Cerpen Cinta Remaja Terbaru: Menunggu Cintamu Berlabuh

Cerpen Cinta kali ini dikirim oleh Mili Kun. Cuman dia lupa ngga ngasih judul. Jadi ya aku kasih judul aja "Menunggu Cintamu Berlabuh". (_^)

Menunggu Cintamu Berlabuh

oleh: Mili Kun
          Ketika cinta meninggalakanmu kadang hanya satu hal yang kamu inginkan, pergi meninggalkan tempat di mana membuatmu merasa ditinggalkan, berlari menjauh berharap bisa melupakan segalanya.
          Nada berjalan sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku mantelnya. Saat ini musim dingin di Jerman, seharusnya dia menghatkan diri di kamar asramanya bukannya malah berkeliaran dan kedinginan, tapi dia butuh udara segar, kamar asrama kadang membuatnya sulit bernapas terutama ketika dia teringat akan Rehan.
          Rehan, bisa dibilang bukan pacarnya, mereka hanya berteman, teman dekat, sangat dekat hingga Nada merasakan denyut cinta di dadanya. Ketika pada akhirnya dia menyadari perasaan itu, Rehan telah pergi meninggalkannya menghilang begitu saja seperti disapu angin, tak bersisa. Yang tersisa hanyalah perasaan sedih, menyesal, dan marah.
          Nada dan Rehan dulunya sangat dekat. Ayah mereka bersahabat dan persahabatan itu juga menular kepada anak mereka. Mereka bahkan tidak terpisahkan, selalu meluangkan waktu senggang mereka dengan bermain bersama, berjalan-jalan, makan es krim, dan sebagainya. Semuanya terasa indah ketika mereka beranjak dewasa dan mulai memahami akan makna cinta. Rehan yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Tapi saat itu Nada tidak merasakan apapun, tepatnya dia tidak mau mengakui perasaannya. Terlalu lama ia mengulur waktu sehingga Rehan merasa dipermainkan dan iapun meninggalkan Nada begitu saja melanjutkan studinya di luar negeri. Saat ditinggalkan barulah Nada menyadari kesalahannya. Menyadari bahwa persahabatan mereka berakhir, menyadari bahwa ia telah menyakiti Rehan. Nada berusaha mencari kabar tentang Rehan kepada orang tuanya dan itu tidak sulit. Nada bahkan mendapatkan nomor telpon Rehan. Tapi dia terlalu takut untuk meminta maaf.
          Sampai akhirnya diapun memutuskan untuk meninggalkan rumahnya. Mencoba menjauh dari masa lalunya, mencoba melupakan kesalahannya, mencoba untuk menjadi gadis biasa yang tidak merasakan cinta, mencoba untuk melupakan Rehan. Dia tidak tahu apakah itu akan berhasil terutama karena ayah mereka yang saling bersahabat. Nada yakin suatu saat ia akan kembali bertemu dengan Rehan dan Rehan juga tidak akan bisa mencegahnya, saat itulah ia putuskan ia akan meminta maaf kepada Rehan.
          Nada menghela nafasnya sembari merapatkan ke dua tangannya ke tubuhnya. Melupakan itu ternyata tidak mudah. Sejauh apapun dirimu tidak akan berpengaruh. Nada tidak yakin dengan Rehan tapi dia sendiri sangat sulit untuk melupakan Rehan, melupakan saat-saat yang telah mereka habiskan bersama selama ini.
          Nada tersadar dari lamunannya ketika mendengar dering telpon genggamnya. Nada tersenyum simpul ketika melihat nama siapa yang tertera di sana. Nala, kakaknya menelpon. Bulan depan Nala akan bertunangan, dia dijodohkan oleh orang tuaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku tidak percaya ketika pertama kalinya mengetahui Nala tidak keberatan untuk dijodohkan karena sebenarnya dia juga menyukai laki-laki itu. Besok aku mulai libur kuliah dan meutuskan untuk pulang ke Indonesia. Dan Nala benar-benar tidak sabar, setiap hari dia selalu menelpon untuk memastikan Nada tidak mengubah rencananya.
          “Halo..” Nada menjawab telponnya. “Kenapa kamu harus menelpon setiap hari sih, Nal. Kamu tahu aku tidak akan mengubah rencanaku.” Jawabku disela-sela senyum dibibirku. Geli juga membayangkan Nala yang tidak sabar dengan kepulanganku.
          “Aku hanya kangen dengan adikku tercinta. Kenapa sih kamu, emang gak senang ya?”
          Nada tertawa. “Sebelum acara perjodohanmu, kamu gak sesering ini menelponku.”
          Terdengar dengusan sebal Nala. “Aku benar-benar gak sabar nungguin kamu pulang tau.”
          “Besok aku pulang. Tenang saja.”
          “24 jam itu terasa lama. Belum lagi waktu yang kamu butuhkan untuk mencapai Jakarta. Kenapa sih kamu harus kuliah jauh-jauh. Kaya di sini gak ada universitas yang bagus aja.”
          Aku tertawa. “Jadi, sekarang apa kamu sudah berubah pikiran? Apa kamu menelponku untuk memberi tahu siapa tunanganmu?” Tanyaku.
           "Tidak akan. Aku tidak akan memberi tahumu. Kamu pasti akan kaget.” Nada mendengar tawa kakaknya. “Hari ini dia akan sampai di Jakarta dan untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengannya setelah sekian lama tidak melihatnya.”
          Nada mendengar nada antusias kakaknya tersebut. “Oh ya?” Tanyaku. Entah kenapa aku jadi sangat penasaran dengan calon suami kakakku ini. “Besok aku akan pulang. Dan aku akan segera bisa melihat tunangan kamu. Seharusnya kamu tidak merahasiakan ini kepadaku. Bahkan mama ama papa juga ikut bekerja sama denganu merahasiakan siapa tunanganmu.”
          Nala terkekeh. “Salah sendiri sekolah jauh-jauh.” Aku mendengar suara mamaku sayup-sayup memanggil nama Nala. “Gotta go, Sis. Mama ribet banget, mentang-mentang mau kedatangan besan.”
          “Oke. Salam buat mama ama papa ya.” Nada memasukkan telpon genggamnya ke dalam sakunya. Dia semakin tidak sabar menginjakkan kakinya kembali ke Jakarta, kota kelahirannya.
***
          Nada keluar dari pesawat menuju ke bagian kedatangan. Dia menghirup udara disekitarnya. “Kota asal selalu lebih baik.” Gumamnya.
          Nada mendengar namanya dipanggil. Dia tahu suara siapa itu. Itu suara kakaknya. Nada membalikkan badannya dan siap untuk memamerkan senyumnya ketika dia melihat siapa yang berdiri di samping kakaknya. Dia tidak akan pernah melupakan wajah itu. Tidak akan pernah melupakan tatapan itu. Tidak akan pernah selama sisa hidupnya. Nala menghampirinya dan memeluknya. Bercerita banyak hal tapi tidak satupun yang singgah ke telinga Nada. Tatapan Nada hanya terpaku kepada sosok yang berdiri di belakang kakaknya. Sosok itu juga menatapnya dengan tajam. Nala memperhatikan arah tatapan adiknya lalu senyum di bibirnya merekah. “Aku tahu kamu pasti akan sangat kaget ketika mengetahui Rehanlah tunanganku. Kamu tidak percayakan?”
          Aku menelan ludahku dan menggelengkan kepalaku. “Aku tahu suatu saat dia akan kembali.” Tapi jelas sekali tidak sebagai tunangan kakaknya.
          “Yuk mari hampiri abang iparmu.” Nala tertawa geli mendengar omongannya sendiri.
          Dengan kaku aku melangkahkan kakiku mendekati Rehan. Lalu aku mengulurkan tanganku. Dengan santai Rehan menjabat tanganku dan tersenyum. “Apa kabar?” Tanyanya.
          Nada hanya diam. Apakah perasaan Rehan kepadanya telah pupus. Apakah begitu besar bencinya kepada Nada hingga bisa melupakan Nada secepat itu. Tidak satupun jawaban terbesit dibenak Nada. Satu hal yang dia tahu, hatinya kembali hancur. Sangat hancur ketika mengetahui orang yang dicintainya akan menikahi kakaknya.
***
          Setelah menghabiskan waktunya berbasa-basi dengan orang tua Rehan dan diceramahi habis-habisan oleh ke dua orang tuanya akhirnya Nada bisa beristirahat dengan tenang. Sebenarnya dia tidak ingin beristirahat ia hanya butuh sendiri untuk mencerna semua hal yang telah terjadi. Rehan kembali dan dijodohkan dengan kakaknya. Rehan tidak menolaknya. Rehan bahkan tidak mengajaknya mengobrol, hanya menatapnya tajam. Sekali-kali dia hanya tersenyum simpul ketika namanya dan Nala disebut-sebut.
          Nada menghembuskan nafasnya berat. Harusnya dia tidak disini. Harusnya dia tidak pulang. Harusnya Nala memberi tahu siapa tunangannya. Harusnya orang tuanya tidak bekerja sama dengan Nala merahasiakan siapa tunangan kakaknya. Harusnya Rehan tidak kembali dengan cara seperti ini. Atau apakah ini Rehan lakukan untuk menyakitinya? Nada menggelengkan kepalanya. Rehan tidak mungkin melakukan itu. Walaubagaimanapun Rehan adalah cowok yang tidak akan menyakiti seseorang dengan cara itu baik kepada dirinya ataupun kepada orang lain.
          Nada mendongakkan kepalanya ketika melihat sebuah bayangan berjalan menuju ke arahnya. Dadanya seolah berhenti berdetak ketika melihat Rehan berdiri disampingnya. “Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Nada.
          “Apa yang aku lakukan disini? Jelas-jelas aku akan menikahi kakakmu. Kenapa kamu masih menanyakannya?”
          Kali ini Nada mengalihkan pandangannya. Ia menatap Rehan tepat di matanya. “Apakah cara ini yang kamu pilih untuk menyakitiku? Untuk membalasku?” Tanyaku lagi. Kali ini Rehan terkesiap.
          “Kenapa kamu berpikir begitu? Kamu bahkan tidak membalas perasaanku saat itu. Aku hanya ingin move on. Aku tidak ingin terus terperangkap oleh perasaanku.”
          Nada diam. Rehan benar. Harusnya dia tidak peduli walau Rehan ingin menikahi kakaknya sekalipun. Karena dia tidak mencintai Rehan. Tapi itu dulu. Dulu sekali ketika Rehan belum pergi. Sekarang perasaan itu berubah, cinta itu tumbuh dan Nada tidak bisa mengatakannya. Tidak jika itu akan menyebabkan kehancuran kakaknya.
          “Ketika kamu menolakku dulu, aku sangat terpukul. Mungkin memang salahku karena meninggalkan kamu begitu saja. Tapi aku tidak sanggup, aku terlalu mencintai kamu sampai aku yakin aku akan kembali hancur jika aku melihatmu lagi. Oleh karena itu aku pergi.” Nada hanya diam mendengarkan. Dia tahu bagaimana perasaan Rehan karena saat inipun dia merasakannya. “Lalu suatu hari Ayahku menelponku menyampaikan maksudnya. Ketika ia menyebut nama kakakmu wajahmulah yang pertama kali muncul dibenakku. Aku butuh waktu sebulan hingga akhirnya menerima tawaran ayahku. Nala cewek yang baik dan aku yakin aku pasti bisa mencintainya. Aku tidak ingin terpaku pada perasaanku, aku ingin mencoba berubah, ingin mencintai lagi. Mencintai orang yang membalas cintaku.”
          Nada tersentak. Ucapan Rehan seolah menyengatnya. Tapi tidak ada kata yang terlontar dari mulutnya. Ia seolah bisu dalam sesaat. “Butuh usaha yang kuat untuk bisa melihat wajahmu lagi, Nad. Aku takut untuk hancur kembali. Tapi aku harus menghadapinya.” Lagi-lagi Nada diam. “Aku tidak tahu kalau Jerman membuatmu menjadi gadis pendiam.” Rehan tertawa parau.
          “Nad.” Rehan memegang bahu Nada dan membalik badannya. “Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti kakakmu. Aku tulus. Mungkin saat ini cintaku tidak sebesar cintaku kepada kamu dulu tapi suatu saat aku akan mencintainya melebihi cintaku kepada kamu dulu.” Nada merasa badannya lemas ketika mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Rehan. Rehan pergi meninggalkannya begitu saja. Meninggalkannya dengan sejuta rasa bersalah dan kehancuran. Satu hal yang Nada yakini, ia harus segera meninggalkan tempat ini secepatnya. Tidak mungkin dia tahan dengan semua ini.
***
          Rehan masuk ke dalam mobilnya. Setelah berbicara singkat dengan Nada dia memutuskan untuk mencari angin segar diluar. Dia butuh udara segar, berada di satu tempat dengan Nada ternyata tidak semudah bayangannya. Ternyata perasaan itu belum hilang walau sekian lama ia berada jauh dari Nada. Dengan tangan gemetar Rehan memasukkan kunci mobilnya. Nala pasti akan bertanya-tanya kemana ia pergi tapi dia akan bisa menemukan alasan yang masuk akal.
          Rehan mengendarai mobilnya seperti orang gila. Melihat Nada ternyata membuat lukanya kembali terbuka. Semua kalimat yang terlontar oleh bibirnya sama sekali tidak benar. Tidak mungkin dia bisa mengganti posisi Nada dengan kakaknya. Tapi dia butuh seseorang untuk mengubah perasaannya dan dia berharap Nala bisa melakukannya. Selama ini dia bisa menahan perasaannya walaupun perasaan itu menusuk-nusuk dadanya. Tapi ketika kembali melihat Nada, dia seperti akan rubuh. Tidak ia sangka ternyata perasaannya begitu kuat. Untung saja dia masih bisa menahan semuanya kalau tidak dia pasti akan menyakiti hati banyak pihak, keluarganya maupun keluarga Nala. Lebih-lebih ketika ia melihat sikap Nada yang seolah-olah seperti menuduh dia ingin membalas dendam. Apakah segitu besarnya bencinya kepada Rehan? Tapi keinginan untuk memeluk dan mengelus wajah gadis itu tidak pernah berkurang, malah hasrat itu semakin membelenggunya dan itu membuatnya semakin hancur.
          “Semoga jalan yang aku pilih ini benar. Ya Tuhan tolong aku.” Gumam Rehan sambil menggenggam stir mobilnya lebih erat.
***
          Nada ingin menangis. Hatinya benar-benar hancur. Dia bahkan tidak tau apa yang harus dilakukannya. Yang dia tahu adalah dia harus meninggalkan rumah ini jika tidak ingin menjadi gila. Rehan telah mengungkapkan perasaannya untuk berusaha mencintai kakaknya dan jika itu terjadi apa yang akan terjadi dengan Nada? Dia akan selalu terjebak oleh perasaan cintanya dan perasaan itu tidak akan pernah bisa ia ungkapkan kepada siapun. Ia tidak mungkin menghancurkan hidup kakaknya dengan mengatakan kejujuran. Dan orang tuanya pasti akan marah besar. Lag pula Rehan juga kelihatannya mulai bisa melupakan dirinya. Itu baik buat mereka tapi jelas buruk buat Nada.
          “Nad.” Nala masuk kekamarnya. Wajahnya berseri-seri bahagia. Nada memaksa senyum di wajahnya.
          “Dari tadi kita tidak punya kesempatan ngobrol berdua aja.” Nala duduk di samping Nada sambil menepuk pundak adiknya. “Gimana Jerman?”
          Nada mengangkat bahunya. “Jakarta jauh lebih baik walau ada macet dimana-mana.”
          “Kamu pasti bohong. Kalau di sana gak asik kamu gak bakalan betah lama-lama di sana.” Nala tersenyum. “Gimana menurut kamu dengan Rehan?” Pertanyaan itu membuat Nada menatap kakaknya. “Aku tahu kalian dulu sangat dekat. Kalian sahabat yang sangat mengenal satu sama lain. Hingga akhirnya Rehan pergi ke luar negri.” Nada hanya dia mendengarkan. “Apakah kamu marah dengan Rehan karena dia meninggalkanmu?”
          “Siapa bilang? Kenapa aku harus marah. Itu haknya Rehan sama seperti hak aku untuk melanjutkan kuliah di tempat yang aku inginkan. Tapi memang akhir-akhir ini kami tidak dekat lagi.” Aku menundukkan kepalaku. “Tapi jangan khawatir bukan berarti aku tidak menyutuji pertunanganmu.” Nada tersenyum kepada kakaknya.
          Nala menghela nafasnya. “Aku lega. Sejujurnya itulah masalah sebenarnya. Itulah yang menyebabkan aku tidak memberitahukan siapa tunanganku sebelum kamu sampai ke Indonesia. Aku kira kamu marah dengan Rehan dan jika kamu tahu Rehanlah tunanganku, kamu tidak mau pulang.”
          Aku tertawa. “Siapa bilang? Gak mungkin aku melewatkan acara pernikahan kakakku satu-satunya. Pernikahan kamu pasti jadi pernikahan yang sangat meriah.” Nada menyenggol bahu kakaknya.
          Nala tampak malu. “Kamu tahu, Nad aku benar-benar mencintainya.” Nada terdiam. “Dulu aku mikirnya Rehan naksir kamu dan justru kamulah yang akan menikah dengannya. Ternyata ketika aku menanyakannya dengan Rehan dia menjawab tidak dan aku sangat lega.”
          Nada memandang Nala. Raut bahagia jelas-jelas terpancar di wajahnya dan Nada tidak mungkin tega menghancurkannya. Nada tidak mungkin tega merenggut kebahagiaan itu dari kakak yang sangat dicintainya. Nada menggenggam tangan Nala, “Rehan tidak mungkin suka dengan aku. Kami ini sahabat dan tidak akan lebih dari itu.”
          “Bagaimana dengan kamu, apa kamu pernah menyukainya?”
          Nada kembali tertawa. “Tentu saja tidak. Kan aku sudah bilang, kami ini sahabat dan sahabat itu mustahil menjadi cinta.”
          “Syukurlah. Aku bisa menikah dengan Rehan dengan tenang.” Nala tersenyum dan mengelus tangan adiknya. “Well,” Nala beranjak dari tempat duduknya. “Kamu istirahat dulu deh. Besok kamu harus temenin aku membeli semua perlengkapan termasuk mencoba pakaian pengantin kami. Kamu harus melihatnya. Sangat indah.”
          “Bersama Rehan juga?”
          “Tentu saja. Bersama Rehan dong.” Nala tersenyum. “Aku mau cari Rehan dulu dari tadi dia gak ada kelihatan. Kamu istirahat ya adikku yang manis.” Nala mencubit pipi adiknya lembut. Nada hanya tersenyum memandangi kepergian kakaknya.
***
          Nada terbangun dari tidurnya. Ia menyeka wajahnya. Menangis hingga ia tertidur? Benar-benar menyiksa. Saat ini kepalanya seperti mau pecah. “Hei, Putri tidur bangun.” Nada mendengar suara mamanya dari pintu kamarnya.
          Nada tersenyum lemah. “Pagi, Mah.” Mamanya menghampirinya ke tempat tidur. Memandangnya lekat-lekat.
          “Kamu kenapa? Sakit?” Mama menyentuh kening anaknya.
          Nada menggelengkan kepalanya. “Gak kok, Ma. Cuma jetlag aja.” Nada mengusahakan senyum di bibirnya.
          “Kayanya kamu gak usah aja ikut Nala ama Rehan deh. Kamu istirahat aja dulu.” Sejenak itu merupakan ide bagus buat Nada. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika melihat Nala yang menggandeng tangan Rehan mesra. Tapi mengingat gimana semangat kakaknya untuk menunjukkan gaun pengantinnya, membuat Nada jadi merasa bersalah.
          Nada menggelengkan kepalanya. “Aku mau lihat baju pengantinnya Nala.”
          “Kan masih ada hari lain. Toh bajunya juga belum selesai.” Mama Nada memanggil Nala. Nala muncul di pintu kamar adiknya, mengenakan dress, cantik sekali. “Nada gak usah ikut aja ya. Lihat deh wajahnya kusut banget. Matanya ampe bengkak dan merah gini. Adik kamu kecapekan banget.”
          Nala memandangi wajah adiknya. Dia tahu ada yang salah disana. Tapi dia tidak menyadarinya. Dia terlalu bahagia akan semuanya. “Ya sudah. Aku sama Rehan aja gak apa-apa kok, Ma. Lagian masih ada lain kali kan.” Nala menyentuh pundak adiknya. “Wajah kamu benar-benar mengerikan tau. Coba deh ngaca.” Dia tersenyum. “Kamu istirahat aja dulu. Nanti kalo udah segeran baru kita jalan-jalan.” Nada balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
          Nada suda membersihkan wajahnya, dia bahkan sudah mandi tapi ketika melihat ke cermin tetap aja dia seperti orang tidak tidur 3 hari 3 malam. “Masa sih aku nangisnya sampe separah ini tadi malem?” Nada menyentuh wajahnya. Kayanya hari ini dia gak bakalan keluar kamar. Dia lebih memilih mengurung diri di kamar, menghindari bertemu Rehan. Lagian dia memang perlu mengistirahatkan otaknya.
          Nada meraih I-Podnya dan memasang earphone di telinga. Mengambil novel yang belom sempat dilahap habis olehnya dan berbaring di kamarnya. Tapi novel tidak bisa mengalihkan pikirannya, hanya Rehan yang ada disana. Akhirnya Nada menyerah, memutuskan untuk meletakkan novelnya, dan memejamkan matanya kali ini berusaha menikmati musik favoritnya.
***
          Rehan sedikit bimbang ketika Nala mengatakn adiknya tidak jadi ikut karena tidak enak badan dan butuh istirahat. Apakah dia baik-baik saja? Batin Rehan. Tapi Rehan tidak berani bertanya karena takut Nala akan curiga. Tapi, kenapa harus curiga toh Rehan dan Nada adalah sahabat yang tak terpisahkan, dulunya sih.
