Cerpen| Long Distance Relationships

          Long Distance Relationships
oleh: Alifia F. Nidi R.R
          Hari ini seharusnya menjadi hari yang indah bagiku. Kicauan burung dan bau khas dari sang embun seolah menyambut terbukanya mataku dari pejaman mataku yang telah letih berakomodasi selama hampir 16 jam. Hari ini, ‘dia’, akan datang menemuiku di sebuah restoran di ujung Jalan Merbabu pukul 10.00 ya.. pukul 10.00 katanya. Sudah hampir 4 bulan ini, kami tidak bertemu.dan hampir 4 bulan ini juga kami disibukkan dengan urusan yang menuntut kami untuk sibuk.. benar benar sibuk. LDR yang kami rajut selama kurang lebih 3 tahun ini memang LDR serius pertamaku. Aku belajar setia darinya. Ku pilih bajuku yang terbaik untuk menghabiskan waktuku hari ini dengannya. Aku harap dia suka dengan penampilanku. Tapi aku tau jawabannya, “aku suka kamu. Kamu terlihat cantik, dengan apapun yang kamu kenakan. Bukan penampilan kamu. Tapi pancaran dari hatimu”.


          Kalimatnya itu benar-benar ku hafal sampai saat ini, karena setiap aku bertanya tentang pendapatnya dalam segala hal yang aku bingungkan, itu jawabannya. Setelah kecelakaan itu, aku sudah tidak dapat berjalan. Aku harus menggunakan kursi roda ini. Yang selalu membatasi langkah gerakku. Aku benci!! Aku benci karena aku sudah tidak bisa berjalan lagi seperti mereka sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan, lebih tepatnya, aku menunggu sebuah keajaiban. Tapi dia selalu menghiburku di kala aku benar-benar frustasi dengan hal yang menimpaku ini. Itu yang membuatku menyayanginya. Sangat-sangat menyayanginya.

          Hari ini, demi bisa bertemu dengannya, aku relakan untuk mengambil dispensasiku. Awalnya, si bos memang tidak setuju, karena tau alasanku yang dianggapnya kurang masuk akal, tapi pada akhirnya, dia memberikanku izin juga. Karena iba melihatku. Perempuan cacat berkursi roda yang memohon dispensasinya untuk menemui kekasihnya yang sudah lama tak bertemu.

          Berjam-jam aku menunggu di sudut ruangan ini. Menunggunya yang tak kunjung datang. Ku habiskan 2 gelas lemonade yang dengan gampangnya membuat perutku kembung. Aku lelah, aku bosan disini, seolah aku di penjara di tengah hutan. Tapi ketika bayangan bahwa Bintang berdiri di sana dan celingukan mencari di mana tempatku sedang menantinya, seakan membuatku segera bangkit dari kebosanan yang sedang aku alami.

          Ketika aku bangkit dari tempat dudukku. Aku melihat dia datang dari kejauhan. Kemeja dan celana panjang putih dengan senyuman bahagia yang dia pancarkan itu membuatku gemetar.

          Apa? Dia mengenakan kemeja dan celana panjang putih? Sejak kapan dia suka warna putih? Sejak kapan seleranya berubah? Tapi sudahlah, itu tak penting. Yang terpenting sekarang adalah aku bisa melihatnya, untuk beberapa saat sebelum dia kembali.

          Aku melambaikan tanganku kepadanya, berusaha memberi tau keberadaanku di sana. Dia melihat ke arahku, dan tersenyum kepadaku, aku membalas senyumnya. Aku suka dia seperti ini.. ungkapku dalam hati. Dia berjalan mendekat. Entah kenapa semua orang yang sedang menikmati makanannya menatap aneh kepadaku. Seolah aku ini seorang yang gila. Kenapa? Aku di sini juga sama. Ingin menghabiskan makanan yang ku pesan. Yang tentunya memiliki perbedaan dengan mereka. Aku di sini menemui orang yang sudah lama aku nantikan. Bintang.. Bintang Firmajaya.

          Dia tidak duduk, dia berdiri. Entah kenapa aku merasa aneh terhadapnya, aku paksa dia duduk. Tapi dia hanya menggelengkan kepalanya, dan tersenyum kembali kepadaku.

          Seorang anak kecil berteriak dan menunjuk ke arahku, “ma.. kakaknya itu gila ya?”.

          Apa yang dimaksud anak kecil itu dengan gila? Aku tidak gila! Aku masih waras!! Apa dengan aku memaksa kekasihku untuk duduk di sampingku itu namanya gila? Aku rasa tidak. Semua orang melakukannya! Lalu apa!!

          Anak kecil itu kembali berkata, “kok ngomong sendiri ya ma?”

          Aku berbicara sendiri? Tidak! Ada Bintang di depanku! Dia sedang tersenyum kearahku!

          Aku heran! Kenapa semua yang di sini aneh! Tidakkah dia melihat bintang? Apa semua orang disini buta? Apa aku harus pindah restoran supaya semua orang berhenti menatapku!

          Ku letakkan 1 lembar uang yang bernilai 50ribu di atas meja, dan mengajaknya pindah lokasi, aku tau, dia benar-benar lapar. Dia baru datang. Lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya.

          Ku coba meraih tangannya, tapi kenapa tidak bisa? Kenapa tanganku tidak bisa bersentuhan dengannya. Kenapa bisa terjadi? Kenapa ini!!

          Aku bingung! Benar-benar bingung!!

          Sampai akhirnya Diska tiba menjemputku, dan mengajakku untuk pulang. Jelas aku tidak mau. Aku tidak mau meninggalkan Bintang sendiri. Aku sudah lama menantinya, apa iya aku mau dengan mudahnya meninggalkannya yang baru beberapa menit berbalas senyum dengannya.

          “Bintang tidak ada!!” Diska berbisik di telingaku.

          Bertambah lagi orang yang tak bisa melihat kehadiran Bintang di sini.

          “Bintang! Cepet kamu bilang ke mereka semua kalo kamu ada di sini! Jelasin ke mereka kalo aku enggak gila! Kamu ada Bintang! Kamu di sini buat aku!” aku menangis dengan keadaan kursi rodaku yang sudah didorong oleh Diska. Aku mencoba untuk menahannya. Tapi tak bisa…

          “Cukup Fa! Bintang udah Mati!! Sadar dong! Dia udah enggak ada lagi!”

          Apa benar kamu sudah tidak ada Bintang? Kamu berdiri di situkan? Aku bisa melihatmu. Aku bisa merasakanmu!

          Aku diam, tak bergeming

          “Lihat apa yang terjadi padamu! Kakimu lumpuh! Ingat kejadian itu? Dimana kamu dengannya touring bersama dan kecelakaan itu menghampirimu! Ingat Fa? Ingat! Sadar Fa! Kami semua sayang kamu! Jangan siksa dirimu seperti ini! ”

          Kali ini dia benar Bintang. Jasadmu sudah tidak ada di tengah kami lagi. LDR ini antara alam baka dan alam dunia. Tunggu aku Bintang. Aku berusaha menggapaimu lagi. Sayangku tertanam di hati, di bumi, dan nantinya juga akan sampai di tempatmu. Aku sadar Bintang.. sekarang aku sadar.. semua tentangmu adalah banyangan semu dirimu, sebuah halusinasi yang disebabkan oleh kerinduan yang sangat menghujam. Teruslah bersinar Bintang. Sinari malamku dengan percikan cinta darimu..



_Alifia F. Nidi R.R_
Facebook: alifia ‘nidegg’ nidi
Twitter: @alifianidi
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: