Jul 1, 2011

CERPEN: 14 Februari... Cerita Cinta Kita Begini Adanya Beib's!

14 FEBRUARI …CERITA CINTA KITA BEGINI ADANYA BEIB’S…!

 Oleh : M. Yusuf Putra Sinar Tapango

          Braaakkkk......!pecahan gelas itu berserakan dilantai. Seluruh tamu restoran memandang kami. Aku pun terperangah oleh sikap Ivo. Malu, kecewa, marah menyatu dalam jiwaku. Kucoba menenangkan diri.  Mukaku memerah menahan emosi. Sedikit kata maaf pun tak terucap dibibirnya, tapi aku tetap meminta maaf padanya. Dan malam itu berlalu begitu saja, meninggalkan sejuta kecewa di hatiku.
          14 februari 2010. Hujan terus mengguyur sejak semalam bahkan hingga pagi  kuterbangun. Kutatap langit langit kamar. Diantara suara hujan sayup kudengar lagu yang begitu familiar dari Richard Marx yang berjudul Now And Forever. Kulirik Tape recorder yang agak jauh dari tempat tidurku. Ternyata aku lupa setting sleeping timenya. Kubiarkan saja dan kunikmati lagu kesukaanku itu. Mataku berputar mengitari kamar. Aku begitu nyaman berada di dalamnya. Aku membalikkan badan ke kiri, maka terpampanglah lukisan sebuah bukit yang dipenuhi ilalang, dan ada sebuah bangku kayu di tepinya. Sementara di seberang bukit itu ada air terjun yang mengalir deras dari sebuah gunung, dan pelangi di atasnya. Begitu indah lukisan itu. Pikiranku melayang jauh,  membayangkan ketika sore menjelang malam di sana pastilah suasana tempat itu menjadi begitu romantis. Aku kemudian membalikkan badan ke kanan. Maka tersenyumlah aku.  Tepat di dinding itu tergantung sebuah lukisan wanita pujaanku. Senyumannya selalu mampu membuatku harus tersenyum. Tatapan dan sorot matanya yang indah, mengisyaratkan aku untuk selalu tegar dalam menghadapi semua problema hidup yang kualami. Lalu kububuhkan sebuah puisi dalam lukisan itu;

KAU SEPERTI KUPU-KUPU
MENGGELITIK HATIKU…
HINGGAP  MENGEPAKKAN SAYAP…
MENABURKAN AROMA WANGI
MENUSUK HINGGA ALIRAN DARAHKU
TERHENTI SEJENAK…LALU SEPI…

“Gadis yang cantik, cantik sekali kamu”, kata hatiku pun mengagumi lukisan itu.  Lalu  Kutatap langit langit kamarku. Ada lampu kecil temaram di atas sana persis diantara lukisan bintang bintang dan lampu itu menjadi bulannya. Ketika dalam kondisi ini, aku seolah terbaring diantara rumput ilalang tadi dan memandangi indahnya malam. Sepi, hening, damai, jiwaku melayang jauh dan yang kuingat hanyalah betapa luar biasa ciptaan Tuhan.
Angan-anganku segera melambung jauh mencoba membelah derasnya hujan di luar sana. Pikiran dan jiwaku segera menerobos setiap suara yang tercipta oleh derasnya hujan, hingga suara itu seolah hilang tergantikan suara-suara manja kekasihku Ivo. Dia wanita yang ada dalam lukisan tadi. Aku mencoba mengingat semua memory yang telah tercipta. 1 tahun kini telah berlalu, aku dan dia telah merajut cerita cinta ini selama setahun. 14 februari 2009 adalah hari dimana kami memulai menanam bersama benih cinta ini. Lalu kami pupuk bersama dengan sengaja perih yang indah dalam rasa sakit, dengan cahaya cinta kami lelehkan beku, dengan cahaya cinta kami nikmatkan percakapan-percakapan kelam, setiap waktu, disetiap kebersamaan kami terkadang dalam gigil malam dan bias bintang bintang. Kupejamkan mata dan kurasakan keindahan yang tercipta disetiap memory itu, bahkan pahitpun semua terasa manis jika terkenang. Kubuka mata lalu berdiri. Kuambil segelas air putih,  meminumnya sampai habis. Hujan tak kunjung reda. Kusibak  tirai jendela. Kini tampak jelas rinai hujan itu. Kupandangi rinai hujan dari lantai 2 kamarku ini. Kuperhatikan rintik-rintik air yang jatuh tepat di atas atap itu. Ketika air itu menghempas atap, maka air itu pun menyebar membasahi sekelilingnya. Dalam benakku bertanya, apakah cintaku itu pun begitu adanya?. Ketika aku mencintai seseorang maka kuhempaskan cintaku, kusebarkan kesetiap aliran darah, hingga tak tersisa, maka ketika ku kecewa sulit rasanya untuk melupakan sakitnya. Dan sakitnya pun terkadang tersebar keseluruh aliran darahku, hingga terkadang kumerasa denyut nadiku terhenti sesaat ketika tiba-tiba rasa sakit itu muncul tanpa kusengaja. Rasa kecewa itu kini datang. Tak kutemukan lagi Ivoku seperti dulu. Entah mengapa 2 bulan terakhir ini aku seperti kehilangan sosoknya. Kebersamaan yang kerap tercipta sepertinya mulai surut. Hubungan ini layak kuanggap hampa.
          Aku masih  berdiri disamping jendela kamarku. Suara petir bersahut-sahutan. Aku pun larut dalam suasana hatiku. Ada yang hilang. Aku merasakan sesuatu yang hilang. Dua hari yang lalu adalah puncak dari sebuah pertengkaran kami. Saat itu ketika aku ingin mengetahui dengan siapa Ivo ber sms ria sambil tersenyum-senyum geli. Aku merasa tak dianggap saat itu. Karena kesal,  maka kucoba untuk meraih Handphone yang sedang asyik bersamanya. Saat dia menepis tanganku saat itulah gelas di depanku jatuh kelantai dan membuat gaduh. Sikapnya tidak seperti biasanya. Selama ini kami selalu terbuka satu sama lain, karena kami meyakini itu adalah pondasi sebuah hubungan yang serius. Namun ia berbeda akhir-akhir ini. Sikap dan perhatiannya mulai kurasakan berubah. 2 bulan terakhir ini begitu terasa bagiku. Terkadang aku berpikir apakah ia jenuh denganku. Atau ia sedang mendua. Semua pikiran negatif itu selalu aku abaikan.  Selalu berpikir positif terhadapnya. Aku terlalu mencintainya, menyanyanginya, percaya padanya. Apalagi hubungan ini serius, dan kami telah merencanakan sebuah pernikahan di tahun ini. Aku menghela nafas panjang. Hujan tak kunjung reda. Aku mengambil handphone, lalu kutelepon Ivo tapi tidak aktif. Setelah kejadian malam itu aku tak bisa menghubunginya. Aku tidak diperbolehkan untuk sementara datang kerumahnya, seperti itu katanya. Tapi aku begitu merindukannya. Aku kemudian menelepon sebuah toko bunga langgananku. Memesan bunga anggrek merah lalu diberi tulisan ’HAPPY VALENTINE DAY’ from Rendy, kemudian meminta mereka mengantarkannya kerumah Ivo.
          Jam 4.15 PM aku menerima sms dari Ivo. Ucapan maaf atas kejadian itu terlontar juga akhirnya meski lewat sms. Terima kasih atas kiriman bunga mawarnya juga tak lupa ditulisnya. Akupun tersenyum. Kerinduanku sedikit terobati. Aku pun segera meneleponnya.
”Halo beib’s..Assalamu alaikum”
”Walaikum salam Beib’s. Makasih kiriman bunganya. Aku juga minta maaf atas kejadian waktu itu. Kamu sih, maen rampas HP aja! Happy valentine Day beib’s, I Love u so much… Maaf yah dua hari ini aku tidak menghubungi kamu!” Suara manjanya pun terdengar kembali olehku.

“Iyaaa beib’s maafin sikap aku yah. I love u too.. kamu tahu sikap kamu ini membuatku  susah makan. Susah tidur. Aku selalu keingetan kamu beib’s. Aku merasa kehilangan kamu dua hari ini!”

“Diiiiiihhh kamu berlebihan aah.. Aku juga kangen tahu! Cuman aku kesel aja ma sikap kamu kemarin, makanya aku ngambek! Udah ah nggak usah ngomongin itu”

”Iya..aku janji aku nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama. Terusss...nanti malam aku jemput kamu yah dirumah!”

”Jemput...emang mau kemana? Aku lagi males nih, keluar rumah! Kayaknya malam ini aku nggak bisa pergi ama kamu Beib’s soalnya ada acara keluarga. Maaf yah Beib’s! Valentine kali ini kita nggak usah rayain yah,  yang terpenting kasih sayang kita itu selalu tumbuh dan kita jaga setiap saat. Nanti malam aku kabarin kamu lagi yah.”.

”Ehm...yah udah kalo gitu kamu kabar-kabarin aku yah Beib’s.” Akupun mengakhiri percakapan sore itu dengan kekecewaan yang kembali datang untuk kesekian kalinya. Rasa senang yang tadi sempat hadir sejenak, otomatis berubah lebih layak jika di sebut sedih. Pertanyaan pertanyaan tentang sikap Ivo pun kembali hadir silih berganti. Tapi aku masih belum mampu menjawabnya, tapi jujur hati kecil ini mulai menaruh curiga. Aku jadi teringat perkataan sahabatku Tyo waktu itu.

”Rendy gue kasih tau yee..lo tuh nggak boleh terlalu percaya begitu aja ama Ivo! Gue sebagai sahabat lo cuman ngasih tau aje sob, lo tuh harus tegas sama dia!”

“Iyee gue juga ngerti. Tapi gue percaya sama Ivo, nggak mungkinlah dia selingkuh seperti kecurigaan lo itu! Apalagi kita tuh dah serius banget, kita juga dah ngomongin soal pernikahan.”

“Gue ngerti perasaan lo sob, lo pasti lebih tahu tentang cewek lo. Gue sebagai sahabat lo selalu ngedukung yang terbaik buat kebahagiaan lo! Cuman pesen gue lo tetap harus cari tahu kenapa sikap cewek lo sedikit berubah? Semua ini untuk kelansungan hidup lo juga nantinya!”

“Iye sob makasih yee atas saran lo.”

Seperti itulah pesan dari Tyo waktu itu. Aku tahu sahabatku itu tidak ingin kejadian yang pernah menimpa dirinya dahulu terulang padaku. Kepercayaan yang diberikan sepenuhnya pada mantannya dulu ternyata dihianati. Kucoba membuang semua perasaan curiga yang  tiba tiba hadir. Aku kemudian menelpon Tyo dan mengajaknya ketempat fitnes. Setidaknya untuk sedikit mengobati kecewa,  karena malam ini aku tidak akan pergi bersama Ivo. Aku juga ingin bertemu sahabatku itu. Yaah dalam kondisiku seperti ini hanya dia yang selalu mengerti dan tempat curhatku.
            Sepulang latihan Fitnes , aku lansung pulang kerumah. Malam ini aku memang tidak ingin pergi kemana-mana. Rencana untuk merayakan hari Valentine bersama Ivo sudah gagal. Maka aku pun memutuskan untuk berdiam diri saja dirumah. Lalu kucoba menelpon Ivo tapi handphonenya tidak aktif. Aku lalu mengiriminya pesan singkat. ”Beib’s kamu dimana sekarang? Aku dirumah aja nih. Tadi habis latihan fitnes ma Tyo. Kamu jadi acara keluarganya? Baik-baik yah Beib’s disana. Miss U beib’s” Seperti itulah isi smsku. Tidak ada jawaban. Mungkin ia lagi sibuk dengan acara keluarganya, pikirku. Lalu timbul kembali pertanyaan dalam benakku mengapa Ivo tidak mengajakku serta, bukannya selama ini aku selalu hadir dalam acara keluarganya? Mengapa malam ini ia tidak mengajakku? Pertanyaan-pertanyaan ini membuatku gelisah. Aku kemudian membersihkan badan, makan malam, lalu menonton DVD dikamar. Karena kecape’an sehabis fitness, ketiduran dan terbangun ketika tiba-tiba Handphoneku berbunyi. Kulirik jam tangan ternyata jam 00.30 pagi. Segera kuraih Handphone yang kuletakkan diatas meja. Jantungku berdegup kencang. Ada telepon dari Ibunya Ivo. Tidak biasanya beliau menelpon jam segini.
”Rendy kamu dimana? Ivo masuk rumah sakit Pertamina, segera kesini yah” Terdengar suara Ibunya Ivo menangis. Belum sempat  kujawab, tapi teleponnya sudah putus. Tanpa pikir panjang lagi aku segera bangkit. Dengan tergesa-gesa kunyalakan mobil. Tak kuhiraukan lagi pertanyaan Mbok Ida pembantu rumahku , yang kelihatan sangat bingung melihat tingkahku. Aku menelepon Tyo dan menyampaikan berita ini. Kupacu mobil  di jalan Tol yang agak sepi malam itu. Hujan rintik rintik menambah kegaluan hatiku. Apa yang terjadi dengan kekasihku Ivo? Yah Allah semoga tidak terjadi apa-apa padanya, doaku.
            Aku berlari menyusuri trotoar RS. Pertamina setelah aku mengetahui Ivo dirawat diruang ICU. Aku melihat hampir seluruh kerabat dekat Ivo sudah berada disana. Bahkan sahabatku Tyo pun  telah hadir disana karena rumahnya memang lebih dekat dari rumah sakit ini. Tyo segera berdiri menghampiri dan menahanku ketika dia melihatku berlari akan memasuki ruang ICU.
”Rendy sabar sob, kita belum boleh masuk kata Dokter!”
 
”Iyaaa tapi apa yang terjadi? Ada apa dengan Ivo?” Aku tidak kuasa menahan kesedihan yang tiba-tiba begitu saja datang. Ibu dan Ayah Ivo menghampiriku. Mimik wajah mereka terlihat jelas sedang bersedih bahkan Ibunya Ivo masih Menangis. Hatiku semakin kalut.
”Rendy..Ivo tadi terjatuh dan kepalanya terbentur tembok! Dia mengalami pendarahan, dan 30 menit sudah berlalu tapi dia belum siuman!” kata Ibu Ivo dalam tangisnya. Mendengar semua itu aku pun tak kuasa menahan air mataku.
”Jaaaaatuuhhh? Kenapa bisa seperti itu bu? Apa yang terjadi?” Tanyaku lirih. Aku melihat sekelilingku dan mencoba mencari jawaban dari mereka yang hadir disitu. Tak satu pun yang menjawab. Mataku melihat sosok seorang pria yang tidak aku kenal yang hanya terdiam dan memegangi rambutnya, seperti sedang menyesali sesuatu. Tyo memegang pundakku mencoba menenangkan diriku.
”Sob tenang, sabar! Dalam kondisi seperti ini yang seharusnya kita lakukan adalah berdo’a untuk kesembuhan Ivo”. Tyo setengah berbisik padaku, lalu menuntunku duduk di sebuah kursi. Aku hanya terdiam. Tidak lama kemudian pintu ICU terbuka dan muncullah seorang Dokter yang tersenyum kepada kami. Kami segera mendekati dan bertanya pada Dokter itu, terutama aku yang tidak bisa menahan diri. Dokter menjelaskan pada kami bahwa Ivo sudah melewati masa kritisnya. Tapi tetap saja tidak satu pun dari kami boleh menemuinya. Kata Dokter dia tidak boleh di ganggu dulu. Hatiku sedikit lega, kami semua berucap syukur mendengar penjelasan itu. Namun masih tersisa tanya di hatiku apa penyebab semua ini. Aku membiarkan saja rasaku ini. Aku pun tak ingin mendesak mereka dengan pertanyaanku. Tidak layak dalam kondisi seperti ini, pikirku. Kulirik sahabatku Tyo yang duduk tepat di depanku. Sepertinya dia menatap tajam padaku. Aku merasa ada sesuatu yang ingin di katakannya . Akupun berdiri lalu berjalan kesebuah taman yang tak jauh dari ruang tunggu. Tyo segera menyusulku. Tyo menghela nafas yang berat dan meraih pundakku dari belakang. Aku menoleh padanya, kutatap matanya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
”Sob gue tahu ini pasti berat bagimu. Tapi lo harus tahu ini.”
”Tyo lo nggak usah berbeli-belit! Sejak tadi semua udah buat gue bingung! Apa lo semua nggak tahu gue sedih banget, tapi kenapa kalian sepertinya merahasiakan sesuatu”.
”Sob sabar yah. Ivo sepertinya agak mabuk. Dan dia terjatuh saat menuruni tangga sehabis merayakan Valentine di salah satu club di Kemang!”
”Mabuk!! Bukannya dia ada acara keluarga?”
“Bukan sob, bukan bersama keluarganya!! Tapi...”
”Tapi apa? Tapi apa Tyo?” Aku meraih lengan baju Tyo dan emosiku mendadak meluap-luap.

”Tapi dengan seorang cowok Sob!” Jawab Tyo dengan suara yang berat. Mendengar itu bibirku terkunci. Aku terduduk. Kemarahan yang tadi sempat muncul tiba-tiba menjadi hilang. Seluruh tubuhku seperti tak bertenaga. Hatiku hancur. Perih terasa.  Kesedihan yang tiba-tiba hadir melebihi dari semua kesedihan yang pernah kualami sepanjang hidupku. Kekecewaan yang kurasakan tak dapat lagi kudeskripsikan. Jiwaku hampa. Lalu terngiang semua peringatan-peringatan yang pernah dilontarkan Tyo padaku. Seluruh badanku terasa bergetar hebat. Tyo menyentuh bahuku seolah ingin memberi energi agar aku bersabar dalam cobaan ini.”Sob, sabar yah gue yakin Tuhan sayang sama lo! Mungkin perjalanan cinta lo emang begini adanya sob!” Aku menggelengkan kepala. Seolah masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Aku menatap Tyo.
”Tyo..siapa laki-laki yang sudah merusak semua ini? Siapa laki-laki yang bersama Ivo?” nada bicaraku mulai meninggi. Aku mencengkram lengan Tyo.
”Sob..dia adalah mantannya Tyo sob! Laki-laki yang tadi duduk di pojok itu! Sebenarnya gue sudah pernah melihat mereka berdua jalan bersama di Semanggi Plaza waktu itu. Tapi gue tidak sampai hati bilang ke lo sob! Karena gue tau lo cinta banget sama Ivo! Makanya selama ini gue hanya peringatin lo aja sob, maafin gue sob!” Emosiku memuncak. Aku segera berlari menuju keruang tunggu ICU tadi. Tapi laki-laki itu sudah tidak ada di tempat. Ibu dan Ayah Ivo memandangku. Mereka tahu perasaanku. Rasa sedih dan amarah bercampur menjadi satu. Aku lalu terduduk lesu. Aku masih seolah tak percaya dengan semua kenyataan ini. Ibu Ivo lalu mendekatiku, memelukku, beliaupun menangis. Bahkan minta maaf padaku. Aku semakin sedih dibuatnya. Lalu keluarga Ivo menyarankan aku agar aku pulang untuk istirahat dan menenangkan diri dirumah. Bagaimana pun juga Ivo belum bisa ditemui. Dengan berat hati aku pamit meninggalkan mereka. Karena khawatir, Tyo mengantarku pulang kerumah dengan mobilnya dan mobilku kubiarkan terparkir di rumah sakit.
            Aku memasuki kamarku dengan langkah gontai. Kesedihanku kini tercampur aduk bagai gado-gado. Aku sangat mengkhawatirkan Ivo, jujur aku sangat ingin berada disisinya saat ini. Sementara disisi lain aku begitu terpukul dan sangat kecewa mendapati kenyataan jika cintaku terhianati. Hatiku perih. Kesetiaanku ternodai. Inikah jawaban dari segala kegudahan hatiku akhir-akhir ini. Mengapa Ivo begitu tega melakukan ini semua, tanyaku dalam hati. Aku melirik lukisan Ivo, entah mengapa senyumannya terasa hambar bagiku. Ivo aku begitu mencintai dan menyayangimu. Perih yang terasa di hatiku kini sama besarnya rasa sayang dan cintaku padamu Beib’s. Tak terasa air mataku kembali menetes perlahan, entahla aku merasa saat ini begitu lemah. Aku beranjak ketempat tidurku. Dalam posisi terlentang kulihat lukisan bintang diatas langit-langit kamarku, namun tak kurasakan damai. Hatiku hampa. Kupejamkan mataku meski air mataku masih mengalir perlahan. Aku berharap bisa tertidur dalam kerinduanku yang begitu besar pada Ivo dan diantara hadirnya rasa perih yang kian lama menusuk. Aku tak akan menghakimi cintaku padanya. Kehilafan itu harus mampu aku maafkan oleh tulusnya cintaku. Yah Allah berikanlah aku kekuatan agar aku mampu bersikap bijak dalam perihnya cobaan cinta kami. Do’aku. Dan akupun tertidur dalam lelahnya jiwaku.
            Aku tersentak kaget dan terbangun ketika aku mendengar suara yang memanggil-manggil namaku dari luar kamarku. Itu suara Tyo. Aku segera terbangun dan membuka pintu kamarku. Tyo tersenyum dan segera kupersilahkan masuk. Tyo memang sengaja kusuruh datang untuk menjemputku jam 7 pagi. Aku kemudian mandi dan bergegas untuk bersiap ke Rumah Sakit. Setelah semua selesai kami segera berangkat. Dalam perjalanan aku hanya diam. Tyo pun hanya terdiam, kami tak banyak bicara. Dia menggodaku tapi tak kutanggapi godaan dan candaannya. Aku tahu dia sangat ingin menghiburku. Aku hanya tersenyum. Aku beruntung memiliki sahabat seperti Tyo.  Tapi yang kuinginkan hanyalah secepat mungkin aku bisa melihat Ivo tersenyum. Yah rindu dan kecewa yang tumbuh dalam hatiku seperti dua sisi yang saling tarik menarik bagai magnet. Selang beberapa saat kami pun tiba di Rumah sakit. Aku segera keluar dari mobil dan Tyo memarkir mobilnya. Aku berjalan tergesa-gesa. Jantungku berdegup kencang. Dari kejauhan tampak keluarga Ivo yang sedang berbincang-bincang. Aku segera mendekati mereka. Ibunya Ivo memberitahuku, kalau Ivo sudah bisa ditemui dan sejak dia siuman dia selalu menyebut namaku. Beliapun segera menemaniku masuk ke ruangan dimana Ivo di rawat. Ketika pintu ruangan itu terkuak, aku melihat Ivo sedang terbaring dengan perban yang melingkar di kepalanya. Aku segera masuk. Aku begitu sedih melihat kondisinya seperti itu. Kuraih tangannya dengan lembut. Lalu kucium keningnya. Ivo sedikit tersentak kaget dan terbangun. Aku segera memeluknya, tak kuasa lagi menahan lajunya air mataku. Demikian pula Ivo dia memelukku begitu erat,  seolah tak mau melepaskanku. Aku merasakan kerinduan  begitu dalam diantara kami. Ibunya Ivo kemudian meninggalkan kami berdua. Perlahan kulepaskan pelukanku. Kutatap matanya yang kini sembab oleh air mata. Aku tahu ada cinta di mata itu meski kulihat tatapan itu tak seperti dulu lagi. Bibirnya pun perlahan terbuka.
”Beib’s maafkan aku..aku telah melakukan kesalahan dan menodai cinta kita! Aku malu dan aku merasa tidak pantas lagi berada dalam dekapan rindumu” Suara Ivo lirih dalam tangisnya.  Kuhapus perlahan air matanya yang terus mengalir dan mencoba untuk menenangkan hatinya meski aku sadar hatiku pun terasa sakit, rasa kecewa itu tiba-tiba hadir mengoyak hatiku. Namun aku tak ingin terlihat lemah di matanya, aku harus kuat agar senyumku mampu membuat dia tersenyum kembali.
”Huuussst...jangan berkata seperti itu Beib’s, aku tahu kamu khilaf. Mungkin ini semua adalah cobaan cinta kita. Yang aku inginkan darimu saat ini hanyalah melihat kamu tersenyum seperti hari kemarin. Aku ingin mendegar suara-suara manjamu kala kita bersama. Aku rindu semua itu.”
”Beib’s aku telah mengecewakan dan menodai ketulusan cinta kamu. Maafkan aku!” Ivo semakin tak kuasa menahan laju air matanya. Aku tahu dia begitu menyesal.
”Beib’s aku sudah ikhlas dan memaafkan semua ini! Mungkin dengan kejadian ini setelahnya akan lebih indah cerita cinta kita beib’s. Cerita cinta kita begini adanya. Kita ambil hikmanya, yah!” Aku memeluknya. Entahla perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hatiku. Aku tak tahu lagi apakah kalimat aku barusan ini adalah ungkapan yang sesungguhnya, atau mungkin hanya ungkapan agar Ivo tidak terlalu lalu larut dalam penyesalannya. Aku memeluknya. Kucoba memberi keteduhan di hatinya. Air mataku pun kemudian menetes kembali. Rasa cinta yang begitu mendalam dan rasa kecewaku menyatu hingga menghadirkan perih di hatiku. Entah berapa lama kami terdiam dalam rasa ini, hingga Tyo masuk keruangan dan menggoda kami berdua. Kami bertiga saling melempar senyum. Kehadiran Tyo membuat ketegangan saat itu sedikit buyar. Hari itu pun berlalu begitu cepatnya.
            Hari demi hari kulalui bersama Ivo di rumah sakit. Aktivitasku jadi berubah, setiap pagi hingga malam, aku menemaninya di rumah sakit. Aku selalu berusaha untuk membuatnya tersenyum. Yang aku inginkan hanyalah secepat mungkin agar dia bisa sembuh total dari luka di kepalanya. Tanpa sengaja, sebuah taman kecil yang ada di sekitar Rumah sakit itu, tiba-tiba menjadi sebuah tempat favorit kami. Dalam setiap kebersamaan kami banyak hal yang aku lakukan untuknya. Aku menyuapinya saat dia makan sambil mengajaknya bercanda.  Ketika dia sedang melamun dan memikirkan sesuatu aku menghiburnya dengan caraku. Bahkan terkadang aku menyanyi yang tentunya nyanyian itu aku plesetin dari lagu aslinya, hingga dia bisa tertawa. Aku pun pasti ikut tertawa meski jauh di dalam lubuk hatiku ada perih disana. Kadang kala aku membaca puisi dengan mimik wajah yang aku buat lucu, sehingga gelak tawanya pun terkadang terdengar kemana-mana. Dan dalam riangnya terkadang kulihat tetesan air matanya yang mengalir. Saat itu pun aku merasa senang, itu tangisan bahagia pikirku. Namun aku sadar jauh di dalam dasar hatiku kini ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang. Hari ke- 4 aku ijin pada Ivo dan keluarganya bahwa hari itu aku harus pergi ke Makassar untuk menjemput orang tuaku dan ada acara keluarga disana yang harus aku hadiri. Tapi hanya satu hari dan aku akan kembali ke Jakarta bersama kedua orang tuaku. Maka denga berat hati aku pamit pada kekasihku Ivo dan orang tuanya. Aku memeluknya dengan erat begitupun dia sebaliknya. Lagi dan lagi kami berdua tak kuasa menahan air mata kami. Entahla aku tiba-tiba merasa sepertinya  pelukan kami adalah pelukan terakhir. Aku semakin erat memeluk Ivo. Kata I love u dan aku pasti akan kembali besok, kubisikkan di telinganya. Kutatap mata indahnya. Kuseka air matanya. Aku kemudian mengeluarkan sebuah boneka kecil, mungil berbentuk kupu-kupu. Dia tersenyum lalu mencubitku dengan manjanya. Aku tahu dia pasti sangat senang dengan hadiah kecilku itu. Ivo memang sangat suka kupu-kupu.
”Makasih yah Beib’s aku senang banget. Bonekanya lucu”
”Iya, selama aku nggak ada di samping kamu biar boneka kupu-kupu itu yang jadi teman kamu Beib’s. Kamu suka khan?” Tanyaku menyembukin rasa sedihku ingin meninggalkannya meski hanya sehari.
”Aku senang bangeeet..sini aku mau peluk kamu!” Akupun kemudian memeluknya dan dan mengusap rambutnya. Aku semakin tak kuasa meninggalkannya. Aku kemudian bangkit dan pamit.  Sore itu aku pun lansung ke bandara Soekarna Hatta untuk menuju ke Makassar.
            22.00 WITA aku tiba di bandara Hasanuddin makassar. Akupun lansung mengabari Ivo lewat sms. Aku sengaja tak menelponnya. Aku pikir dia pasti saat ini sedang istirahat. Aku tidak mau menggangu tidurnya. Setiba dirumah keluargaku, semua menyambutku dengan penuh kehangatan. Layaknya sebuah keluarga yang telah lama tidak berjumpa. Ayah dan Ibuku pun senyum sumringah melihat kedatanganku. Tapi ternyata Ibuku sangat peka dengan prilaku anaknya. Ibuku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi padaku. Aku hanya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang sebentar dan pamit untuk istirahat. Pikiranku melayang jauh ke Jakarta. Di benakku hanya ada Ivo dan Ivo. Aku tersentak kaget, ketika tiba-tiba Ibuku membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku menghela nafas yang panjang. Ibuku kemudian mendekatiku lalu duduk di sebelahku.
”Anakku sayang...Ibu merasa ada sesuatu yang terjadi sama kamu! Kok Ibu nggak ngeliat senyum kamu yang manis itu?!” Kata Ibuku menggodaku.
”Aaah Ibu apa sih, Rendy lagi males nih capeeek mau tidur”
”Eitss...jangan bohong yah sama Ibu, ayo jujur kamu lagi ada masalah apa? Kenapa wajahmu murung gitu hayo? Oia gimana kabar Ivo?...” Pertanyaan Ibu tentang Ivo serasa membuat dadaku sesak. Tapi aku harus jujur, paling tidak bebanku akan sedikit berkurang jika aku berbagi pada Ibuku. Tapi aku tidak ingin jika Ibuku tahu kalo Ivo menghianatiku. Ibuku dan Ayahku pun sangat menyayangi Ivo layaknya anak sendiri. Sama seperti Ibu dan Ayah ivo terhadapku. Aku tidak mungkin menceritakan tentang penghianatan itu. Pasti Ibuku kecewa dan ikut bersedih. Aku jadi teringat masa-masa awal dimana kami merajut cinta ini. Ibuku saat itu tidaklah merestui hubungan ini. Tetapi dengan perjuangan yang panjang kuyakinkan Ibuku bahwa Ivo adalah yang terbaik untukku. Dan akhirnya Ibuku pun menerima kehadiran Ivo malah menjadi begitu sayang padanya. Tapi kini setelah semua kejadian ini apa yang harus aku katakan pada Ibuku. Haruskah aku jujur tentang semua ini. Aku menghela nafas yang panjang. Kutatap kedua mata Ibuku. Akupun mulai menceritakan keadaan Ivo. Ibuku kaget mendengar kabar itu. Tapi aku tidak menceritakan bagian penghianatannya. Rasa perih itu pun hadir kembali dan tak dapat kucegah. Ibuku pun segera menyuruhku untuk menelepon Ivo. Kuurungkan niatnya agar menunda besok pagi karena sudah larut malam. Ibuku pun memelukku dia menangkap kesedihanku. Tak terasa air mataku pun kembali menetes. Andai Ibu tahu yang sebenarnya. Gumamku dalam hati.
            Hari itu aku tidak bersemangat mengikuti acara keluargaku. Hatiku kalut. Perasaan khawatirku pada Ivo membayangiku sejak pagi. Aku terus menghubungi handphonenya tapi tidak aktif. Ibuku pun mengerti apa yang aku rasakan. Jadwal kepulangan kamipun akhirnya dipercepat. Jam 4 sore waktu Makassar Aku, Ayah dan Ibuku kembali ke Jakarta. Setibanya di rumah, dan menaruh semua barang-barang kami pun bergegas menuju ke rumah sakit. Aku bergegas berjalan menuju ruang kamar tempat Ivo di rawat. Ibu dan Ayahku pun mengikutiku dari belakang. Hatiku deg degan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Ivo tak bisa kuhubungi tanyaku dalam hati.  Hatiku semakin kalut ketika aku tiba di depan ruangan itu. Sepi tidak seperti biasanya, aku ketuk pintu kamar itu tapi tidak ada jawaban. Jantungku semakin berdegup kencang. Aku kemudian membuka gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Upppss...betapa kagetnya aku, kamar itu kosong. Kami bertiga saling berpdangan heran. Aku segera menuju keruang informasi dan menanyakan pasien yang bernama Ivo. Akupun terperanjat kaget dan terdiam mengetahui jika ternyata Ivo sudah keluar dari rumah sakit tadi siang. Suster itu kemudian beratanya padaku.
”Maaf kalo boleh tahu mas siapa yah?”
”Saya Rendy mbak, pacar pasien yang bernama Ivo itu” Agak grogi aku menjawab pertanyaan suster itu. Suster itu mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya.
”Mas ini ada titipan surat dari Ivo” kata suster itu seraya memberikan sebuah amplop warna biru padaku. Aku deg-degan. Perasaanku tiba-tiba  menjadi tidak enak. Ayah dan Ibuku menghampiriku. Aku segera membuka surat itu dan membacanya. Jantungku berdegup kencang. Surat itu kubaca perlahan.
            ” FOR U RENDY MY BEIB’S ..
MAAFIN AKU ATAS SEMUA INI. KETIKA  MENULIS SURAT INI TANGANKU BERGETAR HEBAT, DAN AIR MATAKU TERUS MENGALIR HINGGA AKU MENARUH KACA TEMBUS PANDANG DIATAS KERTAS INI SUPAYA AIR MATA KESEDIHANKU INI TAK MEMBASAHINYA.
BEIB’S KAMU TAHU KAMU ADALAH PRIA TERBAIK YANG PERNAH AKU TEMUI DARI PRIA MANAPUN YANG PERNAH AKU KENAL…KAMU MENUNJUKKAN PADAKU SEBUAH CINTA YANG AGUNG. YAAAH, KAMU SELALU HADIR DAN MEMBERIKAN SENYUMANMU DALAM SEDIHKU...KAU TEMPATKAN AKU DI DILUBUK HATIMU YANG PALING DALAM LALU KAU SEKAT HINGGA TAK SEORANG PUN WANITA MAMPU MENGGODAMU...
BAHKAN KETIKA KHILAFKU MENGHIANATI CINTAMU, KAMU TETAP MAMPU TERSENYUM PADAKU, MEMELUKKU,  MENGHIBURKU DENGAN SEGALA CARAMU MESKI AKU SADARI JAUH DI LUBUK HATIMU AKU TAHU LUKA ITU TELAH KUTANGCAPKAN DISANA
BEIB’S CINTAMU BEGITU TULUS PADAKU…AKU TAHU KHILAFKU INI PASTI AKAN KAMU MAAFKAN…TAPI BEIB’S AKU TAK MAMPU MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI.! AKU MALU DAN MERASA SANGAT TAK PANTAS UNTUKMU..CINTAMU YANG BEGITU AGUNG SEHARUSNYA TERBALAS OLEH WANITA YANG PANTAS UNTUKMU TAPI AKU BUKANLAH WANITA ITU…!
BEIB’S AKU HARAP KAMU BISA MELUPAKAN AKU, AKU AKAN PERGI MENINGGALKAN SEMUA KISAH CINTA INI…SAKIT RASANYA DENGAN KENYATAAN INI, MUNGKIN AKU TAK AKAN PERNAH LAGI MENEMUKAN CINTA YANG SEHEBAT CINTAMU…DAN AKU TELAH MENYIA-NYIAKANNYA…TAPI AKU TELAH BAHAGIA MENGENALMU…
SETELAH INI AKU MOHON JANGAN PERNAH MENCARIKU...BIARKAN AKU PERGI DENGAN SERIBU SESALKU...JIKA SUATU HARI NANTI KITA BERTEMU KEMBALI, AKU HARAP SAAT ITU KAU TELAH MENEMUKAN CINTA SEJATIMU DENGAN WANITA YANG LAIN...MAAFKAN AKU...
MUNGKIN CERITA CINTA KITA BEGINI ADANYA  BEIB’S...
AKU PAMIT….!
 I LOVE U FOREVER”

Air mataku mengalir deras di kedua pipiku. Seluruh badanku terasa lunglai. Bibirku terkunci. Tanganku bergetar. Perih hatiku menerima semua kenyataan ini. Surat itupun terlepas dari tanganku. Aku merasakan keseimbangan badanku mulai goyah. Ayah segera memegang dan mendudukkanku, Ibu memelukku dia pun menitikkan air mata. Setelah aku sedikit mampu menenangkan diri. Ayah dan Ibu mengajakku pulang kerumah. Dalam perlajanan aku hanya membisu. Tatapan mataku kosong. Air mata ini telah kering. Jiwaku hampa. Kulirik Ibu, ternyata dia sedang membaca suratku tadi. Ibu pun terlihat bersedih, tapi aku yakin Ibuku pasti belum mengerti sesungguhnya isi surat itu. Apalagi tentang penghianatan Ivo karena aku memang belum menceritakannya. Akhirnya kami  tiba di rumah. Aku hanya diam. Kupercepat langkahku memasuki rumah. Ibu mengikutiku dari belakang dan meraih tanganku. Aku menoleh. Ibu lansung menuntunku ke keruang keluarga. Aku terduduk lesu di sebelah Ibu. Ayah kemudian datang menghampiri kami. Tangan Ibu lembut membelai rambutku. Dipeluk dan disandarkannya aku di bahunya. Ada setitik kedamaian yang tiba-tiba hadir dalam relung hatiku yang perih. Aku tahu Ibuku pasti sedih melihat kondisiku seperti ini. Sebagai anak semata wayangnya, pastilah kedua orang tuaku tidak ingin melihatku menderita.  Ibu dengan lembut melepaskan pelukannya. Menatap pada kedua mataku. Ibuku tersenyum kemudian membuka pembicaraan.
”Anakku sayang, aku tahu kamu pasti sangatlah terpukul dan berat menerima kenyataan hidup yang seperti ini. Apalagi masalah cinta. Itulah cinta anakku, adakalanya dia memberikan kebahagiaan dilain waktu cinta juga dapat memberikan kesedihan yang mendalam. Ibu juga pernah muda sepertimu, jadi ibu mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Cinta itu memang tidak harus memiliki, tapi jika kamu memang mampu memperjuangkan cintamu dan kamu masih ingin bertahan jangan pernah biarkan dia pergi. Ambil dan rengkuh kembali cinta itu. Tanyakan pada hatimu, seberapa besar keinginan kamu untuk mengejar cintamu. Hidup adalah sebuah pilihan. Dan kamu harus bisa menentukan hidupmu”
”Ibu entahla aku merasa sangat terpukul dengan kenyataan ini. Saat ini aku merasa berada diantara dua sisi. Rasa cinta yang begitu dalam pada Ivo kini sama besarnya dengan rasa kecewaku padanya atas penghianatannya padaku Ibu. Tapi aku juga tidak ingin kehilangannya.” Kataku dengan tatapan kosong.
”Hei..tatap mata Ibu anakku, hidup itu adalah pilihan! dan kita harus mampu menentukannya. Jangan lemah anakku. Apapun keputusan kamu Ibu akan selalu mendukung sepenuhnya. Jika kamu takut kehilangan Ivo. Jangan pernah biarkan dia pergi. Cari dan temukan dia kembali, raih dan rengkuh cintamu kembali dalam pelukanmu. Namun jika hatimu kini berkata lain jangan pernah memaksakan itu. ” Aku terdiam. Kupeluk Ibuku. Ayahku tak berkata sepatah katapun. Ayah kemudian mendekatiku dan memelukku. Aku pun merasakan kehangatan luar biasa diantara pelukan mereka. Kehangatan yang memberiku semangat dalam sedihku yang tak dapat lagi ku ungkapkan dengan kata. Aku menghela nafas yang panjang. Kuhadirkan senyuman untuk kedua orang tuaku agar aku tak terlihat lemah, dan aku pamit ke kamarku. Wajah Ivo kembali hadir dan bermain-main dialam pikiranku. Kuhempaskan tubuhku di kasur. Kupandangi lukisan bintang diatas langit-langit kamarku itu. Kurasakan begitu perihnya kisah cintaku. Aku menyadari kesalahanku kini, ketika aku mencintai Ivo kuhempaskan seluruh cintaku hingga tak tersisa. Air mataku kembali menetes perlahan. Kupejamkan mataku. Aku lelah. Aku ingin tidur. Aku ingin bermimpi. Yah Allah berikanlah aku mimpi indah malam ini bersama Ivo, jika semua ini memang harus berakhir bahagiakanlan kami dalam mimpiku, meski hanya dalam mimpi. Do’aku. Dan akupun terlelap dalam lelahku.
            Hari demi hari berlalu. Waktu demi waktupun akhirnya kulalui tanpa Ivo. Aku telah memilih jalan hidupku. Aku telah memilih untuk tidak memaksakan cintaku. Kubiarkan Ivo pergi dalam hidupku meski rasa sakitnya bagai sembilu. Kujalani hari-hariku. Selain bekerja sebagai karyawan swasta.  Banyak hal yang aku lakukan. Aku berolahraga. Fitnes dan futsal adalah rutinitasku yang paling aku gemari dan tentunya selalu ada sahabatku Tyo yang menemaniku. Disela-sela semua aktivitasku kusempatkan diriku membaca dan menulis cerpen. Aku pun memperluas pergaulanku. Aku tidak menutup diri dalam berteman. Banyak kegiatan-kegiatan sosial yang aku ikuti bersama dengan teman-teman. Aku bahkan tergabung dalam suatu komunitas pengajar anak jalanan. Sedikit demi sedikit aku mulai melupakan masa laluku. 6 bulan kemudian sebuah senyuman terindah kutemukan. Bahkan senyuman itu mampu mengalahkan senyuman manapun yang pernah meluluhkanku. Dalam perjalananku menuju tempatku mengajari anak-anak jalanan di bawah sebuah jembatan, saat itu aku berjalan sambil melamun. Tanpa kusadari tiba-tiba kakiku tersandung sebuah kayu dan membuatku hampir terjatuh ke belakang. Saat itulah kurasakan ada dua tangan yang menahan dan mendorongku hingga tak terjatuh. Aku segera berterima kasih dan menoleh kebelakang. Dan aku terkesima. Kulihat seorang gadis yang layak kusebut sempurna. Dibalik kerudung itu wajahnya begitu teduh. Hidungnya mancung. Bulu matanya lentik. Mata kami beradu. Jantungku berdegup kencang. Entah berapa lama kami terdiam dalam tatapan seperti itu. Gadis itu tersenyum. Akupun jadi grogi di buatnya dan minta maaf.
”Rendy...” Kuulurkan tanganku memperkenalkan diri.
”Andin, ” Dia menyebutkan namanya tapi tak menerima uluran tanganku. Tapi dia tetap tersenyum padaku. Aku pun jadi grogi dibuatnya. Hal yang tidak disangka-sangka ternyata tujuan kami sama. Andin ternyata juga adalah seorang pengajar anak jalanan di tempat yang sama denganku dan ternyata dia adalah seorang dokter spesialis gigi. Setelah itu di hari sabtu dan minggu, aku lalui bersama dengan Andin di bawah jembatan itu. Kami sering mengajar bersama. Tak terasa 2 bulan sudah kami menjalin pertemanan itu. Kebersamaan itupun menghadirkan rasa diantara kami. Ketika aku sedang bercerita dan terkadang bernyanyi bersama dengan anak-anak jalanan itu Andin pun kerap hadir disisiku dan ikut bernyanyi, suaranya merdu begitu pun sebaliknya aku hadir saat dia sedang asyik bercerita. Saat seperti itu anak-anak asuhan kamipun suka menggoda kami yang membuat kami berdua pun grogi. Kembali kurasakan sebuah cinta  bersemi di hatiku namun ada ketakutan yang hadir ketika rasa itu datang. Takut akan kegagalanku yang dulu. Namun lagi dan lagi seorang sahabat seperti Tyo datang memberiku semangat begitu pun kedua orang tuaku yang memberi isyarat jika cinta datang kembali maka jangan pernah lagi kau biarkan dia pergi. Seperti itulah nasihat mereka. Maka dengan segala pertimbangan yang matang, kuhadirkan kembali kekuatan cintaku yang pernah padam. Dalam sebuah perjalanan pulang bersama Andin, aku mengajaknya berhenti sejenak di tepian sungai dekat jembatan. Maka kuungkapkanlah rasa sukaku padanya. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, rasa ini tersambut. Senangnya hatiku. Dan akhirnya 14 februari 2011 di Balai Sarbini kebahagiaan yang sesungguhnya menjemputku.  Kuucapkan sumpah di depan penghulu. Mata kami beradu. Senyuman kami menghiasi indahnya hari itu. Maka kami pun memulai babak baru dalam kehidupan yang sesungguhnya. Senyum kebahagian dari seluruh keluarga dan sahabat-sahabat kami memeriahkan pernikahan kami. Malam itu hujan rintik-rintik menambah romantis suasana malam pertamaku. Kulirik lukisan di sebelah kiriku akupun tersenyum. Telah kulukis seorang gadis cantik  bagai seorang bidadari datang menghampiriku di sebuah bangku kayu di tepi bukit itu. Lalu kulirik lukisan di sebelah kananku, aku dan istriku Andin tertawa karena dalam lukisan itu ada gambar kami dalam mimik yang di buat lucu. Kami menatap bersama lukisan bintang diatas langit-langit kamarku kami saling melempar senyum, ku kecup keningnya. Terima kasih ya Allah kau hadirkan kebahagiaan yang sesungguhnya untukku dan istri yang begitu sempurna kau kirimkan untuk menemaniku. Gumamku dalam hati. Dan kami nikmati malam indah itu dengan penuh cinta.

THE END

Baca juga cerpen karya M. Yusuf Putra Sinar Tapango yang lainnya dalam Cerpen Diantara Dua Pilihan dan Jangan Katakan Cinta ala Valentie Day.