          “Nal.” Rehan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara mama Nala memanggil anaknya. Nala melepaskan genggaman tangannya dari Rehan dan membalik badannya. “Mending liat bajunya besok aja kan kalian baru lihat bajunya minggu lalu. Hari ini mending kamu sama mama membeli perlengkapan yang lain.”
          Nala tampak berpikir sejenak. “Boleh juga sih. Lagian mana tahu besok Nada udah segeran jadi dia bisa ikut. Gimana apa kamu gak keberatan nganterin kita belanja?” Rehan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
          “Eh jangan, kita pake supir aja. Masa Rehan mulu yang jadi supir kita. Kasihan dia. Nala, Rehankan juga punya temen disini. Sejak dia sampai dia hanya nemenin kamu kemana-mana gak pernah melakukan kegiatannya sendiri. Kasihan dia.” Mama Nala mengelus pundak calon menantunya itu dan tersenyum lembut.
          “Itu karena aku gak mau pisah dengan dia, Ma.” Nala menekuk bibirnya.
          “Tapi kamu gak boleh egois. Udah ayuk.” Tangan Nala ditarik mamanya. Rehan hanya tersenyum melihat tingkah ibu dan anak perempuannya itu.
          Rehan menatap mobil Nala dan mamanya sampai menghilang dari pandangan. Memang sih sejak kedatangannya dia tidak punya waktu untuk kumpul-kumpul bersama temannya. Tapikan ini siang hari, teman-teamannya pasti pada sibuk dengan urusan masing-masing. Lalu terbesit gagasan dibenak Rehan. Sesaat dia tampak ragu-ragu. Tapi dia segera menepisnya.
          Dengan pelan Rehan mengetuk pintu kamar Nada. Tapi tidak ada yang menjawab. Mungkin gadis itu sedang tidur. Dengan hati-hati Rehan membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum lembut ketika melihat Nada sedang tertidur lelap. Dia mengenakan kaos kebesarannya dan celana pendek. Nada tidak pernah berubah. Dialah Nada yang selalu dicintainya. Dialah Nada dalam hidupnya. Rehan menghampiri gadis itu. Dia menyentuh I-Pod Nada dan melihat benda itu memutar lagu I Won’t Let Go milik Rascal Flatts. Rehan kembali tersenyum. Lagu itu juga lagu favoritnya.
          Rehan menatap Nada lekat-lekat. Dia memang sangat mencintai Nada. Tapi sungguh menyakitkan karena Nada tidak membalas perasaannya. Oleh sebab itulah kenapa dia harus segera mengubur perasaannya itu. Tapi entah kapan hal itu bisa terjadi.
          Dengan ragu-ragu Rehan menyentuh rambut Nada. Gadis itu tidak terbangun. Dia masih memejamkan matanya. Rehan kembali menyentuh rambut Nada kali ini dengan lembut. Lalu ia menyentuh wajahnya, dagunya, lalu bibirnya. “Kamu tahu, Nad betapa aku cinta sama kamu.” Rehan tersenyum perih. “I will stand by you. I will help you through. When you’ve done all you can do and you can’t cope. I will dry your eyes. I will fight your fight. I will hold you tight.” Rehan melantunkan lirik I Won’t Let Go tersebut. “But I have to let you go.” Rehan membiarkan air mata membasahi pipinya. “I love you, Nad. I love you.” Rehan tidak bisa menahannya lagi. Jika dia disana lebih lama dia akan memeluk tubuh Nada dan tidak akan membiarkannya pergi, dan jika terjadi maka sama saja itu dengan bencana.
***
          Nada membuka matanya. Sentuhan lembut itu telah menghilang. Dia tahu sentuhan siapa itu. Dia masih mengingat jelas sentuhan Rehan. Tapi dia tidak berani membuka matanya karena dia tidak ingin sentuhan itu berakhir. Air matanya menetes. Dia semakin terisak ketika menyadari Rehan masih mencintainya. Rehan masih menginginkannya.
          Tapi, apa yang bisa dia perbuat? Semuanya sudah terlanjur. Dia tidak mungkin mengungkapkan perasaanya. Tidak jika Rehan akan menikahi kakaknya bulan depan. Hal itu tidak boleh terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Nada membenamkan wajahnya di bantal, menggigit bibirnya sehingga raungan tangisnya tidak sampai kedengaran ke luar kamar.
***
          Nada terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam dinding kamarnya. Dia tidur seharian setelah menangis untuk kesekian kalinya. Nada merenggangkan badannya. Berniat untuk mandi kemudian keluar dari kamarnya.
          Nada sedang menutup pintu kamarnya ketika mendengar suara mamanya dari halaman rumah. Nada segera menghampiri mamanya. “Lo bukannya Nala pergi ama Rehan?” Tanya Nada kepada kakaknya.
          “Tau tuh si Mama pengen jalan-jalan juga kali. Katanya Rehan perlu melakukan kegiatannya sendiri, masa jadi supir kita-kita mulu.” Nala tekekeh. Nada menganggukkan kepalanya. Jadi itu alasan kenapa Rehan berada di kamarnya tadi siang. Dia memang tidak pergi kemana-mana.
          Nada membantu membawa belanjaan mamanya masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Ketika dia masuk dia melihat Rehan sedang duduk di meja makan sambil meletakkan kepalanya di meja. Dengan hati-hati Nada mendekat dan melihat Rehan tertidur. Nada berusah menahan tangannya untuk tidak balas menyentuh wajah Rehan.
          Sambil menghela napasnya, Nada berjalan menuju ke lemari penyimpanan dan mengambil sehelai kain panjang. Kalau dia tidak bisa membangunkan Rehan setidaknya dia bisa menyelimutinya. Dengan senyum simpul Nada kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan tapi langkah itu terhenti ketika ia melihat Nela sedang membelai lembut kepala Rehan dan mengecup keningnya. Rehan terbangun dan dia tersenyum. Nela membisikkan sesuatu di telinganya dan Rehan berjalan mengikutinya sambil menguap.
          Tinggallah Nada di sana. Tangannya menggenggam kain erat hingga telapak tangannya memutih. Apa yang sudah dia lakukan? Apa yang ingin dia lakukan? Jika Nala sampai menangkap basah Nada menyelimuti Rehan pasti akan terjadi kekacauan. Badan Nada bergetar karena tangis. Lagi-lagi dia menggigit bibirnya agar isakan tangisnya tidak sampai di dengar orang rumah. Dia tidak bisa begini terus. Dia tidak bisa berada di rumahnya terus. Dia harus pergi. Dia harus bisa melupakan Rehan. Dia tidak mungkin menghancurkan harapan kakaknya dan juga kedua orang tuanya.
***
          Hari-hari yang dihabiskan Nada di rumahnya bisa dibilang semakin mengerikan. Dia harus menemani kakaknya dan Rehan ke sana ke mari sembari menonton semua kemesraan mereka. Dia senang pulang ke rumah. Dia senang berkupul lagi bersama keluarganya. Tapi setiap kali Rehan muncul kebahagiaan itu segera berbali 360 derajat menjadi penderitaan. Parahnya, kapasitas kehadiran Rehan di rumahnya lebih besar bila dibandingkan dengan ketidakhadirannya.
          “Nada.” Mama Nada duduk di samping anaknya. Nada menatap mamanya sekilas lalu tersenyum simpul. Akhir-akhir ini waktunya hanya dihabiskan dengan melamun. Tidak ada satupun yang bisa mengembalikan semangatnya. Ia seperti hancur setiap detiknya. Entah sampai kapan dia sanggup bertahan dengan kondisi begini. Mama Nada kembali membuka mulutnya setelah memperhatikan anak gadisnya itu beberapa saat. “Apa ada yang kamu pikirkan saat ini, Nak?”
