bagiku, begitu pula Kevin yang selalu memukul manja bahuku jika orang-orang di sekitar membuat berita positif tentang kita. Entah mengapa, jika aku berada di samping Kevin, dia selalu menatap mataku dengan anggun.
“Kevin, jangan menatapku terus dong. Aku jadi malu,” kataku.
“Hahaha maaf Regitaku, mata kamu terlalu indah bagaikan sinar mentari yang tak kunjung sirna..” jawab Kevin dengan sedikit gombalan.
“Oh iya, bolehkah aku mengajakmu ke pesta ulang tahun pernikahan kakakku? Kamu harus ikut karena keluargaku ingin melihatmu,” lanjutnya lagi.
“Siap Kevinkuuuuuu, tapi apakah aku boleh mengajak Silvi? Boleh kan? Boleh kan?” tanyaku menggerutu.
“Nggak!” jawabnya ketus.
Aku sedikit kecewa karena Silvi tidak diizinkan ikut oleh Kevin. Tapi aku memberi tahu Silvi bahwa aku akan pergi ke pesta dengan kekasihku itu.
“Sil, malam ini aku ada acara dengan Kak Kevin. Kalau kamu tidak ikut, tidak apa-apa kan?” tanyaku.
“Ciyeeeeee sambil satnite ya Kak? Iya Kak tidak masalah…” jawab Silvi.
Malam yang tak suram dan sang rembulan yang hangat menemaniku tuk pergi ke tempat dimana aku dan keluarga Kevin akan merayakan pesta ulang tahun pernikahan kakaknya. Tak kusangka, Kevin telah menjemputku dengan sebuah mobil yang mewah. “Regitakuuuuu ayo sini… keluargaku sudah sampai di tempat tujuan. Mereka sedang menunggumu disana!!!!” teriak Kevin dengan suaranya yang sangat lantang sehingga membuat gendang telingaku hampir pecah. Aku segera menghampiri Kevin, kulangkahkan kedua kakiku dengan perlahan layaknya seorang permaisuri yang sedang berjalan. Lalu Kevin menarik ulur tanganku untuk memasuki mobilnya.
Kini aku telah sampai di tempat tujuan, tepatnya di rumah Kakak Kevin. Mereka menyambutku dengan riang.  Aku pun tersipu malu karena hanya keluarga besar Kevin yang berada disana, sedangkan hanya aku sendiri yang bukan bagian dari mereka. “Eeeeeh… calon menantuku yang sangat cantik sudah datang, sini nak…” sapa ibunya Kevin. Karena rasa malu yang kian hinggap didadaku, aku hanya bisa mengangguk dan membalas sapaannya dengan senyuman manis. Saat aku berkenalan dengan semua anggota keluarga Kevin, aku tersanjung melihat keharmonian dan kasih sayang mereka terhadapku. Semua orang yang berada di tempat itu sangat mendukung dan menyetujui hubunganku dengan Kevin.
Sebelum ke acara inti, Kevin mengajakku ke taman yang berada di dekat rumah kakaknya. Aku sempat terdiam dan bingung, “Kevin, untuk apa kau bawa aku kesini?” tanyaku. “Tenang saja Regitaku tersayang, aku mengajakmu kesini hanya untuk memberikanmu setangkai bunga mawar, sebuah boneka, dan sebuah kue blackforest. Tolong ambil hadiah ini...” jawab Kevin sambil menggenggam tanganku. Aku tak kuasa menahan semua keindahan ini, kalimat terimakasihku kepada Kevin pun terucap lagi dimulutku.
Di tengah acara pesta yang sangat meriah dengan perasaan bahagia ini, tiba-tiba saja aku mendapat sebuah telepon dari ibunya Silvi, dan aku mendengar ucapan ibunya bahwa Silvi jatuh sakit. Aku syok dan rasa khawatir ini mencekamku. Kuputuskan saja pada Kevin bahwa aku akan pulang untuk menjenguk Silvi. “Kevin maaf aku tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai dan aku akan pulang karena Silvi jatuh sakit disana. Tolong salamkan pada semua anggota keluarga besarmu!” kataku. Dengan perasaan kecewa, Kevin pun menjawab, “ta..ta..ta..tapi Regi, Regitaaaaaaaa tungguuuuuu! Acara ini belum selesai dan masih banyak kejutan untukmu!”
Aku berlari cepat seperti meteor yang menghadang gelap. Disana tidak ada satupun taksi atau angkutan umum, terpaksa aku berlarian walaupun kakiku sakit karena sandal high heel yang sedang  aku pakai terputus sehingga aku berlari tanpa menggunakan sandal. Aku tak perduli kakiku tertusuk benda apapun, yang terpenting aku bisa menjenguk sahabatku. Dengan rasa gelisah yang tinggi, ternyata aku lupa membawa semua hadiah yang diberikan oleh Kevin. Walaupun cucuran air mata menerpa pipiku, aku tak perduli lagi dengan semuanya. Aku hanya ingin menjenguk sahabatku yang sedang sakit. Apapun akan aku lakukan demi sahabat terbaikku.
Kini aku telah sampai di rumah Silvi. Aku sudah tak kuat lagi, karena perjalanan tadi sangat jauh sehingga kakiku terluka berat. Aku bertanya pada Silvi, “Sil, kamu sakit apa? Aku tidak mau kamu sakit, aku ingin kamu cepat sembuh. Tolong jaga kesehatanmu adikku sayang, aku tidak mau kehilangan sahabat terbaik seperti Silvi.”  Aku menangis dan terus menangis melihat keadaan Silvi.  “Kak, aku tidak kenapa-kenapa, kakak jangan sedih. Sakit kepala ini timbul karena aku sedang sakit hati saja dengan orang terdekatku. Kakak tenang yaaa…” jawab Silvi dengan lembut. Aku bingung, siapakah orang terdekat Silvi? Kenapa dia tidak pernah bercerita? Hatiku menggumam, tapi syukurlah kini perasaanku agak lega. Silvi tidak tahu bahwa aku rela melukai anggota badanku hanya demi menjenguk dia.
Aku sangat bahagia mempunyai sahabat sejati seperti Silvi, dan aku juga sangat berterimakasih kepada Allah SWT yang telah menciptakanku sehingga aku dipertemukan dengan kekasih yang baik seperti Kevin. Kevin telah memberikan apapun kepadaku dan aku juga sering menemaninya, membantu untuk mengerjakan tugas sekolahnya dan membawakan dia sebuah kue buatan ibuku. Hubunganku dengan Kevin tidaklah sia-sia. Hal itu membuatku semakin yakin bahwa aku terlahir untuknya. Cinta kita takkan hilang di telan waktu dan hanya dialah cinta pertama dan terakhir untukku sampai akhir khayat, sampai ajal menjemput.
*
Pada suasana yang sangat berbeda dan aku tak tahu mengapa ini bisa terjadi kepadaku. “Kakak… Kak Regi… Kak Regitaaaaaa! Sadar Kak, sadarlah!” teriak Silvi dengan suara kencangnya sambil menggoyahkan badanku. Aku terbangun dari lamunanku yang panjang. “Dimana aku?” tanyaku kebingungan. “Kakak dari tadi aku panggil kok malah melamun saja? Kita sedang di rumahku, Kak..” jawab Silvi. “Melamun? Jadi yang baru saja aku alami itu hanyalah bayangan? Tidak mungkin!” tanya hatiku yang telah sadar.  Ya Tuhan, apakah maksud dari semua ini? Ternyata itu hanya lamunanku, semua yang terjadi barusan memang hanya bayangan saja. Dari mulai Kevin menyatakan cintanya, memberi hadiah padaku, ketika aku diajaknya pergi berpesta, dan semua pengalaman itu ternyata hanya seberkas kisah masa lalu yang telah aku jalani dengan Kevin. Kita sudah menjalaninya selama satu tahun. Aku kira ini memang terjadi lagi, namun dunia berkata lain. Dan sungguh ku hanya bisa menangis.
“Kakak melamunkan apa? Sampai-sampai dalam waktu satu jam Kak Regita tidak sadar. Kenapa Kak? Kenapa?” tanya Silvi dengan rasa herannya.
“Sil, barusan aku mengingat masa laluku yang indah dengan Kevin. Dan aku kira semua ini sedang terjadi kepadaku, tapi ternyata semua hanya lamunan saja. Sungguh menyedihkan Sil, aku tak kuat...” jelasku dengan diiringi air mata yang menderu.
“Sudah Kak, jangan sedih. Untuk apa kakak memikirkan dia yang sudah tak memikirkan kakak lagi? Dia disana baik-baik saja kok. Tenang saja kakakku yang cantik, disini masih ada sahabat yang selalu menemani kakak, yaitu aku...” bujuk Silvi sambil menghiburku. Lalu aku memeluk erat Silvi dengan tangis yang menggerimis.
Silvi memang tahu apa yang sedang terjadi kepadaku saat ini, segalanya telah berbeda. Kevin yang selalu ada untuk aku, kini telah berubah dan menggantungkan hubungan ini tanpa sebab. Sudah dua minggu smsku tidak dibalas oleh Kevin dan jika aku menelepon pun, dia hanya sekedar mengangkat telepon tersebut lalu menutupnya lagi tanpa berkata-kata. Bahkan lebih sadisnya, jika aku berjalan menghampirinya, dia acuhkan wajahku dan sering memanas-manasi hatiku dengan sindiran yang begitu dalam. Aku sering berpikir, “apa salah dan dosaku kepadamu, Kevin? Aku yang selalu ada disaat kamu membutuhkan seseorang, namun kini kau mencampakkan aku, kau hanya menganggapku sebagai angin lalumu, dan kau membiarkanku terluka dalam kegalauan. Apakah ini balasanmu terhadapku?” gumam hatiku yang sering merintih melampaui batas.
Perasaan pahit ini seringkali menghujam jantungku, apalagi saat aku bertanya pada Kevin melalui sms,
Kevin please balas sms ini, kenapa hari ini kamu tidak masuk ke sekolah?
 Tanyaku dengan bimbang dan berharap sms ini bisa dibalas oleh dia. Aku mengirim pesan tersebut sampai tujuh belas kali tetapi dia tidak membalasnya juga. Kini aku mencoba bersabar untuk menunggu balasan sampai dua jam, barangkali Kevin bisa membalas sms itu. Dan ternyata Kevin memang membalasnya. Perasaan bahagia pun muncul seketika, tetapi perasaan tersebut pudar kembali kala aku membaca sms dari Kevin yang bertuliskan,
tenang saja Adek sayang jangan khawatir, sekarang kakak lagi di Depok nih, Dek.
Dengan rasa cemburu yang luar biasa, aku membalas,
ADEK? MAKSUD KAMU APA KEVIN? L
Kevin salah mengirim pesan, pesan tersebut bukan untukku. Apakah Kevin telah menduakan aku? Hatiku terus bertanya-tanya dengan rasa pilu yang begitu merajang. Aku merintih kesakitan dan kurasa aku memang sudah tak pantas lagi untuknya.
Hari-hari terus berlalu dengan kegalauan yang kian menyiksaku. Aku masih penasaran dengan keadaan Kevin saat ini. Karena rasa khawatirku terhadapnya, aku mengirimkan sms lagi kepada dia:
Kevinkuuu, sedang apa kamu disana? Aku sangat merindukanmu. Berharap dibalas, I love you J.  
Dan rupanya Kevin membalas:
Aku sekarang sedang mendengarkan Silvi bercerita, ceritanya seru dan seram. Oh iya, hari ini aku sangat senang karena ada seorang perempuan yang mengirimkan sebuah puisi cinta kepadaku, puisi itu pasti dari Silvi.
Kata-kata yang selalu dia tulis dalam sebuah sms enggan mencekamku. Kevin bahagia karena dia mendapatkan puisi cinta dari seseorang yang bernama Silvi. Hatiku gelisah, nama tersebut membuatku tertusuk seakan aku terbaring. Tetapi aku yakin, seseorang yang Kevin maksud itu bukanlah Silvi Zahrantiara, bukanlah sahabat terdekatku. Dan aku percaya, sahabatku tidak akan mengkhianati janji yang telah dia ucapkan kepadaku.
Luka ini semakin hari semakin menusuk, hatiku rapuh tak terkendali. Sudah cukup aku mendengar perkataan Kevin, semua itu tak mau kudengar lagi. Janji-janji yang selalu dia ucapkan sudah tak ada lagi dan sudah mati tertelan kalimat busuknya.
*
Di dalam ruangan kelas yang begitu menggema, kududuki kursi sekolah berwarna coklat tua itu. Tiba-tiba ada seorang teman yang bertanya padaku, sebut saja dia Ami.
“Regitaaaa.. ka.. ka.. kamu masih pacaran dengan Kevin kan?” tanya Ami dengan gugup.
“Iya mi, tetapi dia menggantungkan hubungan ini, hiks... ” jawabku sedih.
“Bukannya Kevin itu pacarnya Silvi? Eh sebelumnya maaf aku berkata seperti ini. Aku hanya ingin meyakinkan, karena akhir-akhir ini banyak gosip tentang mereka…” jelas Ami kepadaku.
Tanpa berkata-kata dengan wajah yang sudah berkaca-kaca, aku membalikkan badanku dan lekas pergi meninggalkan Ami. Aku tak mau mematikan diri sendiri ini di dalam kegelapan yang merasuki relungku.
Benih-benih air mata memang selalu hadir mengabuti lukaku, dan aku tak ingin semua ini semakin membuatku perih. Kucoba untuk tegar namun rasa emosi seringkali memukul diriku secara terus-menerus. Tak ada yang mengertikan perasaanku kali ini. Kesabaran yang dulu ada seakan jauh meninggalkanku. Lukaku terus menepis dan membunuh perasaan bahagia itu. Setiap detik selalu kukirim sms kepada Kevin, yang bertuliskan :
Kevin, tolonglah sekali saja kamu bisa mengerti tentang apa yang aku rasakan saat ini. Aku mohon, bukalah sedikit hatimu. Sakit Vin, hatiku sakiiiiiiiiiit.  Aku ingin bertanya padamu, apakah kamu ingin melanjutkan hubungan ini?
Tak lelah aku berkata-kata, tak letih aku mengirimkan kalimat tersebut, namun dia tidak pernah membalasnya lagi. “Aku tidak akan menyerah, sampai kapanpun aku akan mengirimkan kalimat tersebut…” ucap hatiku.
Dua hari tak terasa bagiku, aku yakin bahwa Kevin memang tidak akan membalas smsku, walapun aku tidak pernah menyia-nyiakan waktuku untuk mengirimkan sms padanya. Aku menerima semua kegalauan ini, aku akan bertahan sampai Tuhan mengizinkan dia untuk membalasnya. Dan ternyata, setelah kutunggu seberapa lamanya waktu yang kian berlalu, aku mendapatkan sms dari Kevin.
Gak!
Hanya satu kata itulah yang dikirimkan oleh Kevin, dadaku tersentak sesak yang menyerbu. Aku tak tahu apa maksud Kevin kepadaku, dengan singkat aku bertanya,
Apakah maksud dari semua ini, Kevin?
Dan dia menjawab,
Aku gak bisa melanjutkan hubungan ini, karena orangtuaku melarang aku untuk berpacaran. Terimakasih untuk semuanya.
Lelah dan letih kuarungi semua, kumenunggumu dengan hati yang begitu sakit... sakit. Kulakukan apa yang dia inginkan, kulakukan itu semua demi cintaku yang tulus dan tak pernah pudar. Namun, apa balasan darinya? Kevin hanya memberikanku dusta yang sangat pahit.

Mungkin Kevin tidak mau mengenalku lagi, melihat wajahku pun tak mampu. Aku curahkan seluruh perasaanku dengan panjang lebar kepada Silvi, namun Silvi hanya menjawab, “sabar.” Bukan hanya Kevin, seseorang yang membuatku kecewa, tapi Silvi pun demikian. Silvi berubah tragis tak seperti biasanya yang selalu mendengarkan ucapanku.
Rasa curiga semakin menjelma di dadaku. Mungkin seorang perempuan yang selalu Kevin ucapkan itu adalah sahabat terdekatku, ingin kupastikan semuanya. Ketika Silvi tertidur pulas, dengan sengaja aku mengambil handphone Silvi yang terletak di sebuah meja kecil. Kulihat semua kotak masuk di handphone-nya itu, dari awal sampai akhir kubaca semuanya. Dan ternyata benar apa kata teman-temanku kalau Kevin berpacaran dengan Silvi.
Aku berlari kembali ke rumahku, kumenangis dan terus menangis, air mata mengalir begitu derasnya. Sungguh aku tak dapat menahan betapa sakit dan perihnya hati ini, hati yang telah mereka tusuk dengan sejuta nestapa. Nyawa terasa tercabut begitu cepat, tubuh pun terpecah belah. Silvi, teman dekatku yang selalu tertawa bersamaku selama lima belas tahun, dan aku yang selalu ada untuknya disaat dia sedih dan pilu. Ternyata dialah orang yang menghancurkan hidupku sehingga aku terbaring dalam sebuah kepedihan yang enggan menusuk batinku. Aku tahu, bahwa saat hubunganku digantung oleh Kevin, Kevin telah berpacaran dengan Silvi dan menyembunyikan hubungan mereka agar aku tak mengetahuinya. Kevin rela memutuskan aku dengan alasan tidak diperbolehkan pacaran oleh orangtuanya hanya demi Silvi. Sungguh aku kecewa dengan semua kemunafikan mereka.
Dengan perasaan lemah dan perih, kutulis sepucuk surat untuk Kevin dan Silvi. Kuletakan sepucuk surat dan sebuah kalung yang telah Kevin berikan kepadaku di atas sebuah kasur. Kubawa sebuah pisau tajam untuk mengakhiri hidup ini dan berkata, “lebih baik aku mati, daripada aku harus menjadi penghancur di antara mereka.”
Dengan cepat kuulurkan tanganku dan memegang sebuah pisau yang mengarah ke urat nadiku. Kupikirkan sejenak, “Ya Tuhan, ampunilah aku, ampunilah semua dosaku. Memang hal ini merupakan sebuah dosa besar untukku. Namun  aku hanya ingin membuat mereka bahagia, aku tak mau menjadi pengganggu di antara hubungan mereka. ampuni aku, Tuhan…” ucap hatiku. Segera kuseret pisau yang telah berada pada genggaman itu, “breeeeeeet..” urat nadiku terputus.
Kini aku telah tiada, aku telah memasuki dunia fana yang jauh berbeda dengan dunia yang biasanya aku pijaki selama enam belas tahun itu. Arwahku melihat ibu dan ayah yang sedang menangis sambil menelepon Kevin dan Silvi, agar mereka bisa melihat keadaanku saat ini. Kepanikan ibu dan ayah semakin menjelma. Rasa ibaku terhadap mereka datang seakan aku ingin kembali ke duniaku dulu.
Silvi dan Kevin sudah berada di rumahku. Mereka melihat keadaanku yang telah tertelan bumi. Kevin mengambil sepucuk surat dan sebuah kalung di atas kasur yang telah kuletakan tadi. Lalu mereka membacanya dengan kesedihan, surat tersebut merupakan ungkapan perasaanku kepada Kevin.

Untuk Kevin,
Kasihku... kau yang selalu aku puja, aku cinta, aku banggakan selama ini. Dan dirimulah yang selalu ada disaat aku membutuhkan sebuah hasrat cintamu. Namun kini kau curangi semuanya. Kau musnahkan aku dalam otakmu dan memberikan pengkhianatan terdalam untukku. Mungkin ini adalah ambisimu yang akan menjeratku sehingga aku terperosok. Tak pernah aku berpikir semua ini akan terjadi, aku tak percaya mendengar hal ini.
Ternyata kau duakan cinta yang perlahan-lahan telah aku rintis hanya untukmu. Kau menjauh dariku, semua itu kau lakukan hanya untuk pergi dengan Silvi yang telah aku anggap sebagai adik sendiri dan kau tega memutuskan hubungan kita yang selama ini telah terjalin begitu erat. Aku disini terpuruk dalam kesedihan, sedangkan kau hanya bisa bersenang-senang dengannya dan tak perdulikanku.
Maafkan aku, aku memutuskan untuk pergi dan takkan pernah kembali. Ambillah kalung itu, dan berikanlah kepada Silvi sebagai ucapan terimakasihku padanya. Bahagiakanlah dia, jangan kau hancurkan hidup Silvi seperti kau menghancurkan aku.
Regita

Setelah mereka membaca surat tersebut, mereka menangis tak tertahankan. Kevin dan Silvi memelukku erat dan meneteskan air matanya sehingga pipiku penuh dengan tetesan yang keluar dari mata Kevin. Mereka menyesali semuanya, mereka menyadari kesalahannya.
“Regitaaaaaa, maafkan aku. Kembalilah ke dunia ini, jangan pergi! Aku sangat menyesal...” tangis Kevin dengan jeritan yang kencang. Begitupun Silvi yang berkata, “Kak Regita maafkan semua kesalahan Silvi kak, Silvi mohon maafkanlah Silvi, Silvi juga menyesal.”
Derai air mata telah mereka sesali. Memang, penyesalan itu datang ketika seseorang yang selalu disia-siakan telah meninggalkannya. Semoga semua itu menjadi sebuah pelajaran untuk mereka. Sesungguhnya aku telah memaafkan keduanya, dan kini aku rela mereka bahagia, meski hatiku terluka.
-=o~0O0~o=-

Profile Penulis

Nama : Erni Nuraeni

Sekolah : SMAN 1 Sukaresmi

Tanggal lahir : 19 Januari 1996

Facebook : Erni Nuraeni

Twitter : @ernidsz

Blog : erninuraenidevas.blogspot.com
Ditulis oleh Lukas Gentara

Masukkan email kamu untuk mendapatkan update artikel terbaru:

Delivered by FeedBurner

Belum ada komentar untuk "Cerpen Cinta: Pengkhianatan Terdalam"

Post a Comment