Cerpen: Kekasih Sejati

Bersama Sukses
Kekasih Sejati

oleh: Hanna Evani

Prita duduk termenung di perpustakaan seorang diri, bukan termenung sih, tapi sedang memperhatikan seorang cowok berkaca mata minus yang duduk dimeja sudut secara diam-diam. Namanya Ibnu. Entah mengapa Prita kagum dengan Ibnu yang terkenal kuper dan pendiam. Ketika bel berbunyi, Prita segera kembali kekelasnya sebelum sang kutu buku melihatnya.

      “Hai..” sapa Prita pada Livi dan Citra temannya, lalu duduk

      “Dari mana loe, Ta?” tanya Citra

      Prita tersenyum,”dari perpustakaan.”

      “Perpustakaan?!!!” pekik Livi dan Citra hmapir bersamaan.

      Prita memandang Livi dan Citra heran,”Iya, emang kenapa?”

      Livi menempelkan punggung tangannya di kening Prita, sedangkan Citra menempelkan punggung tangannya di pipi Prita.

      “Ich.. kalian kenapa sih?” Prita menepis tangan Livi dan Citra

      Livi menatap Prita cemas,”Loe nggak apa-apakan, ta?”

     “Loe salah minum obat ya?” tambah Citra

Prita kebingungan,”girls, gue nggak apa-apa dan gue nggak salah minum obat! Kalian kenapa sih?”

      “Soalnya loe kan paling males kalo di ajak ke perpustakaan. Tapi barusan loe bilang, loe dari perpustakaan.” Seru Citra

      “Iya, Prita.. gue takut banget loe kenapa-kenapa.” Timpal  Livi cemas

Prita menatap Citra dan Livi kesal,”Emangnya gue nggak boleh pergi ke perpustakaan?!”

      “Bukan gitu, ta.. tapi ini benar-benar kejadian aneh.” Citra seperti baru mendengar kabar buruk.

       “Udah deh!! Pokoknya mulai sekarang gue bakal sering nongkrong di perpustakaan!” ucap Prita tegas

* * *

      Prita pura-pura sedang mencari buku di rak, padahal dia mau memperhatikan Ibnu yang ada di seberang rak. Wajahnya terlihat sangat serius memilih buku di depannya.

     “Mmmm.. mata Ibnu indag banget! Apalagi hidungnya.. kenapa ya, dia nggak masuk dalam daftar cowok idola di sekolah ini? Apa karena dia pendiam, kuper dan suka banget nongkrong di perpustakaan?” batin Prita.

       Tiba-tiba mata Ibnu memandang Prita yang langsung berpura-pura mencari buku. Tak lama kemudian Ibnu pergi duduk.

Prita menghembus nafas lega,”untung aja Ibnu nggak curiga.” Gumamnya.

Prita mengambil dua buah buku syair, dia menghampiri Ibnu. Dia berencana ingin duduk di sebelah Ibnu.

“Maaf, gue boleh duduk disini nggak?” tanya Prita pelan.

Ibnu memandang Prita,”boleh.. silahkan.” Ucapnya sopan

‘Wow! Sopan banget!’ batin Prita sambil duduk di sebelah Ibnu dengan perasaan deg-degan, dia gugup sekali. Prita berpura-pura membaca buku syair yang dia ambil tadi, tangan dan kakinya terasa dingin. Walaupun matanya bergerak membaca bait-bait syair, tapi pikirannya tertuju pada cowok yang ada di sebelahnya.

Ibnu melihat buku yang di pegang Prita,”Loe suka syair?”

Prita kaget mendengar Ibnu bicara padanya,”Hah?! Oh.. e..i..iya.. ngga.. eh! Maksudnya suka baca ajah.” Jawabnya gugup

Ibnu tersenyum,”kenapa? Kaget ya tiba-tiba gue ajak ngobrol?”

Prita berusaha mengatasi rasa gugup dan sal-ting yang sedang menimpanya.”Dikit..”

Ibnu tertawa kecil,suaranya yang agak berat dan serak-serak basah terdengar berwibawa.

Perasaan Prita berteriak gembira, ”Yaaay!! Ibnu ngajak gue ngobrol!!”batinnya

“Oh, iya.. akhir-akhir ini gue sering ngeliat loe di perpustakaan, apa loe nemuin hobby baru?” tanya Ibnu

Prita surprise mendengar ucapan Ibnu, ”Hah?! Berarti selama ini Ibnu memperhatiin gue dong!!” teriak batinnya girang

“Hei.. kok bengong?” Ibnu menatap Prita heran

Prita segera tersadar, ”Hah? Nggak, kok.. loe nanya apa tadi?”

“Gue nanya, apa loe nemuin hobby baru?” ulang Ibnu

Kening Prita berkerut, ”hobby baru?”

“Maksudnya baca..” jelas Ibnu sambil menunjuk buku ditangan Prita.

“Oh,itu..mmm.” Prita garuk-garuk kepala,”kayaknya sih gitu..”

“Bagus dong kalau gitu dengan baca buku seseorang bisa mengetahui dunia luar dan pengetahuan lainnya.” Ucap Ibnu

Prita terpesona melihat Ibnu,”Wah..Ibnu dewasa banget!! Gue nggak nyangka ada orang kayak dia.” Batinnya

Ibnu heran melihat Prita bengong sambil memandanginya, ”Hei.. loe kenapa?” Ibnu melambaikan tangan di depan mata Prita.

Prita langsung tersentak, ”eh..eh..sorry, sorry.. gue nggak sopan ya, mandangin loe kayak gitu?”

Ibnu tersenyum,”nggak apa-apa.”

Prita tersenyum malu

“Oh, iya.. kita udah ngobrol panjang lebar tapi gue belum tau siapa nama loe..” ucap Ibnu

‘Panjang lebar? Kayaknya baru dikit’ batinya heran, tapi dia cepat menjawab “Oh, iya ya. Kenalin..”Prita mengulurkan tangan yang langsung di balas oleh Ibnu,”Nama gue Prita.”

“Nama gue..”

“Ibnu kan?” potong Prita

Ibnu agak terkejut, ”Kok loe tau nama gue?”

Prita tau dia barusan keceplosan ngomong, ”E..e..itu..dari”

Prita melihat buku tulis milik Ibnu, ”Dari buku loe..”

“Hah?” Ibnu memandang bukunya, memang ada tertera namanya. Ibnu zaki. ”Ooh..” Ibnu manggut-manggut.

Prita kembali menghembuskan nafas lega, ”Untung gue punya 1001 alasan..” batinnya

* * *

Livi dan Citra semakin curiga pada Prita karena akhir-akhir ini sahabat mereka itu selalu nangkring di perpustakaan ketika jam istirahat. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti Prita secara diam-diam.

“Prita kok nggak nongol-nongol, vi?” tanya Citra dari belakang Livi

“Tunggu aja bentar lagi.” Ucap Livi

Mereka berdua sedang bersembunyi di balik rak buku, tak lama kemudian Prita muncul, lalu duduk di sebelah cowok berkaca mata minus.

“Eh..eh.. itu si Prita duduk di dekat siapa?” tanya Citra

“Kayaknya gue kenal deh sama tuh cowok..”ucap Livi sambil mengingat-ingat dimana dia kenal sama cowok itu.

“Masa sih,vi? Kayaknya dia anak baru deh.. soalnya gue baru kali ini ngeliat dia.” Ucap Citra

“Oh..gue ingat cit!!” seru Livi pelan

“Apa??” tanya Citra penasaran

“Cowok itu namanya Ibnu! Dulu waktu kelas dua gue kan pernah jadi anggota mading dan salah satu seksinya itu si Ibnu.” jelas Livi

“Oh..” Citra manggut-manggut

“Ya udah, kita liatin aja mereka dulu..” ucap Livi

Sementara itu, Prita yang tak menyadari keberadaan teman-temannya asik ngobrol sama Ibnu.

“Oh,iya.. loe nggak baca buku syair lagi?” tanya Ibnu

Prita tersentak, ”Ngg..” Prita garuk-garuk kepala,”gue lagi bosen aja baca syair.”

“Ooh..gue juga sering ngalamin kejenuhan kayak gitu.” Ucap Ibnu memberi tau

“Oh,ya? Trus, apa yang loe lakuin?” Prita memandang Ibnu sambil bertopang dagu

“Biasanya sih,gue main game atau gue nonton film..” Ibnu menutup bukunya

“Nonton film?” ulang Prita

“Iya,film..” ucap Ibnu meyakinkan

“Jenis film sama film kesukaan loe apa?” tanya Prita

“Gue suka film horor, action, sama mistery gitu. Kalo film yang sekarang lagi gue suka harry potter,kalau loe?” Ibnu bersandar pada kursi.

“Kalo gue sih, sukanya mellodrama gitu.. kalau film yang gue suka sih, film-film indonesia, cause, gue cinta indonesia.” Ucap Prita bangga

Ibnu tertawa kecil,”bagus,bagus.. udah semestinya kita bangga sama produksi keluaran indonesia.” Terdengar tawa lembutdari bibirnya.

Prita menjentikan jari, ”Bener banget!!”

“Ternyata loe anaknya asik juga ya.” Ucap Ibnu

Prita tersenyum malu,” Ah..loe bisa aja.”

“Ih.. pipi loe kok jadi merah gitu?” tanya Ibnu heran

“Ih!! Apaan sih? Loe bikin gue malu aja.. ”Prita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Ibnu tertawa pelan sambil menutup mulut dengan tangan

Prita menurunkan tangannya, ”Nu, tau nggak? Dulu gue kira loe anaknya pendiem, tapi ternyata loe rame juga.”

“Cuma loe yang bisa buat gue ketawa kayak gini..” ucap Ibnu

“Lho.. emangnya kenapa?” tanya Prita heran

Ibnu tersenyum tipis, ”Karena setiap orang yang deket sama gue, mau itu cowok ataupun cewek, mereka selalu illfeel dan menjauh setelah tau keadaan keluarga gue.”

“Mmm.. kenapa?”

Tiba-tiba bel berbunyi nyaring, Ibnu langsung ngacir ke kelasnya. Livi dan Citra udah keluar duluan sebelum Prita keluar. Prita langsung di culik ke belakang sekolah.

“Duh!! Loe pada kenapa sih? Kok make nyulik gue kesini?” tanya Prita bingung

“Ta,loe jujur aja deh sama kita! Loe lagi naksir cowokkan??!” Citra berlagak seperti polisi yang sedang mengintrogasi.

“Iya, Ta! Loe lagi naksir sama cowok tinggi, putih, hidung mancung and namanya Ibnu!!” jelas Livi

Prita cengengesan, ”Kok kalian tau?”

“Ya iya lah, Ta. Kita gitu loh..” ucap Livi bangga

“Kenapa loe nggak bilang aja sih, sama kita???” tanya Citra

Prita garuk-garuk kepala,”Abis,gue malu..”

“Haaaahhhh?!!” Livi dan Citra langsung bengong.

* * *

“Oh..jadi loe udah naksir Ibnu sejak kita kelas satu?” tanya Livi setelah mendengar cerita Prita.

“Dan loe nyembunyiin hal itu hampir 3 tahun?” timpal Citra

Prita mengangguk pelan.

“Emang apaan sih ynag loe suka dari si Ibnu? Karena dia cakep ya?” tebak Livi

“Apa karena sifatnya?” tebak Citra

“Awalnya gue Cuma penasaran aja sama si Ibnu, soalnya dia anaknya pendiem banget. Tapi lama-lama gue jadi kangen kalo nggak ketemu sama dia, gue udah berusaha ngelupain dia, tapi nggak bisa. Kadang gue sampai ke bawa mimpi..” jelas Prita sambil membayangkan wajah serius Ibnu ketika sedang membaca.

Livi dan Citra manggut-manggut.

“Trus,sekarang loe mau ngapain?” tanya Citra

“Gue sih nggak berharap banyak bisa jadi milik gue, tapi dengan dekat dan bisa ngobrol sama dia udah buat gue seneng banget.” Jawab Prita

“Oww.. so sweet!” ucap Livi kagum

“Kadang gue berpikir kalau Ibnu itu kekasih sejati gue, tapi gue rasa itu semua Cuma mimpi…” ucap Prita

“Oh my god!!” pekik Citra di barengi tatapan heran dari Livi dan Citra.”Prita ku sayang! Kalau aja loe ngomongin ini dua tahun yang lalu, pasti gue bakalan nolongin loe… tapi masalahnya sekarang kita udah mau ujian akhir nasional, jadi gue nggak bisa nolongin loe, Ta…” ucap Citra

Prita menatap Citra,lalu tersenyum tipis.”Thank’s,cit. gue tau niat loe baik,tapi gue nggak terlalu berharap dari Ibnu.”

Livi merangkul bahu Prita,”kalau loe mau,gue bisa kok ngebagi waktu antara belajar dengan loe…”

Prita memegang tangan Livi,”Thank’s banget,vi…tapi ujian akhir tinggal sebulan lagi…”

* * *

Ujian akhir sudah lewat. Kini Prita dan teman-temannya tinggal menunggu hasil ujiannya.

“Hhh…akhirnya ujian selesai juga, jadi gue nggak harus pusing-pusing lagi ngadepin soal yang susahnya minta maaf…eh…maksudnya, minta ampun!” keluh Livi girang

“Betul,vi…dan itu berarti kita bakalan segera keluar dan melepas baju putih abu-abu kita!” seru Citra

Prita menunduk,wajahnya tampak murung.” Dan gue nggak akan ketemu Ibnu lagi.”

Livi dan Citra memandang Prita

“Ups…sorry, Ta… kita nggak bermaksud nyinggung loe…” ucap Citra menyesal

Prita tersenyum tipis, ”Its okey…”

“Minggu depan pengumuman lulus, kemudian acara promnight. Acara promnight kita yang terakhir…” ucap Livi

“Begitu banyak kenangan di sekolah ini…” ucap Citra sedih.

Prita tidak mendengarkan apa yang di bicarakan kedua temannya. Dia memandang kearah pintu perpustakaan yang terbuka lebar, tak begitu banyak orang yang ada di dalamnya. Tanpa Prita sadari, seorang cowok berkaca mata minus berdiri di pintu perpustakaan sambil menatapnya.

* * *

“Yeee…Gue lulus!!” teriak Citra dan Livi girang

Prita malah merasa panik dan cemas. Hatinya menangis saat mengetahui dia harus pergi dari sekolah itu.

Citra dan Livi menatap Prita heran.

“Ta,loe kenapa?” tanya Citra

“Ta,loe kan lulus. Kok tampang loe sedih gitu?” tanya Livi

“Hah? Gue seneng kok! seneng banget!!” Prita memaksakan bibirnya untuk tersenyum,tapi air matanya malah menetes. Dia segera menghapus air matanya.

Citra memegang bahu Prita sambil menatapnya sedih. Livi hanya menunduk.

Malam promnight menjadi malam yang menyedihkan bagi Prita. Di saat semua teman-temannya mengisi malam prom itu dengan bernyanyi atau berdansa,dia hanya duduk di sudut ruangan.

“Nona manis,maukah berdansa denganku?” ucap seorang cowok

Prita memandang orang yang berbicara dengannya,”Ibnu?” dia langsung tersenyum begitu melihat Ibnu mengulurkan tangannya.

“Ibnu…Loe malam ini keren banget.” Puji Prita setelah melihat Ibnu secara keseluruhan.

“Loe juga cantik…” balas Ibnu

“Nu…kalau gue boleh tau,apa sih yang membuat orang-orang menjauhi loe?” tanya Prita ragu

Wajah Ibnu berubah murung,”Gue takut,kalau nanti loe tau. Loe juga akan menjauhi gue…”

“Nggak Nu,gue janji…” ucap Prita

“Gue ini anak hasil perselingkuhan…” Ibnu terlihat malu mengatakannya.

 Prita tidak menganggap hal itu buruk, ”Ibnu, gue nggak peduli loe anak siapa atau gimana asal usul loe. Gue mencintai loe apa adanya…”

Dahi Ibnu berkerut, ”Apa?”

Prita langsung menutup mulut dengan tangannya, ”Ups! Gue keceplosan!!” pekik batinnya panik.
Prita menunduk, ”sorry…” dia segera bergegas kabur, tapi tangan Ibnu segera menggapai lengannya.

Ibnu tersenyum, ”Nggak apa-apa, gue juga mau bilang itu…”

Prita memandang Ibnu, ”Hah??”

“Asal loe mau nungguin gue…”

“Nungguin? Emang loe mau kemana?”

“Gue mau ngelanjutin kuliah ke kanada, kalau loe mau nungguin gue…”

“Gue mau…” potong Prita.

Ibnu tersenyum,”Oke…”

Mereka pun kembali hanyut dalam alunan musik dengan perasaan bahagia, Prita sekarang yakin. Ibnu lah kekasih sejatinya.

***


Penulis: Hanna Evani
facebook: Hanna Neko-Suki
twitter: @Hannaevani
youtube: Hanna45035
Ditulis oleh Lukas Gentara

Masukkan email kamu untuk mendapatkan update artikel terbaru:

Delivered by FeedBurner

8 komentar untuk "Cerpen: Kekasih Sejati"

Post a Comment