          Nada kembali memandang mamanya lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Seorang ibu selalu bisa membaca isi hati anaknya.”
          Nada kembali tersenyum. “Lalu apa yang bisa Mama baca?”
          “Kamu sedang memikirkan sesuatu. Dan itu benar-benar memakan pikiran dan badanmu.” Wanita itu membalik badan anaknya menghadap ke arahnya. “Ada apa, Nada? Sejak kamu sampai disini tidak sedikitpun kebahagiaan tampak di wajahmu.”
          “Aku bahagia kok, Ma. Aku bahagia dengan kebahagiaan Nala.” Nada kembali tersenyum.
          Wanita itu balas tersenyum lalu membelai rambut anaknya. “Mama tau kamu bahagia jika kakakmu bahagia. Kamu selalu tersenyum dan tertawa melihat tingkah kakakmu. Tapi, Nak mama tau. Apakah hati kamu gak disini?”
          Nada tersentak. “Maksud Mama?”
          “Iyah, apa ada yang tertinggal di Jerman?”
          Nada tertawa. “Aku gak ngerti maksud Mama?”
          Mama Nada menarik nafasnya. “Mama gak tahu masalahnya apa tapi yang jelas Mama yakin kalau ada sesuatu yang kamu pikirkan. Lihatlah dirimu, kamu berantakan. Mama gak tahan melihatnya lebih lama lagi.”
          Nada meremas tangan mamanya. “Menurut Mama cinta itu bagaimana, Ma? Indah atau justru menyeramkan?”
          Mama Nada tersenyum. Setidaknya anaknya mulai mau membuka hatinya. “Tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Menurut kamu gimana?”
          Nada menarik nafasnya. “Selama ini aku selalu menganggap cinta itu indah. Seperti cinta aku sama Mama, Papa, dan Nala. Kalian selalu memberi kebahagiaan sama aku.” Nada tersenyum kepada mamanya. “Tapi aku juga mendapati kalau cinta itu justru menghancurkanku, Ma. Semakin hari aku semakin tersiksa.”
          “Dia ada di Jerman ya?”
          Nada mengernyitkan dahinya. “Jerman?”
          Mama tersenyum. “Ia. Laki-laki itu.”
          Nada tampak berpikir sesaat. Mungkin memang lebih baik kalau mamanya mengira laki-laki yang dicintainya ada di Jerman. “Apa dia tahu bagaimana perasaan kamu?”
          Nada tersenyum kecut. “Kalau dia tahu mungkin kejadiannya akan sedikit lebih simple. Aku gak mungkin memberitahu perasaanku karena ada sedikit halangan yang membuat aku gak bisa melakukannya.”
          “Gak ada yang gak bisa jika kamu mempunyai kehendak untuk melakukannya.” Nada hanya diam. Dia bisa saja mengatakan perasaannya kepada Rehan dan menghancurkan pernikahan Kakaknya. Tapi dia terlalu sayang kepada kakaknya untuk merebut kebahagiannya. “Apa kamu ingin kembali ke Jerman?”
          Nada tersentak. Dia memang ingin kembali ke sana. Sangat ingin. Semakin hari dia di rumah maka semakin hancur hatinya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang tersisa dari dirinya jika harus menunggu hingga pernikahan kakaknya selesai dilaksanakan. “Tapi Nala?”
          Mama Nada menggelengkan kepalanya. “Mama mencintai ke dua anak Mama. Jika Nala bahagia maka kamu juga harus bahagia. Mama gak mungkin mengorbankan salah satu anak Mama demi kebahagiaan anak Mama yang lain. Mama hanya ingin berbuat adil.” Air mata Nada menetes. Dia merasa sangat berdosa karena membohongi mamanya. Tapi apa lagi yang bisa dia lakukan. Wanita itu menghapus air mata anaknya. “Kalau kamu mau pulang ke Jerman, kita bisa mengatur keberangkatan kamu lusa. Nala pasti mengerti. Biar Mama yang bicara kepadanya.”
          Nada menggenggam tangan Mamanya. “Terimakasih, Ma.” Wanita itu tersenyum lalu mengecup kening anaknya. “Mama hanya ingin kamu bahagia. Kamu dan Nala.” Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Nada sendirian. Sepeninggalan mamanya Nada hanya menangis. besok adalah terakhir kalinya dia melihat Rehan sebagai seorang laki-laki lajang. Kelak jika ia bertemu lagi Rehan sudah menjadi suami Nala dan bahkan ayah dari anak-anak yang dilahirkan Nala.
***
          Nada duduk memandang ke arah jendela pesawat. Tatapannya nanar. Dengan ikhlas Nala melepas kepergian Nada. Entah apa yang diceritakan mamanya hingga tiba-tiba Nala menghampirinya dikamar, memeluknya, dan menangis meminta maaf. Nada merasa bersalah karena telah membohongi orang-orang yang dicintainya. Ia juga sempat heran ketika papanya mengelus puncak kepalanya ketika dia akan berangkat, seolah-olah mentransfer semua sisa energi yang dimilikinya kepada anaknya.
          Nada mengedipkan matanya merasakan air mata mengalir dipipinya. Berapa banyak lagi air mata yang harus dia habiskan agar ia bisa melupakan Rehan.
***
          Dengan gusar Rehan duduk di sofa. Nala duduk di sampingnya. “Maafkan Nada ya, Re. Ada masalah yang harus diurusnya sehingga dia harus berangkat secepatnya.”
          “Apa masalah itu lebih penting dari pernikahan kita?” Tanya Rehan sedikit kasar. Sebenarnya bukan itu yang membuatnya gusar. Tapi kenapa Nada harus pergi begitu cepat? Kenapa dia harus meninggalkannya begitu cepat? Membayangkan kelak mereka bertemu dengan status Rehan sebagai suami kakaknya hampir membuat Rehan meledak.
          “Sebenarnya..” Nala menyentuh tangan Rehan dan semua cerita mengalir begitu saja dari mulutnya. Rehan terdiam.
          “Jadi Nada mencintai seseorang di sana?” Tanya Rehan kemudian. Nala menganggukkan kepalanya.
          “Dia hancur, Re. Semakin hari Nada seperti kehilangan semangat hidupnya. Seolah-olah hatinya tertinggal di tempat lain.”
          Rehan diam. Dia memang jarang memperhatikan Nada, walau mereka berhadapan sekalipun. Karena hanya dengan melihat wajah wanita yang dicintainya itu dia seperti akan kehilangan pengendalian dirinya, dia seolah-olah tidak sanggup untuk tidak berlari memeluk erat gadis itu. “Apakah kamu tahu siapa laki-laki itu?”
          Nala menggelengekan kepalanya. “Aku malah gak bakalan tau kalau bukan mama yang cerita ke aku. Aku bukan kakak yang baik ya?” Nala tersenyum sedih kepada Rehan.
          Rehan balas tersenyum dan menyentuh wajah Nala. “Kamu kakak yang baik kok. Sangat baik.” Nala balas tersenyum dan menyandarkan wajahnya di dada Rehan.
          “Aku hanya kasian dengan Nada. Semoga kisah cintanya berakhir bahagia.” Rehan sama sekali tidak mendengarkan perkataan Nala berikutnya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya. Siapakah laki-laki itu? Apakah lebih baik dari dirinya? Kenapa bukan dia saja yang dicintai oleh Nada? Rehan merasakan hatinya semakin hancur berkeping-keping ketika menyadari tidak akan ada lagi harapan baginya.
***
          Sebulan, dua bulan, tiga bulan, Nada berhasil menjalani hidupnya di Jerman. Kembali menjadi mahasiswa, kembali bergaul dengan teman-temannya. Tapi hatinya tidak pernah kembali utuh, tidak pernah kembali seperti dulu ketika menyadari perasaannya kepada Rehan. Kepingan hatinya yang telah hilang belum kembali dan lukanya sama sekali belum sembuh.
          Tidak ada kabar dari keluarganya setelah pernikah kakaknya dan Rehan. Mungkin mereka terlalu sibuk bahagia. Nala dan Rehan juga mungkin sedang sibuk mengatur rencana bulan madu mereka, mengatur barang-barang di rumah baru mereka. Mereka pasti akan menjadi keluarga yang bahagia.
          Nada tersenyum simpul. Dari balik kaca sebuah café dia memandangi jalan raya yang sedang tergenang oleh air. Hujan menetes membasahi, mengotori sepatu para pekerja yang paginya telah disemir mengkilat, membuat para pejalan kaki repot dengan payung dan jas hujan mereka, membuat para wanita resah dengan tampilan mereka yang akan rusak karena ditetesi air hujan.
          Nada tersentak ketika menyadari siluet yang sedang berdiri di sebrang jalan. Air hujan membasahinya tapi ia tak peduli. Tanpa berpikir panjang Nada mengambil payungnya dan berlari ke luar café ke arah dimana seseorang itu sedang berdiri dan menatapnya.
          “Astaga Nala, apa yang kamu lakukan disini.” Nada menghampiri kakaknya dan memayunginya. Nala tersenyum.
          “Aku hanya mencari adikku. Ingin menemuinya.”
          Nada menarik tangan kakaknya membawanya masuk ke dalam café. “Darimana kamu tahu aku disini?” Tanya Nada. Menyuruh kakaknya duduk dan memesankan secangkir kopi buatnya.
          “Tadi aku ke asrama trus ketemu sama temen kamu. Katanya kalo lagi gak ada kuliah kamu sering menghabiskan waktu kamu disini. Beruntung sekali aku melihatmu dari balik kaca ini, kalau tidak aku pasti nyasar.” Nala terkekeh.
          Nada memandang kakaknya. Ada yang aneh dari kakaknya. Nala tertawa dan tersenyum tetapi matanya tidak demikian. Ada kesedihan tercermin disana. “Kenapa kamu tiba-tiba datang ke Jerman dan gak ngabarin aku sama sekali? Akukan bisa jemput ke bandara dan kamu tidak perlu sampai kehujanan begini.”
          Nala kembali tertawa. “Aku gak mau merepotkan adikku yang sedang sibuk dengan lamunannya.” Nala diam. “Apa yang sedang kamu lamunkan? Daritadi aku perhatikan kamu sangat menikmati lamunanmu.”
          Nada mengangkat bahunya. “Hanya memikirkan soal kuliah. Gimana kabar mama dan papa?”
          “Baik.” Jawab Nala. “Kenapa kamu gak bertanya soal Rehan.”
          Nada terkesiap lalu dengan segera mengganti kekagetannya dengan tawa gugup. “Aku tanyain mama sama papa dulu donk, baru suami kamu. Jadi, apa kabar Rehan, gimana bulan madu kalian?” Tanya Nada.
          Nala diam lalu ia menarik nafasnya berat. “Entah siapa yang bodoh sebenarnya di antara kita semua. Entah siapa yang merasa paling sakit.” Nada mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan kakaknya. “Kami tidak jadi menikah.” Seolah ada petir menyambar Nada terdiam kaku. Ia menatap lurus ke dalam mata kakaknya berharap menemukan semacam kebohongan yang dikarang oleh kakaknya. Tapi yang ada disana hanya tatapan sedih dan penderitaan yang teramat dalam. Nala kembali tersenyum. “Rehan mengakui semuanya tepat tiga hari sebelum pernikahan. Mengakui bagaimana perasaannya yang sebenarnya di depan keluarga kita dan keluarganya.” Nala meghirup kopinya. “Kamu gak bakalan bisa bayangin gimana marahnya mama dan papanya. Malam itu seolah-olah lokasi neraka pindah ke rumah kita.” Nala terkekeh.
          Nada menggenggam erat meja. Jari-jarinya memutih. Kenapa Rehan melakukan perbuatan bodoh seperti itu. “Rehan gak bisa disalahin.” Nala menatap adiknya tajam. “Yah walaupun dalam beberapa hal dia salah sih. Tapi selama 3 bulan ini dia berusaha menebusnya.”
          “Kenapa gak ada yang cerita sama aku?” Tanya Nada kemudian. Mulutnya kering tapi ia berusaha sekuat tenaga melontarkan pertanyaan itu.
          “Karena semua ini ada kaitannya dengan kamu. Karena aku masih terlalu sakit untuk mengatakan pernikahan ini gagal karena kamu, karena adikku sendiri.” Nada merasa hatinya ditikam dengan timah panas mendengar kalimat kakaknya. “Aku ingin mengobati hatiku dulu baru aku akan menemui kamu langsung, mengatakan semuanya, dan meminta konfirmasi tentang sesuatu hal.” Nala kembali menatap Nada tepat dimatanya mencari-cari kejujuran disana. “Apakah laki-laki yang kamu cintai itu Rehan?”
          Nada diam. Nala mendesah, letih dengan semua kepura-puraan adiknya. “Akuilah. Cukup sudah semua kebohongan ini, Nada. Apa tidak pernah terpikir dibenak kamu kalau kita akan menghancurkan keluarga kita dengan pernikahan ini.”
          “Tapi, aku tidak ingin menghancurkan keluarga kita. Aku ingin kamu bahagian.”
          “Tapi kamu melakukannya, Nada. Kamu pergi bahkan sebelum acara pernikahanku dilakukan, kamu tidak tahu bagaiman risaunya mama, gimana semua urusan pernikahan terbengkalai sejak kamu meninggalkan rumah. Sedangkan kamu disini bisa duduk santai di sini sambil memandangi jalan raya. Apa yang kamu pikirkan?”
          “Aku….” Air mata Nada menetes. “Aku ingin kamu bahagia.”
          “Tapi kamu membuat aku sengsara.”
          “Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Suara Nada meninggi. “Apa harus aku katakan kalau aku mencintai Rehan lalu menghancurkan acara pernikahan kalian, melihatmu menangis. melihat keluarga kita, mama dan papa remuk hatinya, mengetahui acara pernikahan anak tertuanya gagal karena adiknya mencintai calon suaminya. Apa yang harus aku lakukan, Nala? Apa? Katakana sama aku, kalau kamu jadi aku apa yang aku lakukan?” Sambil terisak Nada menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Aku lelah dengan perasaan ini. Aku ingin perasaan ini hilang tapi aku tidak bisa melakukannya. Rasa ini mengikis hatiku sedikit demi sedikit, aku tidak tahu apakah nanti aku masih akan mempuanyai hati untuk mencintai lagi atau tidak.”
          “Kalau aku jadi kamu aku akan mengatakan semuanya kepada Rehan. Mengakui perasaan dan kesalahanku karena meninggalkan dia. Aku akan mengatakan semuanya. Mengakui semuanya.”
          “Bagaimana aku harus mengakui semuanya, ketika aku merasa bahwa aku gak pantas untuk mendapat cintanya lagi. Ketika aku merasa kalau dia membenci aku. Ketika aku merasa perasaannya kepadaku sudah berubah menjadi benci. Bagaimana aku harus mengakuinya?” Nada mengelap air matanya yang jatuh. “Aku bahkan tidak tahu siapa calon tunanganmu sebelum aku sampai ke rumah. Sebelum aku menginjakkan rumah dan mengetahui bahwa Rehanlah laki-laki itu. Aku salah, Nala aku akui itu, aku salah karena menghancurkan hati seseorang yang telah tulus mencintaiku, tapi percayalah aku sedang menjalani hukumannya saat ini.”
          Nala menatap adiknya penuh iba. Sebenarnya dia tau kalau Nada sedang tersiksa. Sangat tersiksa. Ketika dia melihat Nada yang lincah tiba-tiba menjadi lesu, badannya semakin kurus, tersenyum tapi matanya tidaka pernah tersenyum, Nada tahu kalau adiknya sedang menyimpan beban yang sangat berat, dilemma yang sangat berat. Memilih antara hati atau keluarga. Dan Nada memilih keluarganya dan menghancurkan hatinya. Tapi dia sama sekali tidah mengerti kalau Nala juga tidak ingin menghancurkan hati keluarganya, dan Nada adalah keluarganya, adiknya yang sangat disayanginya. “Nada, kamu tahu aku sangat menyayangimu, mama dan papa juga. Aku tidak ingin kamu menderita sementara aku berbahagia di atas penderitaanmu. Rehan tidak mencintaiku dan pada akhirnya aku pun juga tidak akan pernah hidup bahagian jika aku mengetahui itu. Untung saja Rehan mengakui semuanya menjelang pernikahan kami.“ Nala menarik nafasnya. Dia harus menyelesaikan semuanya. “Pulanglanh, Nad. Mari kita perbaiki semuanya. Kamu harus memperbaiki semuanya. Rehan mencintai kamu.”
          “Bagaimana aku harus pulang, bagaimana aku harus menghadapi mama dan papa, dan keluarga Rehan. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa.”
          “Bagaimana kalau aku bilang saat ini Rehan ada di rumah sakit dengan kondisi tidak sadarkan diri. Tiap hari hanya namamu yang terucap dimulutnya. Kamu hancur, Nad tapi percayalah Rehan juga tidak kalah hancur, berantakan, berkeping-keping.”
          Nada ternganga. “Apa yang terjadi sama Rehan? Kenapa dia sampai ada di rumah sakit?” Mengetahui Rehan menderita membuat dirinya lebih menderita.
          Nala mendesah. “Banyak yang terjadi selama tiga bulan ini, Nad. Setelah pembatalan pernikahan kami semuanya seperti hancur berantakan. Papa Rehan yang merasa dipermalukan menghukum Rehan dengan tidak mau menegur dan menatap wajahnya. Berkali-kali Rehan memohon maaf tapi papanya terlalu sakit dengan kebohongan anak yang dibanggakannya. Sebenarnya mama dan papa kita tidak mempermasalahkan pembatalan ini, walaupun mereka tetap kecewa. Tapi mereka mempertimbangkan dirimu, mengjhawatirkan dirimu, apa yang terjadi dengan hatimu jika pernikahan ini terjadi. Dan aku, aku tidak kalah hancurnya. Aku akui, hari demi hari aku semakin mencintai Rehan. Tapi aku sadar kalau cinta Rehan bukan untukku, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya rumah tangga kami jika pernikahan tetap kami lanjutkan. Sampai pada akhirnya aku bisa menghargai kejujuran Rehan dan menyadari bahwa cintamu kepada Rehan begitu besar.” Nala menyentuh tangan adiknya dan menggenggamnya. “Kamu sangat mencintai Rehan sampai kamu hancur seperti ini. Lihatlah dirimu, kamu kurus, mata kamu sayu, wajahmu tidak ceria seperti dulu. Aku sempat bertanya tentang bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini kepada teman-temanmu dan apa yang mereka katakan sesuai dengan bayanganku. Kamu berubah, berubah total.” Nada menundukkan kepalanya. “Kembali ke Rehan, semuanya kembali membaik ketika papa mencoba berbicara dengan papanya Rehan sampai akhirnya Papa Rehan mau memaafkan Rehan. Tapi mereka menuntut Rehan itu membawamu kembali, mengatakan kepada Rehan bahwa kamu juga mencintainya, berusaha untuk meyakinkan Rehan. Sampai sebulan setelah pembatalan acara pernikahan itu Rehan memutuskan untuk terbang ke Jerman, berusaha untuk menemui kamu. Tapi saat dia datang, dia melihatmu bersama seorang laki-laki.”
          Nada tersentak. Sebulan yang lalu dia sedang bersama laki-laki? Nada berusaha mengingat-ngingat siapa laki-laki itu. Nada menutup mulutnya ketika menyadari siapa laki-laki yang dimaksud kakaknya, “Dia Joseph teman sekelasku dikampus.” Nada membuka mulutnya walaupun lidahnya kelu. “Sebulan yang lalu kami memang mengadakan acara kejutan untuk teman sekamarku, Ann. Joseph punya sebuah café dan saat itu kami sedang menyiapkan acara kejutan untuk Ann. Saat itu kami tidak hanya berdua. Tapi saat itu aku memang banyak membantu Joseph untuk membereskan daerah luar café, sementara teman-teman yang lain sibuk di dalam menata ruangan. Joseph laki-laki yang baik, dia juga lucu, dia membuatku tertawa hari itu. Aku memang melupakan kesedihanku.” Nada diam sejenak. “Tapi dia menyukai Ann. Itulah kenapa dia bela-belain mengadakan acara kejutan untuk Ann, karena dia ingin menyatakan perasaanya, karena itulah aku dan teman-temanku memutuskan untuk membantu.”
          Nala menutup mulut dengan tangannya. Shock, kaget, tergambar di wajahnya. “Jadi Rehan salah sangka? Dia memang langsung pulang esok harinya. Mengurungkan niatnya untuk menemuimu, memutuskan untuk mulai melupakanmu. Lalu, keadaan yang aku kira bisa membaik kembali memburuk. Sepulang Rehan ke Indonesia, dia semakin terpuruk, di depan keluarga dia berusaha bersikap dewasa, menyembunyikan kesedihannya. Tapi ternyata kesedihan dan penyeselan menggerogoti dirinya. Hingga pada suatu hari dia harus berada di antara hidup dan mati ketika mobil yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah truk. Sejak itu dia tidak pernah membuka matanya, hanya nama kamu yang disebutnya. Hampir dua bulan ini kami hanya menunggui rumah sakit, mendengar desahan namamu di setiap suara lirih yang dikeluarkannya. Aku memutuskan untuk datang kesini, memintamu untuk mengembalikan Rehan, memberikan cinta yang memang seharusnya miliknya. Pulanglah, Nad. Temuin mama dan papa, mereka benar-benar mengkhawatirkan kamu, selama ini kami berusaha tidak menelpon kamu karena kami tidak ingin menambah peneritaanmu, sementara kami mengira kamu telah menemukan pengganti Rehan. Tapi kami tidak bisa lama-lama berdiam diri. Mama ingin kamu bahagia tapi dia juga gak bisa mengorbankan kebahagiaan orang lain. Setiap orang berhak bahagia.”
          “Tapi..”
          “Hanya untuk sementara. Kamu bisa meminta izin untuk beberapa hari. Setelah itu kamu bisa kembali pulang. Aku yakin Rehan pasti akan segera sadar jika mendengar suaramu. Dan kamu mencintainya, Nada, katakanlah. Setidaknya ada yang merasa bahagia diantara kita. Jika salah satu dari kita bahagia maka yang lain juga akan bahagia. Rehan akan bahagia dan keluarganya juga akan bahagia. Kebahagiaanmu berarti banyak buat orang lain. Aku juga akan bahagia dengan kebahagiaanmu.”
          “Tapi kamu..”
          Nala tertawa. “Jangaan khawatirkan kebahagiaanku, sudah sepantasnya sebagai seorang kakak aku berkorban untuk adikku. Lagian Rehan mencintai kamu, bukan aku. Aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Selama ini aku berusaha menyembuhkan hatiku dan aku bersumpah hatiku sembuh dari hari ke hari, taapi tidak dengan hatimu. Aku pasti akan menemukan seseorang suatu saat nanti.” Nala menarik tangan adiknya. “Sekarang kamu pulang, bereskan barang-barangmu. Aku sudah bertanya kepada teman-teman kamu. Kamu tidak terlalu sibuk dengan kuliah kamu saat ini. Kamu cukup pintar untuk menyelesaikan semua mata kuliah kamu.” Nala tersenyum. “Mari kita selesaikan semuanya.”
***
          Nada duduk termangu. Dihadapannya sedang terbaring laki-laki yang dicintainya selama ini. Laki-laki yang telah membuat hatinya begitu menderita. Laki-laki yang seharusnya dihampirinya bukannya malah ditinggalkan. Dia terlalu malu untuk mengakui perasaannya, terlalu untuk mengetahui bagaimana perasaan Rehan. Dan ketika dia mengetahui laki-laki ini ternyata masih mencintainya, dia merasa semuanya terlambat. Tapi, mungkin semuanya belum terlambat. Dia kembali diberi kesempatan untu memperbaiki ini semua dan dia tidak akan menyia-nyiakannya. Keluarganya dan keluarga Rehan telah memberinya kesempatan, telah membuka jalan untuknya melangkah, memberinya harapan untuk menyembuhkan dan menemukan kepingan hatinya yang hilang dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
          Nada menyentuh tangan Rehan dengan lembut. Meraba jari-jarinya. Dulu saat mereka masih berteman dekat, mereka sering berpegangan tangan seperti itu. Rehan selalu menggenggam tangannya erat ketika menyebrang jalan, selalu menggenggam tangannya erat untuk menguatkannya ketika dia sedang mengalami masalah. Semuanya itu terasa lama sekali telah berlalu. Ia sadari bahwa betapa rindunya dia menggenggam tangan laki-laki ini.
          “Rehan…” Nadia merendahkan kepalanya dan berbisik tepat di telinga Rehan. Sudah beberapa hari kegiatan ini menjadi agenda rutin Nada, bercakap-cakap dengan Rehan yang sedang terlelap. Belum ada hasil, tapi Nada masih pantang menyerah. “Rehan..” Sekali lagi Nada memanggil nama Rehan, “Aku tidak punya banyak waktu untuk menemani kamu. Aku masih punya kewajiban di tempat lain.” Nada mengelus rambut Rehan. “Aku cinta sama kamu. Maafkan aku, karena aku kamu begini. Maafkan aku karena ketidakjujuranku.” Nada diam sejenak. Menunggu apakah Rehan bereaksi atau tidak. “Laki-laki yang kamu lihat itu bukan siapa-siapa. Kamu harus sadar dulu nanti aku ceritakan semuanya.” Nada tersenyum. “Cuma ada kamu. Cuma ada kamu di hatiku.” Nada menggigit bibirnya menahan tangis.
          “Nad..” Nada mengalihkan tatapannya ketika ada yang menyentuh pundaknya. Dia tersenyum ketika melihat Nala berdiri di belakangnya. “Nih, makan dulu. Ngomong juga perlu tenaga.”
          Nada membalikkan badannya dan menerima bungkusan yang dibawa kakaknya. “Bagaimana, ada perubahan??” Tanya kakaknya. Nada menggelengkan kepalanya. “Sabar ya.. pasti akan nada perkembangan.”
          “Aku sih bisa aja sabar, tapi aku harus balik ke Jerman. Kuliahku masa aku biarin terbengkalai.” Nada menundukkan kepalanya. “Kira-kira…” Kalimat Nada terputus ketika ia melihat tatapan kaget kakaknya.
          “Nal… “ Nada memanggil nama kakakknya. “Kamu kenapa sih, tampangnya kok kaya gitu?”
Nala mengedipkan matanya. Masih dengan tampang kagetnya. “Ini perasaan aku aja atau beneran yah. Tadi aku lihat kelopak mata Rehan bergerak.”
          Dengan secepat kilat Nada membalik badannya dan menundukkan badannya. “Masa sih, perasaan kamu aja. Dia…. “ Nada tersentak kaget ketika melihat kelopak mata Rehan kembali bergerak.
          “Benerkan bener… astaga… benerkan…” Nala melompat kegirangan. “Kelopak matanya bergerak.”
          Nada tidak mengacuhkan kakaknya. Dia hanya memandangi wajah Rehan. Kaget membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dengan perlahan tapi pasti Rehan mulai membuka matanya. Terlihat sepasang bola mata coklatnya disana, “Aku… mimpi.. kamu.. bilang… cinta… sama… aku.” Rehan membuka mulutnya terbata-bata.
          Air mata membanjiri wajah Nada. Dia menganggukkan kepalanya cepat-cepat. Takut ini semua mimpi. Takut dia akan terbangun dan kembali menemukan Rehan masi terbaring dengan mata tertutup. “Bukan mimpi, aku bener-bener cinta sama kamu.”
          Rehan diam. “Baguslah..” Jawabnya sambil terbata. “Kalau ternyata… hanya mimpi.. aku.. berencana.. untuk.. tidur lagi.”
          Nada tertawa disela tangisannya. “Tidak ada mimpi. Ini semua nyata. Aku, kamu, kita berdua, itu semua nyata.” Nada menyentuh pipi Rehan. “Nyatakan? Jadi kamu harus sadar terus supaya aku bisa kembali melanjutkan kuliah aku dengan tenang.” Nada kembali tertawa, Nalapun ikut tertawa. Nala segera mengambil ponselnya dan mengabarkan berita gembira ini kepada ke dua orang tuanya dan orang tua Rehan.
***
          Nada sedang berdiri di bagian kedatangan. Sudah beberapa bulan dia kembali ke Jerman dan kembali ke kehidupan kuliahnya. Hidupnya telah kembali seutuhnya. Hatinya kembali sembuh, dan dia kembali bisa menjalani harinya dengan senyum. Tidak ada lagi kebohongan.
          Nada telah ditinggalkan oleh cintanya sekali dan masih diberikan kesempatan untuk kembali menemukan dan dia berjanji untuk menjaganya sebaik mungkin. Tuhan masih sayang kepadanya sehingga dia masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
          Hari ini Rehan tiba di Jerman. Ia berhasil mendapatkan izin untuk dipindahkan ke perusahaan yang ada di Jerman. Butuh waktu dan usaha keras, tapi usaha itu akhirnya menemukan jalannya.
          Senyum mengembang dari bibir Nada ketika melihat orang yang ditunggunya muncul di hadapannya. Dia tersenyum dan segera menghampiri Rehan, menenggelamkan kepalanya di dada Rehan, memeluk Rehan dengan erat. Memeluk cintanya sepenuh hati
***


@36rd
www.milikun.blogspot.com
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: