Cerpen Cinta: TERLALU PAHIT PENGKHIANATAN ITU !!!

TERLALU PAHIT PENGKHIANATAN ITU !!!

          Perkuliahan hari ini cukup melelahkan, aku dan Sinta menuju kantin kampus untuk mengisi perut kami yang sudah mulai keroncongan. Sinta adalah sahabat dekatku dari SMP. Kami berada pada satu lembaga pendidikan yang sama mulai dari SMP sampai di bangku kuliah ini dengan mengambil jurusan yang sama pula, jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) disalah satu perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal di kota kami. Dan aku sendiri, namaku Nadiea tapi Sinta memanggilku dengan panggilan sayang “Dee”. Sinta datang dengan membawa nampan berisi dua mangkuk soto, dua gelas es teh besar dan tak ketinggalan kecap serta sambal. Uukh cacing-cacing di perut q semakin brontak..hehehe. Sambil makan kami berbincang.
           “Sin, tau gag besok Mas Eza mau pulang ke Salatiga” bercerita dengan penuh semangat,
          “Oh ya? Trus rencana kamu mau jemput dia gag Dee?” tanya Sinta,
          “Iya donk Sin, aku kan dah kangen banget ma dia, gag sabar liat dia yang sekarang” jawabku sambil membersihkan sisa makanan dimulutku dengan tissue,
          “Moga lancar ya Dee” memberi semangat dengan senyumnya yang khas.
          “Siiip..., makasih ya buat doanya”.

Kak Eza adalah lelaki yang selama 3 tahun ini mengisi hatiku, dia cinta pertamaku. Kami menjalin hubungan saat aku duduk di kelas 1 dan Kak Eza duduk di kelas 2 SMA semester kedua, namun kami berbeda sekolah. Aku mengenal Kak Eza dari salah satu temanku yang kebetulan satu sekolah dengan Kak Eza. Setelah lulus dari SMA Kak Eza memilih masuk ke Akademi Militer. Itu artinya dia harus menempuh pendidikan di luar kota selama 1 tahun dan aku tak akan bertemu dengannya selama dia menjalani masa pendidikan. Hubungan kami berjalan dengan baik, saat menjalani masa karatina dalam seminggu sekali dia meneleponku untuk menanyakan kabarku dan melepas kerinduan kami berdua. Waktu berjalan cepat, setahun sudah Kak Eza menjalani masa pendidikannya, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.

@@@

          Kuiringi langkahmu, sampai keujung jalan ...
          Terdengar nada panggil dari hanphoneku *vierra-kepergianmu* salah satu lagu favoritku. Dengan mata yang masih mengejap dan tangan q meraba-raba mencari Hpku yang aku letakkan ditempat tidur. Dilayar Hp terlihat panggilan masuk dari Ezaku sayank. Segera ku angkat panggilan darinya dan mengangkat tubuhku walaupun masih terduduk di atas tempat tidur dengan selimut yang masih menutup sebagian tubuhku.
          “Assalamu’aliakum, selamat pagi Princess ku?” itulah kalimat sapaan sayang yang selalu terlontar dari bibir manis Kak Eza, aku ingin selalu, selalu dan selalu mendengarnya,
          “Wa’alaikumsalam Prince Zaza ku” aku menjawab dengan manja,
          “Sayank nanti jadikan jemput aku dihalte?” tanya Eza,
          “Iya sayank, pasti ku jemput kamu. Aku dah kangen banget ma kamu”
          “Aku juga sayank, nanti kira-kira aku sampai jam 10. Udah dulu ya ada panggilan masuk ni…bye…muach” tuuut…tuuut…tuuuut.

          Belum sempat menanyakan siapa yang menelepon dan membalas ciumannya telepon sudah terputus. Hemb ya sudahlah, aku tak terlalu memikirkannya dan segera bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan badan ku yang lengket akibat keringat sewaktu tidur, aku menuju kamar dan mulai berdandan.   “Aku harus terlihat cantik didepan Kak Eza” gumamku dalam hati sambil tersenyum lebar. Memutarkan badan ku kekanan dan kekiri didepan cermin itu yang berulang kali aku lakukan, memastikan bahwa aku memakai baju dengan benar. Memakai baju selutut berwarna ungu tua dipadukan dengan bolero warna hitam, aku kenakan kerudung ungu muda dengan cara model sekarang serta legging hitam sebagai celananya.
          Waktu menunjukkan pukul 09.00 wib. Aku segera berangkat menuju halte di daerah Jetis. Dengan naik angkutan umum yang di oper dua kali akhirnya aku sampai dihalte. 09.45 ku lihat arloji yang berada di tangan kananku. Dengan perasaan tak tenang, senang, ah pokoknya campur aduk aku duduk dibangku halte menunggu kedatangan pujaan hatiku Kak Eza.
          Puluhan bus bersliweran, namun sosok orang yang aku tunggu tak kunjung datang. Padahal sudah hampir 1 jam aku duduk dibangku ini. Hatiku jadi tak karuan, ditambah lagi nomer Hp Kak Eza tidak bisa dihubungi. Tiap ku telepon suara operator yang selalu menjawab “Nomor yang anda hubungi….” Ya taulah apa kata-kata selanjutnya, hehehe. Karena tak tenang aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan mondar mandir sambil menggenggam Hp layar touch screen berwarna putih dengan gantungan hias berbentuk setengah hati.
          Gantungan yang sama dengan gantungan yang aku berikan ke Kak Eza saat dia akan pergi ke Jakarta. Aku harap dia masih menyimpannya, karena gantungan inilah yang selalu mengingatkan dan mengobati rasa rinduku pada Kak Eza tak ketinggalan boneka Teddy Bear warna merah muda yang Kak Eza berikan padaku untuk hadiah Anniversary kami. Masih sangat teringat jelas kenangan indah itu, tepat di tanggal 21 April 2008.
          “Sayang nanti sepulang sekolah bisa nunggu aku gag?”,
          “Bisa, memangnya kenapa?”,
          “Ini kan hari jadi kita sayang, aku pengen ketemu kamu. Tapi aku ada les disekolah buat ujian, sayang bisa gag nunggunya? Kalo gag bisa gag apa-apa kok”,
          “Bisa sayang, lagian aku juga ada eskul yang diganti hari ini, jadi gag akan lama nunggunya” jawabku dan telepon pun aku akhiri.
          Walupun untuk itu aku harus berbohong, karena aku tak mau mengecewakannya. Akhirnya aku meminta Sinta untuk menemaniku.
          “Sin ntar temenin aku dunk…” pintaku dengan sedikit merengek,
          “Temenin kemana Dee? Kamu tu kaya anak kecil ngerengek-ngerengek gitu hahahaha” ledek Sinta,
          “Temenin nunggu Kak Eza dateng jemput aku, hehehe”,
          “Emang jemputnya jam berapa?”
          “Entar habis dia pulang les, gimana? Mau ya?? Ntar sekalian aku kenalin kamu ma Kak Eza ”
          “Iya deh aku temenin”

Sinta memang sahabat terbaikku, dia rela berkorban apapun untukku. Beruntungnya aku mendapat teman sekaligus sahabat seperti dia. Mungkin alasan dia mau menemaniku agar dia juga bisa berkenalan dengan Kak Eza, karena selama setahun jadian aku belum pernah mengenalkannya. Itu karena Kak Eza dulu terlalu sibuk dengan kegiatan organisasinya dan sekarang dengan jadwal lesnya.
13.30…

Teet teeet teeet bel tanda pelajaran hari ini telah berakhir, anak-anak berhamburan keluar kelas dan saling berdesak-desakan untuk cepat-cepat pulang. Tapi aku dan Sinta masih setia menjadi satpam sekolah, hehehe. Setelah 2 jam lebih aku dan Sinta menunggu akhirnya Kak Eza mengirimkan sms yang berisi dia sudah berada di depan gerbang sekolahku. Aku dan Sinta segera berjalan menuju gerbang untung menemui Kak Eza. Aku kenalkan Kak Eza dengan Sinta. Kak Eza cukup lama memandang Sinta, ya tak heran lah karena Sinta memang gadis yang cantik. Tapi sama sekali tak timbul rasa curiga dan cemburu, karena aku percaya akan mereka. Setelah berkenalan Sinta pamit pulang, dia mengambil motor terlebih dahulu ketempat pakir. Lalu aku dan Kak Eza pulang lebih dulu.

Dengan motor Supra berwarna merah kesayangannya, Kak Eza memboncengkan aku. Seperti biasa aku memeluk Kak Eza dan bersandar, tercium bau khas parfum Kak Eza. Ya Tuhan rasanya begitu nyaman, dan ingin rasanya waktu berhenti sejenak agar aku bisa merasakan damai bersamanya lebih lama lagi. Hal yang aku takutkan, waktu cepat berlalu dan sudah sampai kami di gang menuju rumahku. Karena hari sudah sore akhirnya Kak Eza hanya mengantarku sampai ujung gang.

Kak Eza melepaskan helm yang aku pakai, ini tidak seperti biasanya. Tiba-tiba aku tertegun dan terdiam tak percaya. Kak Eza mencium keningku, ciuman hangat pertama yang aku dapatkan dari Kak Eza. Jangtungku berpacu lebih kencang dari keadaan normal biasanya. Saat itu aku merasa seakan waktu berhenti berjalan dan semua aliran darahku membeku. Tuhan akan ku jaga cinta tulus ini, janji ku dalam hati dan mata terpejam. Kak Eza melepaskan pelukannya.

          “Nadiea Az-Zhukhruf aku sangat mencintaimu” menatapku tajam,
          Kak Eza mengeluarkan sesuatau dari tasnya. Sebuah boneka teddy bear warna pink, 2 batang coklat silver queen dengan hiasan pita.
          Tuhan mataku sangat sulit untuk terpejam, pikiranku masih melayang akan hal yang tak pernah kusangka tadi. Pesan masuk di Hp ku, dari Kak Eza “Sayang aku boleh minta nomer Sinta?”. Dan dengan polos tanpa rasa curiga aku langsung memberikannya, Kak Eza beralasan agar saat terjadi sesuatu denganku dia bisa menghubungi Sinta.

          “Aduh siapa sih jahil banget !!” aku berteriak karena ada orang dari belakang yang menutup mataku dengan kedua tangannya,
Saat aku berontak dan menghadap kebelakang siapa yang aku dapati?
          “Kak Eza !!!” sambil memeluk erat tanpa memperdulikan orang yang berlalu lalang di halte.
Ditaman kota kami melepaskan rindu yang sudah terbendung sekian lama. Aku terus menatap wajahnya dan aku lihat dia tampak berbeda, dengan baju seragam kedinasannya dia terihat tampak lebih gagah.
          “Bagaimana kabar Sinta?” tanya kak Eza,
          “Yah kok malah Sinta sih yang ditanyain bukan aku?” jawabku tak terima
          “Hehehehe cuma mau ngetes kamu cemburu apa gag, sekarang kamu terlihat lebih cantik dengan jilbab itu”, merayuku
           “Ih kamu tu suka bercanda ya… Sinta baik-baik aja”
Obrolan berlanjut sampai sore, dan aku pulang kerumah. Aku rebahkan tubuhku diatas tempat tidur dengan membawa perasaan yang amat bahagia, bertemu dengan belahan jiwa ku. Selama 1 bulan Kak Eza akan menemaniku sebelum akhirnya dia harus menerima tugas penempatannya. Aku harap akan terukir kenangan-kenangan indah lagi bersamanya. Akupun terlelap.

          “Sin aneh deh kenapa ya selama satu minggu ini Kak Eza belum mengajakku jalan?” tanyaku heran
          “Aduh mana aku tahu Dee, mungkin dia lagi kangen-kangenan sama yang lain hehehe”
          “Maksudnya? Selingkuh gitu Sin?”
          “Eeeits aku gag ngumung gitu,,yang lain kan bisa aja keluarganya”
          “Iiya ya… eh habis perkuliahan ini kita main yuk Sin?? Ada sesuatu yang mau aku beli. Aku mau beliin Kak Eza Sweeter ne Sin.”
          “Aku gag bisa Dee, aku ada janji sama orang. Maaf ya Dee??”
          “Ya udah biar ntar aku cari sendiri, btw mau ketemu ma siapa Sin? Cowok atau cewek?”
          “Cowok” jawbnya singkat
          “Hah? Cowok? Kayaknya kamu gag pernah deh cerita sama cowok sama aku selama ini.. aduh cie cie… kenalin dunk Sin” ledekku sambil mencolek pinggul Sinta
          “Udah Dee geli ah, ntar kamu juga bakalan tau”
          “Siiip”
Teleponku tiba-tiba berdering, Ezaku sayang. Buru-buru ku angkat teleponnya.
           “Assalamu’alaikum Pricessku”
           “Waalaikumsalam Prince, ada apa ne tiba-tiba telepon… kamu jahat selama seminggu aku gag diajak jalan, aku kan kangen” ocehku
           “Nah ini juga mau ajak kamu main, ntar malem kita makan yuk aku mau kenalin kamu sama seseorang. Aku jemput kamu tepat jam 7,,,,bye,,,muach. Tuuut …, tuuuut”

Ah itu lah kebiasaannya mematikan telepon seenaknya. Jam 18.30 aku sudah siap menunggu Kak Eza menjemputku, dan tentunya sudah aku siapkan hadiah sweeter untuknya yang tadi siang aku beli di distro. Aku bungkus dan aku tata rapi dalan kotak tanggung berwarna biri langit, warna kesukaan Kak Eza.
           “Dee…” Kak Eza memanggil namaku lirih, tak seperti biasanya dia memanggilku dengan sebutan namaku,
           “Dee?” dengan nada bertanya,
           “Sebelumnya aku minta maaf kalau selama ini aku tak bisa membahagiakanmu dan membuatmu kecewa”.
           “ssssst kamu bicara apa sih sayang, kamu adalah kebahagiaanku. Aku tak perlu yang lainnya, apa karena tugas itu yang membuatmu merasa bersalah meninggalkanku? Kalo soal itu aku rela, aku benar-benar tulus dan rela menunggumu.”

Kak Eza menggelengkan kepala. Dari kejauhan aku melihat Sinta juga datang ke café ini. Dia berjalan ke arah kami.
          “hei Sin kamu datang juga ke café ini? Hayo mau ketemuan sama cowok yang tadi siang ya?” tanyaku polos

Sinta tak menjawab pertanyaanku, dan hanya terdiam. Lalu Kak Eza berdiri disamping Sinta, dan berkata bahwa Sinta lah orang yang ingin Kak Eza kenalkan kepadaku. Aku semakin bingung ada apa sebenarnya.
           “Sayang? Ada apaan sih ayo dong cerita, aku bingung ne..kenapa ada Sinta juga?”

Mereka terdiam dan akhirnya Kak Eza mejawab semua kebingunganku saat itu. Sontak aku tak percaya, tubuhku lemas dan aku menjatuhkan tas yang berisi sweeter dengan kotak biru sebagai pembungkusnya. Aku harap semua kejadian malam itu hanya sebuah mimpi. Mimpi buruk dan aku segera terbangun, namun itu semua kenyataan pahit yang harus aku telan walaupun terpaksa. Waktu seolah berhenti sama persis saat Kak Eza memberikan aku ciuman itu, namun keadaanya berbeda sekarang suasana menjadi sangat beku. Lalu ribuan pisau menyayat hatiku tanpa belas kasih. Oh Tuhan pengkhianatan sepeti apa ini????
           “A…aaa….apa?” aku menarik nafas panjang dan menghelanya pelan. “Aku bisa mengerti, dan akan kucoba untuk mengerti dan ikhlas” lagi-lagi aku berbohong dan bertahan untuk membendung butiran-butiran tangis itu agar tak pecah.

Aku berlari keluar dan tak seorang pun dari mereka mengejarku. Ku berlari sekencang mungkin dan sejauh mungkin, menuju taman kota. Aku duduk dibawah temaramnya lampu hias taman dan menangis sejadinya.
@@@

Setahun sudah kejadian itu berlalu, tetap saja aku belum bisa melupakannya. Melupakan pengkhianatan Kak Eza (pacarku) dan Sinta (sahabatku). Ternyata mereka telah menjalin hubungan semenjak aku kenalkan mereka di depan gerbang sekolahku. Dan kenyataan yang aku anggap benar bahwa Kak Eza tidak akan pulang selama setahun itu ternyata bohong, sebulan sekali dia mendapat cuti, dan ia gunakan kesempatan itu untuk bertemu Sinta.

Dan pada bulan terakhir sebelum genap satu tahun mereka membohongiku. Mereka melakukan hal yang benar-benar tak pantas. Sungguh tak punya rasa malu akan profesi yang sebentar lagi Kak Eza sandang. Mereka bermalam dihotel dan yah melakukan hubungan seperti layaknya suami istri. Dan pada waktu malam di café itu, Sinta sudah mengandung 1 bulan, anak dari Kak Eza yang kala itu masih resmi menjadi pacarku. Entah setan apa yang merasuki mereka.

Keadaan kehamilan Sinta disembunyikan sampai nanti Kak Eza sudah dibebas tugaskan. Dan dia akan menikahi Sinta. Saat Sinta mengandung dan ditinggal kak Eza bertugas, aku sering menjenguknya kerumah. Menemani saat ia melahirkan anak pertamanya buah cintanya bersama Kak Eza. Rasa dalam hatiku berkecamuk hebat, rasa benci dan sayangku terhadap Sinta saling tarik menarik. Dan akhirnya rasa sayangku mengalahkan rasa kebencianku terhadapnya.

Seandainya saja kau jujur padaku lebih awal Sin, tak akan sedalam ini rasa sakitku. Aku bahkan akan dengan ikhlas melepaskan cintaku untuk mu Sinta. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku tunggu pernikahanmu, dan akan kucoba tegar saat nanti kuhadiri acara pernikahanmu.

THE END


Oleh :
principessa
07 oktober 1991
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: