Cerpen Cinta: IBUKU, RIVALKU

Bersama Sukses
IBUKU, RIVALKU
 oleh: Dian Meilyani
Cerpen Cinta
          Sebuah mobil Honda Jazz silver berhenti di depan gerbang sebuah SMU. Gischa mencium tangan mamanya dan membuka pintu mobilnya.
          “Gischa, nanti pulangan sekolah kita makan siang di luar, yuk! Kebetulan mama nggak lagi sibuk.”
          “Really?! Thanks, mom!” seru Gischa sambil memeluk mamanya, lalu keluar dari mobil dan menutup pintunya.
          Sejak papa Gischa meninggal lima tahun yang lalu, mamanya selalu sibuk bekerja. Jarang-jarang mamanya di rumah, apalagi ngajak makan bareng. Makanya, saat mama ngajak dia makan bareng di luar, Gischa jingkrak-jingkrak kegirangan.
          Gischa tahu, mamanya kesepian sejak di tinggal pergi oleh papanya. Pernah Gischa menawarkan Pak Cahyo, guru fisikanya yang masih single, untuk jadi papa barunya. Tapi mama menolak dengan alasan masih belum bisa melupakan papa. Mama memang wanita yang setia.
          Walau sudah memiliki anak yang berusia 17 tahun, mama Gischa masih tampak muda dan cantik. Tak heran banyak lelaki yang tertarik padanya. Gossip miring pun banyak menimpanya. Ada yang bilang dia suka merebut suami orang, suka kumpul kebo, bahkan suka ‘daun muda’. Gischa tentu tidak terima jika ia mendengar ada orang yang menghina mamanya seperti ini. Terkadang ia berkelahi dengan teman-temannya yang suka menyebarkan gossip tentang mamanya.
          “Eh, lihat tuh, nyokapnya Gischa cantik, ya,” bisik Anya.
          “Tahu,nggak, nyokapnya Gischa itu lagi ngincer cowok-cowok di sekolah ini, makanya akhir-akhir ini dia selalu ngantar jemput Gischa. Padahal rumahnya kan enggak jauh-jauh amat,” kata Tyas
          “Wah, kita harus jaga pacar kita, nih. Biar nggak direbut ama tante girang itu. Hahaha…” Suara Gita sengaja dibesarkan supaya didengar oleh Gischa.
          “Heh, tutup mulut kalian! Mama gue bukan orang seperti itu! Sekali lagi gue dengar kalian jelek-jelekin mama gue, gue robek mulut kalian!” seru Gischa.
          “Gis, gue denger nyokap lo lagi nyari daun muda, ya? Kalo gitu, gue bersedia jadi papa tiri lo,” kata Boy.
          Gischa tak kuasa menahan air matanya. Ia berlari dan tak sengaja menubruk Erfan, pacarnya, di koridor.
          “Kamu kenapa, Gis? Kok kamu menangis? Ada yang ngejahatin kamu?” tanya Erfan dengan penuh kekhawatiran, namun Gischa diam saja dan terus terisak.
          “Hm…pasti mereka menggosip yang enggak benar tentang mamamu lagi, ya?” Erfan menebak.
          Gischa mengangguk. Ia senang karena Erfan selalu mengerti apa yang ia alami.
          “Kamu tenang aja. Itu kan Cuma gossip murahan buatan mereka aja. Jangan diambil hati,” kata Erfan menenangkan.
          “Tapi aku nggak rela mamaku dihina terus.”
          “Aku ngerti perasaan kamu. Aku juga pasti nggak rela juga kalau orang tuaku di hina seperti itu. Udah, ya, jangan nangis,” Erfan memeluk dan mengusap punggung Gischa untuk menenangkan gadis itu, kemudian mengusap air mata yang bergulir pipi Gischa dengan lembut.
          Gischa sangat bersyukur memiliki pacar yang baik banget. Mereka sudah berpacaran sekitar dua tahun lebih. Erfan menembaknya dengan cara yang sangat romantis. Di tengah lapangan ada ratusan kuntum bunga mawar putih yang dirangkai dengan sangat indah. Lalu ada memo kecil bertuliskan, “Di sini ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan kuntum bunga mawar putih. Bunga yang ke seribu ada di kelas, di meja kamu…”
          Segera Gischa ke kelas dan menemukan cermin besar tergeletak di mejanya. Di cermin itu ada tulisan dari lipstick, “Kamulah bungaku…” Lalu Erfan datang dan memberikan sekuntum mawar putih.
          “Beribu mawar putih tak seindah dirimu. Maukah kamu menjadi bungaku yang tak pernah layu?”
          Ooow… so romantic…
***

          “Oh, ya, ntar siang kamu ada acara, enggak?” tanya Gischa ketika mereka sedang berjalan ke kelas.
          “Nggak ada, kenapa?”
          “Makan siang bareng, yuk. Aku mau ngenalin kamu ke mamaku. Jarang-jarang, loh, dia punya waktu luang. Kamu bisa, kan?”
          “Wah, boleh juga nih”
          Siangnya, di Sea Food Restaurant…
          “Ma, kenalin, ini Erfan, Pacar Gischa,” kata Gischa memperkenalkan Erfan.
          “Oh… ini toh, cowok yang sering kamu ceritakan itu.” kata mama.
          “Erfan.” Erfan mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
          “Fara.” Mama Gischa menjabat tangan tangan Erfan.
          Mereka ngobrol lama. Mama Gischa dan Erfan cepat akrab. Gischa senang melihat keakraban mereka. Kayaknya bakal direstui nih, pikir Gischa.
          Usai makan siang, Gischa ikut mamanya pulang. Di perjalanan, mereka membicarakan tentang Erfan.
          “Erfan itu anak yang baik, ya. Ganteng, lagi. Anak Mama pinter deh cari cowok, kayak mamanya. Hehehe…”
          “Ah, Mama bisa aja.”
          “Bener, lho. Mama suka sama dia. Kapan-kapan ajak dia main ke rumah, ya.”
***

          Erfan dan Mama Gischa semakin hari semakin akrab. Hampir tiap hari Erfan ke rumah Gischa, saat ada Gischa, maupuan saat Gischa tak ada di rumah. Bahkan terkadang mereka keluar untuk makan bersama dan jalan-jalan. Ini bukan sekedar jalan-jalan biasa, antara calon menantu dengan calon mertua. Terkadang mereka bergandengan tangan dengan sangat mesra. Pandangan mereka pun seperti sedang memandang kekasih. Orang-orang yang melihat mereka mengira ada tante-tante yang memacari brondong.
          Tetapi dugaaan orang-orang itu memang benar. Akhirnya kebersamaan ini lama kelamaan menumbuhkan benih cinta yang kemudian mekar menjadi bunga cinta. Tanpa sepengetahuan Gischa, Erfan dan Fara (mamanya Gischa), berpacaran. Memang aneh hubungan percintaan mereka, tapi inilah kenyataannya.
          Sungguh tega mereka mengkhianati Gischa. Betapa kecewanya Gischa bila tahu bahwa pacarnya selingkuh dengan mamanya sendiri. Betapa sedihnya Gischa jika tahu bahwa mamanya sendiri telah menjadi rival cintanya.
***
          Gischa merasa sangat aneh melihat kebiasaan mamanya. Akhir-akhir ini mama sering pulang telat. Katanya sih, banyak meeting. Tak hanya itu, Gischa juga merasakan keanehan pada diri Erfan. Ia tak seromantis dulu, suka mengingkar janji, sering membatalkan kencan, bahkan malam minggu pun mereka tidak bersama lagi. Lebih anehnya lagi, kalau Erfan membatalkan janjinya karena sebuah alasan, mama juga tidak ada di rumah. Apakah ini hanya sekedar kebetulan?
          Segala sesuatu yang dirahasiakan pasti akan terbongkar. Malam minggu ini seharusnya jadwal kencan Erfan dengan Gischa, namun tiba-tiba cowok itu membatalkannya dengan alasan mengantar papanya ke dokter. Pada saat yang sama, mama Gischa akan pergi meeting di kantor, katanya. Saat mamanya pergi, Gischa mengikutinya dari belakang.
          Rupanya mama tidak ke kantor, melainkan ke hotel. Apakah meetingnya pindah di hotel? Gischa terus mengikuti gerak-gerik mamanya, seperti seorang detektif. Setelah berbicara pada receptionist, mama berjalan menuju sebuah kamar. Pintu kamar itu terbuka. Betapa terkejutnya Gischa akan apa yang dilihatnya. Erfan yang membuka pintu kamar itu, mereka berciuman dan masuk ke kamar itu. Gischa membuka pintu dan menangkap basah mama sedang  bercumbu di kamar itu bersama pacarnya.
          “Mama?! Erfan?! Apa yang kalian lakukan?! Kenapa jadi begini? Tidak, ini pasti mimpi!” teriak Gischa histeris.
          “Gischa, mama…” Mama yang terkejut karena perbuatannya ketahuan oleh anaknya, ingin memberi penjelasan, namun terpotong oleh Gischa.
          “Diam! Kau bukan mamaku! Mamaku nggak memalukan seperti ini. dia bukan wanita murahan seperti kau! Mamaku sudah mati!”
          Gischa pergi dari tempat itu. Di luar sedang hujan, namun ia tak peduli. Ia berlari dan terus berlari. Ia merasa dikhianati dan disakiti. Siapa juga yang tahan melihat pacarnya selingkuh dengan mamanya sendiri? Ternyata benar gosip teman-temannya selama ini, bahwa mamanya mengincar brondong, bahkan merebut pacar anaknya sendiri.
          “Dasar orang tua yang nggak tahu diri!!! Nggak tahu malu!!!” Gischa berteriak di tengah jalan. Semua orang yang lewat di jalan itu melihatnya, tapi ia tak peduli dengan pandangan orang-orang itu.
          Gischa pulang, mengemasi baju-bajunya, kemudian kabur dari rumah. Ia tidak mau tinggal bersama mamanya lagi. Gischa tak menyangka, kenapa mamanya tega mengkhianatinya. Mamanya telah menjadi rival cintanya. Ia begitu membenci mamanya.
***

          Fara sangat merasa bersalah dan terus mencari anaknya, Gischa. Erfan juga membantu mencari Gischa di mana-mana, namun tidak ketemu.
          Suatu hari, Fara mengalami kecelakaan saat mencari Gischa. Saat itu, Erfan baru mendapat kabar bahwa Gischa tinggal di rumah tantenya di Bandung. Erfan bergegas ke rumah itu untuk menjemput Gischa sekalian memberitahukan keadaan mamanya.
          “Mau apa lagi kamu ke sini? Belum puas menyakiti hatiku? Aku nggak mau lagi ketemu kamu. Pergi…!!!” Usir Gischa.
          “Cha, kamu boleh membenciku sesuka hatimu. Bahkan kamu boleh membunuhku kalau kamu mau. Tapi kamu jangan membenci mamamu. Bagaimanapun juga ia adalah ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu sekarang ia sedang sekarat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan ketika mencarimu. Ia ingin bertemu denganmu dan meminta maaf. Kalau kamu benar-benar sayang mamamu, ikut aku ke Jakarta sekarang.”
          Mamanya memang telah menyakiti hatinya. Tapi benar kata Erfan, bagaimanapun juga, ia adalah mama yang melahirkannya dan membesarkannya dengan kasih sayang. Ia segera ke rumah sakit bersama Erfan untuk menjenguk mamanya. Ia juga ingin minta maaf karena sudah membuat mamanya khawatir, tapi semuanya sudah terlambat.
          Semenit sebelum Gischa menginjakan kakinya di rumah sakit, mamanya sudah meninggal dunia. Dengan penuh penyesalan, Gischa berbisik di samping mayat ibunya…”Maaf, Ma…”

THE END
==========================================================
Nama : Dian Meilyani
Blog : ann-fdlove.blogspot.com
Baca juga cerpen lainnya karya  Dian Meilyani, dalam Cerpen cinta: Dua Cincin dan Cerpen Persahabatan: Best Friends vs Girlfriend..
==========================================================
Ditulis oleh Lukas Gentara

Masukkan email kamu untuk mendapatkan update artikel terbaru:

Delivered by FeedBurner

3 komentar untuk "Cerpen Cinta: IBUKU, RIVALKU"