Cerpen | IBUKU

Bersama Sukses
Ibuku
            Ibuku masuk ke dalam rumah yang sudah gelap gulita. Ketika kedua kakinya melangkah ke ruang tamu yang cukup besar, ruangan seketika terang benderang.
            “Darimana kamu?” tanya Ayahku.
            “Dari rumah Bu’ Rika?” jawab Ibuku seadanya.
            “Ada apa disana?”
            “Arisan.”
            “Sampai malam?!”
            “APA PEDULIMU???”
            “Maksudmu?”
            “Tak usah berlagak bodoh, kamu itu PEMIMPIN PERUSAHAAN BESAR, tak mungkin kamu tak mengerti apa yang aku maksud!”
            “AKU SUAMIMU!!”
            “OH…  Sekarang, kamu sudah sadar bahwa kamu punya istri?”
            “Jaga ucapanmu!!”
            “BAIK… Aku memang harus selalu menjaga ucapanku, karena aku adalah istri seorang pemimpin perusahaan!! Itu kan yang ingin kamu katakan?? AKU SUDAH MUAK!! Aku lelah untuk selalu berpura-pura elegan di mata semua orang!!”
            “Ada apa denganmu? Mengapa kamu berkata seperti itu?”
            “Ini semua karena kamu! Kamu tak pernah menerima aku sebagai istrimu. Sejak awal kita menikah, kamu sudah menyibukkan diri, dengan segudang urusan kantormu!”
            “Itu dulu… Aku sudah menguranginya sekarang.”
            “TERLAMBAT!!! Aku sudah lelah, AKU MUAK!!!”
            “Ka… mu…” tangan Ayahku bergerak hendak mendaratkannya ke pipi Ibuku.
            “AYO…!!! Tampar aku, agar aku punya alasan untuk menceraikanmu…”
            Seorang gadis kecil sepertiku, tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya dapat menangis sambil memeluk erat boneka Teddy Bearku.

☺☺☺

            IBU. 3 huruf yang membuat aku menderita. Seseorang yang juga membuat hidupku tak berarti. “Ibu adalah harta terindah di dalam hidupku.” Tak pernah kalimat itu terucap dari bibirku. Aku benci Ibu. Tak peduli, dia yang telah melahirkanku. Toh, dia juga yang telah memisahkanku dari Ayahku semenjak aku berumur 3 tahun, sampai sekarang, sampai umurku 19 tahun. Dan bodohnya, aku masih tetap bertahan untuk tinggal bersamanya. Karena aku, belum bisa berbuat apa-apa. Tapi aku yakin, suatu saat nanti, aku akan meninggalkannya. Sendiri.
            Satu-satunya yang membuat aku bertahan untuk hidup adalah Rian. Seorang lelaki yang selalu membuat aku tegar. Aku sangat yakin, dia takkan pernah menyakiti ataupun mengkhianatiku. Tapi, Nyonya Merry Adi Putra, orang yang telah melahirkanku itu, tak pernah setuju hubunganku dengan Rian. Tapi, siapa dia?? Aku akan terus melanjutkan hubunganku dengan Rian. Apapun yang terjadi.
           

☺☺☺

            “Hiks… Hiks..” isakku.
            “Kamu kenapa, Sayang?” tanya Rian pelan.
            “Aku benci sama wanita itu!!”
            “Ibu kamu?? Emang, ada masalah apa lagi?”
            “Aku gak tahu, tiba-tiba, dia nyuruh aku buat mutusin kamu. Dan lebih parahnya, dia bilang, kamu sama kayak Ayah aku. Hiks..Hiks..”
            “Udah-udah, mungkin Ibu kamu, punya alasan sendiri ngomong kayak gitu.”
            “Aku gak terima.”
            Rian hanya diam. Ia menuntunku ke motornya. Ia membawa motornya melaju cepat. Jalanan malam itu lengang. Tiba-tiba, aku mendengar….
BRAK… !!!!

☺☺☺

            Aku membuka mataku. Berat sekali.
            “Kamu sudah sadar, Sayang?” tanya wanita yang sangat tidak aku inginkan ada di hadapanku. Aku memalingkan wajahku.
            “PERGI!!!” jeritku sambil mengacungkan tanganku ke arah pintu keluar.
            “Kamu jangan terlalu banyak gerak, Sayang!
            “PERGI!!! Aduh…” keluhku. Kepalaku sakit sekali. Seperti ditusuk benda yang sangat tajam.
            “DOKTER….!” jeritnya.
            Tak lama kemudian, dokter dan seorang perawat yang kebetulan lewat di kamarku masuk. Wanita itu keluar didampingi perawat yang lain.
            “Dok,, jangan biarin wanita itu masuk ke ruangan ini. Aku mohon, Dok!” pintaku.
            “Tenang, ya! Keadaan Mbak belum pulih. Jangan terlalu banyak bergerak.”
            “Aku gak akan pernah sembuh, kalau Dokter masih mengizinkan wanita itu berada di hadapanku!”

☺☺☺

            Di depanku, berdiri megah sebuah rumah yang sangat besar. Kediaman Rian. Tapi, tak sedikit pun tampak tanda-tanda kehidupan di rumah ini. Gerbangnya tertutup, tanpa celah sedikitpun. Harus kemana aku sekarang??

☺☺☺

            Aku harus terbiasa dengan ruangan ini. Aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar  kost-kostan. Ini keputusan yang nekat. Aku melarikan diri dari rumah sakit. Aku juga tak tahu, kudapatkan darimana kekuatan ini. Padahal, aku baru mengalami kecelakaan, yang untungnya, tak merenggut nyawaku. Yang pasti, keputusanku sudah bulat. Aku meninggalkan wanita itu. Baru aku tahu, dia juga yang membuat Rian pindah dari rumah sakit tempat aku dirawat. Aku tak tahu, Rian pindah kemana.
            Semua badanku sakit. Tapi, kasur yang berada di sampingku, tak membuat aku ingin tidur. Aku pun keluar mencari udara segar. Aku duduk di sebuah tangga kecil di depan kamarku. Pintu kamar lain, tak ada yang terbuka. Mungkin, semua orang sudah tidur. Mengapa kehidupanku tak seindah bintang yang aku lihat malam ini? Air mataku menetes.
            “Hai…” sapa seorang lelaki yang aku tak tahu sejak kapan ia duduk di sampingku. Aku tak berniat menoleh sedikitpun.
            “Penghuni baru, ya?” Aku hanya mengangguk.
            “Bisu ya??” tanyanya ketus. Aku kenal suara ini. Suara ketus yang tak kan pernah hilang dari ingatanku. Aku pun menoleh. Ia tersenyum. Senyum ini. Senyum yang selalu aku nantikan setiap hari. Dulu.

☺☺☺

            Aku menutup pintu kamarku. Aku tersenyum. Senyum paling tulus yang keluar dari bibirku hari ini. Dia… He is my first love. Dia teman SMP-ku. Orang yang hampir setiap hari menjahiliku. Orang yang juga hampir setiap hari aku ajak bertengkar. Tapi, dia juga yang selama 2 tahun mengisi semua hatiku. Walaupun tak pernah aku memilikinya. Ardi.


☺☺☺

            “Aduh, kok susah amat ya cari kerja?” keluhku.
            “Gimana gak susah, yang minimal kayak Ijazah SMA aja gak ada.” jawab Ardi.
            “Semua ijazah aku, dari Play Group, TK, SD, SMP, ama SMA, di rumahku yang dulu.”
          “Ngapain juga gak dibawa, udah tau mau cari kerja.”
            “….”

            “Kamu mau gak, ceritain masalah kamu sama aku?” tanyanya penuh harap (kurasa…).
            Tiba-tiba, tanpa aku sadari, bibirku mengeluarkan kata-kata yang menceritakan kisah hidupku. Dimulai dari wanita itu yang gila Arisan, Ayahku yang meninggalkanku. Dan kecelakaan yang kualami dengan Rian. Tak terasa aku terisak di depannya. Bulir-bulir air mata ini tak dapat aku tahan. Ia membelai rambutku pelan.
            Isakku keluar lagi, tangisku pun pecah. Aku bersandar di bahunya. Untuk pertama kalinya, aku menceritakan semua kisah hidupku.
            “Jangan pernah bilang benci sama Ibu kamu,” katanya pelan.
            “Jangan sampai kamu menyesal, setelah dia tidak ada. Sesal yang kamu rasakan nanti, akan lebih sakit dari ini,” tambahnya lagi.
            “Maksud kamu?” tanyaku tanpa melihat ekspresi wajahnya.
            “Aku dilahirkan tanpa seorang Ayah. Aku sangat membenci Ibuku, karena tak sedikit pun ia pernah menceritakan tentang Ayahku. Aku tak pernah perduli terhadap Ibuku. Di waktu pengumuman kelulusan SMP, aku pergi dengan Ibuku. Tapi, aku tak mengizinkannya untuk berjalan di sampingku. Aku berjalan cepat. Ia mempercepat langkahnya hanya untuk berjalan di sisiku. Ia sudah tua ketika itu. Ketika menyeberang, ia tak melihat kanan-kiri, hingga terjadilah kecelakaan itu. Ketika aku menoleh ke belakang, aku hanya dapat berdiri mematung, melihat tubuh tuanya terlempar jauh dari tempat dia berjalan tadi.”
            Aku kembali menangis. Tiba-tiba, sakit hatiku menguap entah kemana, sekarang hanya ada perasaan rindu yang mendalam.
☺☺☺
            “Assalammu’alaikum…” kataku pelan.
            “Wa’alaikumsalam…  CITRA… !!! Tubuh itu langsung memelukku. Untuk pertama kali, aku merasakan pelukan seorang Ibu. Hangat. Nyaman tiada tara. Aku membalas pelukannya. Aku tak kuasa menahan tangis.
            “I… i.. bu… “ kataku lirih. Sudah lama aku tak memanggilnya dengan sebutan itu. IBU…


☺☺☺

           
            “Maaf, Ibu tidak pernah cerita dengan kamu, Cit. Ayah sama Ibu dijodohkan. Sebelum kamu lahir, Ayah itu orang yang gila kerja. Ibu lelah untuk menunggu Ayah setiap hari di ruang tamu sampai larut malam. Ibu berfikir, Ibu harus membalas perbuatan Ayah. Ibu mulai gila Arisan, untuk menghabiskan uang Ayah, agar Ayah bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dengan Ibu. Ibu mendengar kabar, bahwa Ayah sudah punya pengganti Ibu, karena itu, Ibu tidak bisa menghentikan kebiasaan jelek Ibu itu.
            “Ayah dimana sekarang, Bu?”
            “Terakhir Ibu dengar, Ayah pindah ke Singapura. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Rian… itu kakak kamu.”
            “….”

            Aku hanya dapat terdiam. Aku harus menerima semua kenyataan ini. Ayahku, sudah menikah dengan mantan pacarnya yang telah dihamilinya sebelum menikah dengan Ibu. Mereka melahirkan anak, yang selama 2 tahun terakhir menjadi… Pacarku. Ternyata, setelah kecelakaan itu, Ibu menceritakan semuanya kepada Rian, oh salah.. Kak Rian. Ia memutuskan untuk meninggalkanku. Aku dapat menerimanya.
            IBU. 3 huruf yang sekarang, membuat aku merasa hidupku sangat berarti. Aku tak mau, aku menyesal karena telah membenci Ibuku. Ibu yang telah melahirkanku. Ibu, yang selalu berusaha tegar, walaupun hatinya rapuh. Rapuh, dikhianati oleh suami dan anaknya sendiri. Aku tak akan pernah meninggalkannya. Now, Tomorrow, and Forever. Aku sayang Ibuku.
            Kebahagiaanku tak berhenti disana, aku punya seorang lelaki yang sangat mencintaiku. Ardi. Orang yang telah menyadarkanku, betapa berartinya seorang Ibu. Orang yang membuat hari-hariku terasa indah. Dua orang yang sekarang mengisi hatiku. Dan aku harap sampai mati nanti, akan selalu mengisi kepalaku, hatiku, dan hidupku.


THE END

Oleh    : Endang Syahfitri Harahap

FB    : Endang Syahfitri Harahap
Twitter    : @endangharahap
Ditulis oleh Lukas Gentara

Masukkan email kamu untuk mendapatkan update artikel terbaru:

Delivered by FeedBurner

4 komentar untuk "Cerpen | IBUKU"

Post a Comment