Feb 24, 2012

Cerpen Pilihan: Hal Yang Berbeda

Hal yang Berbeda
oleh: Chikita Nawaristika

“Kita punya banyak sekali alasan untuk melanjutkan hidup, tapi di luar sana masih banyak orang yang punya alasan untuk berputus asa dan menyerah akan keadaan”

Cerpen Pilihan
Bagiku hidup adalah suatu hal yang harus kita jalani dengan apa adanya. Semua masalah yang datang itu untuk dihadapi, bukan untuk dihindari. Menghadapi semua masalah dengan otak dingin dan pemikiran yang terbaik adalah solusi yang paling tepat untuk dilakukan.

“Masalah terus ada karena kita masih hidup, jika kita mati, maka masalah itu akan menghilang dengan sendirinya” , kata-kata itu menjadi kata-kata yang biasa diucapkan oleh mereka yang berputus asa dalam menjalani hidup. Tapi tidakkah mereka mencoba berpikir kalau hidup ini begitu indah? Seindah pelangi seusai hujan yang berwarna-warni. Hidup ini kayak pelangi itu, berwarna-warni, tapi tetap punya satu nama ‘pelangi’. Kita bisa dalam posisi bahagia, sedih, terharu, terpukau, semangat, putus asa, dll. Tapi semua keadaan atau posisi itu tetap disebut ‘kehidupan’ yang harus kita jalani dengan apa adanya.

Masalah adalah ujian yang harus kita selesaikan dalam hidup. Jika kita mampu menyelesaikannya dengan penuh tanggung jawab dan dengan cara yang tepat, maka kita akan menjadi manusia yang sukses dalam menjalani hidup.

***
Aku adalah seorang gadis kecil yang sudah tau bahkan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang anak dari keluarga yang berantakan alias ‘Broken Home’. Kedua orang tuaku telah memutuskan untuk berpisah sejak aku masih duduk dibangku kelas 6 SD. Awalnya hal itu cukup membuatku merasa dikucilkan oleh teman-teman dekatku. Teman-teman sekelasku gak ada yang mau dekat-dekat denganku, mereka terus-terusan mengolok-olokku.

“Hei, kamu gak punya ayah ya? Hahahaha, kasiian...”

Kata-kata itu masih jelas kuingat dalam otakku. Kenapa mereka melakukan itu kepadaku? Apa salahku? Aku hanyalah korban dari perceraian kedua orang tuaku. Kalau aku boleh memilih, aku pun nggak akan mau jadi anak ‘Broken Home’. Kalian pikir ini sesuatu yang asyik untuk ditertawakan? Ha? Ini hal yang buruk menurutku. Kalian gak akan tau bagaimana sulitnya jadi aku. Bagaimana sulitnya mencoba untuk tetap tegar dan menerima semua keadaan yang telah terjadi. Bagaimana sulitnya menghadapi tatapan mata orang-orang yang tak hentinya menatapku saat aku keluar rumah, layaknya barang najis yang berkeliaran. Bagaimana sulitnya menghadapi segala keadaan dunia yang sekarang ‘Benar-Benar Berbeda’.

Keadaan itu telah berhasil merubah drastis segala keceriaan yang selalu muncul dalam raut wajahku. Keadaan itu telah berhasil membuatku menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang lebih pendiam dan pemalu. Bahkan keluar rumah pun aku tak berani sendirian. Aku tak mampu melihat tatapan-tatapan sinis tetanggaku seorang diri, aku tak mampu mendengarkan cibiran-cibiran mereka, kata-kata sok tau dan berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Tak hanya tetanggaku, bahkan kerabat-kerabat dekatku seakan memusuhi aku dan ibuku. Mereka terkesan menyingkirkan kami, mereka terkesan tidak mau mengakui kami sebagai anggota dari keluarga besar mereka. Mereka beranggapan bahwa kami telah merusak nama baik keluarga yang selama ini dipandang sebagai keluarga yang disegani di daerahku. Kembali lagi ingin ku teriakkan keras-keras di hadapan mereka “Apa ini salah kami? Takdir sudah menentukan jalan hidup kami seperti ini, kami tidak bisa menolaknya!”

Selang beberapa bulan kemudian, kakekku meninggal dunia. Para kerabatku kembali menyalahkan kami, terutama ibuku. Mereka berpikiran bahwa kakekku meninggal gara-gara terlalu memikirkan segala kekacauan yang terjadi di keluargaku. Padahal sebenarnya, kakekku sudah lama sakit-sakitan dan dirawat di rumah sakit. Mungkin meninggalnya kakekku karena sudah waktunya aja. Faktor usia utamanya. Tapi kerabat-kerabatku seolah tak menyadari hal itu dan tetap menyalahkan kami.

Kalian tau? Betapa beratnya beban yang kupikul saat itu, saat usiaku masih begitu kecil, saat anak-anak lain begitu ceria dengan mainannnya, begitu asyik dengan hidupnya, tapi aku sudah dilatih untuk berpikir lebih dewasa dan menerima segala hal dengan apa adanya. Aku dilatih untuk tidak protes akan segala hal yang berbeda dalam hidupku, hal yang jauh berbeda dengan anak-anak lainnya seusiaku.

“Anak ayah yang cuma satu-satunya ini anak yang pintar, anak yang nggak cengeng, anak yang baik yang mau menerima segala hal dengan pemikiran yang baik pula. Jadi, kamu harus pintar hadapin segala masalah yang mampir di hidup kamu, selesai-in semuanya dengan penuh tanggung jawab, gak boleh gampang nangis yaa..” , ucap ayahku seraya mencium keningku.

Ingin sekali ku teteskan air mataku saat ayah mengungkapkan hal itu. Tapi apalah dayaku? Aku hanya bisa menahannya, paling nggak aku gak boleh nangis dihadapannya. Aku emang terbiasa menangis dan meluapkan segala kekesalanku di tempat yang sepi, jauh dari keramaian. Aku nggak mau ada orang lain yang melihatku menangis. Mereka cukup tau aku sebagai bocah kecil yang kuat, yang tegar dan nggak cengeng. Bagaimana pun juga aku nggak mau ngerubah image ku di mata mereka.

***
Hal yang paling membuatku kecewa dan akan tetap kuingat sepanjang hidupku adalah ketidak-adilan wali kelasku saat itu. Beberapa hari sebelum acara pelepasan murid kelas 6 di SD-ku, Kepala Sekolah telah mengumumkan bahwa aku adalah siswa lulusan terbaik tahun itu sekaligus menjadi juara kelas di kelasku. Tapi hal itu sungguh berbeda dengan apa yang kudapatkan saat acara perpisahan berlangsung. Saat tiba waktunya untuk penyerahan penghargaan atas prestasi, namaku tidak disebut di urutan pertama, melainkan di urutan kedua setelah pesaing utamaku. Sontak aku bingung apa yang sebenarnya terjadi, semua wali murid yang hadir pun kebingungan. Mereka biasa mendengar namakulah yang selalu disebut pertama kali dalam hal itu. Iya, aku adalah salah satu anak yang berprestasi di sekolahku. Sebutan sebagai bintang kelas tak pernah lepas dari namaku. Dan hari itu menjadi awal dari kekecewaan mendalamku.

Orang tua dari pesaing utamaku adalah salah satu donatur dalam pembangunan di sekolahku, mereka menuntut agar anak mereka dijadikan menjadi seorang juara pada hari itu. Dan entah apa yang ada di benak wali kelasku. Kembali lagi aku mengingat perkataan ayahku, bahwa aku harus menerima semua dengan apa adanya.

Ingin rasanya kubuktikan pada semua orang bahwa akulah yang seharusnya menerima penghargaan itu. Ketika ada pendaftaran siswa baru untuk masuk ke SMP, aku telah membuktikan bahwa aku lolos seleksi untuk di terima sekolah di Kota. Memang pada saat itu, murid dari Sekolah Dasar di Kabupaten harus terlebih dahulu mengikuti test sebelum melanjutkan sekolah mereka di Kota. Aku juga mengikuti test itu bersama pesaingku. Tapi hasil test yang dia dapatkan jauh sekali di bawahku hingga dia tak bisa meneruskan sekolah di Kota, dia hanya bisa meneruskan sekolah di Kabupaten.

Kata Budheku yang merupakan salah satu guru di SD-ku, ketika mendengar kabar bahwa aku diterima di salah satu sekolah di Kota, guru-guru yang lain seolah menyindir wali kelasku yang dulu.

“Tuh kan, udah terbukti sekarang, siapa yang berhak jadi juara yang sebenarnya. Kejujuran itu lebih berarti dan akan mengalahkan segalanya”, begitu katanya.

Ada rasa senang dan bangga dalam diri ini ketika berhasil memastikan diri menjadi salah satu siswa di SMP itu. Tapi ada pula rasa terbebani, terbebani untuk jadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Hal ini terus terulang ketika aku diterima di salah satu SMK ternama di Kota-ku, guru-guru SD-ku begitu bangga akan prestasiku. Sementara pesaing utamaku itu hanya mampu diterima di sekolah swasta.

Semua kejadian, semua masalah, semua hal-hal yang menurutku begitu berat perlahan telah berhasil kulalui sedikit demi sedikit. Ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP, ada salah satu temanku yang punya nasib sama denganku berkata,

“Semua masalah telah berhasil membuatku menjadi anak yang gak tau mana yang benar dan mana yang salah, semua begitu berat buat aku lewati. Abangku udah terpengaruh minum-minuman keras, badannya sekarang menjadi penuh dengan tatto, sekarang dia memang benar-benar terpengaruh pergaulan bebas, apa aku nanti juga akan jadi seperti dia?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Dan sontak aku pun menjawab pertanyaan itu.

“Semua tergantung dari dirimu sendiri. Kamu anak yang pintar, harusnya kamu tau mana yang baik dan mana yang gak baik buat hidup kamu. Kalau menurutku kamu gak usah ikut-ikutan abangmu, kamu gak usah lakuin itu sebagai bentuk protesmu kepada kedua orang tuamu. Kamu harusnya mampu menunjukkan kepada mereka kalau kamu masih tetap bisa berprestasi.”

“Iya kalau kamu, tapi aku? Kayaknya suatu hari nanti aku juga akan jadi kayak abangku deh.”

Banyak anak Broken Home di dunia ini yang terlibat pergaulan bebas setelah ia diterpa banyak masalah. Tapi aku sama sekali tak mau mencoba hal itu. Bagiku, menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari orang tuaku sebelumnya adalah hal yang harus aku lakukan. Menjaga nama baik keluarga dan menjaga nama baik diri sendiri.

***
Seiring dengan bertambahnya umurku, seiring itu juga aku dapat memahami apa yang harus selalu kita lakukan di dunia ini. –Optimis- optimis kalau kita bisa, pasti bisa dan harus bisa. Tak seharusnya kita menjadikan semua masalah sebagai pengganjal kehidupan baru kita. Kita harusnya menjadikan masalah itu sebagai batu loncatan agar kita bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Tentunya dengan belajar menghadapi masalah, bukan menghindari masalah.

Saat ini, ibuku sudah menikah lagi. Kerabat-kerabatku pun sudah kembali menjadi kerabat-kerabat yang baik. Aku tak menjadi anak tunggal lagi di rumahku. Suami ibuku memiliki seorang putri dan seorang putra. Aku punya saudara sekarang, aku punya kakak. Kami semua masing-masing cuma beda satu tahun. Aku begitu dekat dengan kakak laki-laki itu. Rasanya kami seperti saudara kandung. Sekarang aku benar-benar merasakan bahwa kata-kata “Semua pasti indah pada waktunya” telah terjadi dalam hidupku. Semoga semuanya akan tetap indah seperti sekarang ini. Tanpa ada pertengkaran lagi yang membuat air mataku menetes.

|T|H|A|N|K|’S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|


Cerpen lainnya karya Chikita bisa dilihat dalam Cerpen "Cintaku Di Provinsi Sebelah".