Cerpen BONEKA PERSAHABATAN

Satu lagi Cerpen tentang persahabatan yang ditulis oleh Rima Dwi Andina melengkapi cerpen persahabatan dan cerpen sahabat sebelumnya.

Boneka Persahabatan




Oleh : Rima Dwi Andina

Hari ini di kelas Ratih, tepatnya kelas VII-A, ada murid baru. Ia bernama Ayu Mashita, dia pindahan dari SMP Prestasi di Jakarta. Ia pindah karena Ayahnya ditugaskan menjadi guru di SMP Tunas Bangsa, sekolah yang sekarang menjadi tempat Ayu menuntut ilmu. Ia duduk di samping Ratih.
“Hai, namaku Ratih Carissa. Kamu  bisa panggil aku Ratih!” ujar Ratih memperkenalkan diri.
“Hai juga. Aku Ayu Mashita. Kamu panggil aku Ayu saja, ya!” kata Ayu.
Guru IPS pun masuk, sehingga acara perkenalan dilanjutkan pada jam istirahat.

Teng… Teng… Teng… Bel istirahat pun berdentang. Semua murid keluar kelas VII-A, kecuali Ratih, Ayu dan Helen.
“Ayu, kenalkan ini Helen sahabatku” kata Ratih memperkenalkan Helen.
“Ayu!” ujar Ayu sambil menjabat tangan Helen.
“Helen!” kata Helen menyambut jabatan tangan Ayu.
“Oh ya, Ratih, Helen nanti pulang sekolah kalian main ke rumahku, ya!” ajak Ayu.
“Boleh” kata Ratih dan Helen bersamaan.

Pulang sekolah, Ayu, Ratih dan Helen menunggu mobil yang akan menjemput Ayu. Tiiin… Tiiin… Bunyi klakson mobil. Ternyata itu mobil Ayu.
“Wow. Bagus sekali mobilmu, Ayu!” kata Helen.
“Ah, biasa saja. Ini kan cuma mobil APV saja. Oh, ya kenalin ini Bundaku” kata Ayu memperkenalkan bundanya.
“Ratih, Tante!” kata Ratih sopan.
“Helen, Tante!” ujar Helen.
“Panggil saja Tante Maya! Ayo masuk mobil anak-anak!” ujar Tante Maya, bunda Ayu.

Sesampainya di rumah Ayu, Ratih dan Helen dipersilahkan duduk di ruang tamu. Rumah Ayu sangat besar dan terletak di komplek perumahan elit.
Ooo.. ternyata Ayu anak orang kaya, pikir Ratih.
Setelah minum es jeruk yang tadi diberikan oleh pembantu Ayu, Ratih dan Helen mengikuti Ayu ke kamarnya. Di kamar Ayu banyak sekali boneka-boneka Teddy Bear, tapi Ayu lebih menyukai boneka beruang berwarna coklat yang Ia beri nama Tymut atau Teddy Imut. Selain itu di pojok dekat pintu ada rak yang penuh dengan berbagai jenis buku, mulai dari buku pelajaran hingga buku cerita.

ééé

Sudah lebih dari 4 bulan, Ratih dan Ayu bersahabat. Ratih menganggap Ayu sudah seperti saudaranya sendiri. Karena Ratih anak tunggal maka dia sering merasa kesepian, jadi dia sangat bersyukur atas kehadiran Ayu yang bisa menghibur dirinya.
Pada jam istirahat, Ayu melihat Ratih sedang melamun. Karena penasaran, Ayu menghampiri Ratih dan bertanya apa yang dipikirkan Ratih.
“Hei, melamun saja” kata Ayu mengagetkan Ratih, “Apa yang kamu pikirkan? Apa ada masalah.?”
“Ah, tidak koq” ujar Ratih.
“Sudahlah, tidak usah berbohong. Ceritakan saja!” desak Ayu.
Mungkin aku bisa cerita sama Ayu, pikir Ratih.
“Gini loh, Ayu, orangtuaku kan sibuk sama pekerjaannya, terus aku anak tunggal. Jadi aku suka kesepian, jarang diperhatiin. Yah aku sih tidak masalah, tapi aku ingin mereka mengerti perasaan aku. Mereka juga sering berantem, kalau ada masalah. Kalau sudah seperti itu aku jadi merasa bersalah!” ujar Ratih panjang lebar.
“Oh, gitu. Yaudah kamu yang sabar, ya. Nanti mereka juga akan mengeri kok!” nasihat Ayu.
“Tapi, Ayu., kamu janji, ya jangan kasih tau siapapun kalau aku broken home!” kata Ratih.
“Iya. Siiip. Tenang aja” ujar Ayu.

Dua minggu kemudian. Saat jam istirahat, Rati dan Helen ingin ke kantin dan mereka melihat Ayu lagi bersama Bunga dan Arni. Mereka keliatan serius sekali. Tidak sengaja Ratih mendengar apa yang diucapkan oleh Ayu.
Astagfirullah, Ayu membocorkan rahasiaku, kata Ratih dalam hati.
Ayu pun langsung melihat Ratih dan Ratih langsung berlari ke toilet diikuti Helen. Ratih menangis disana dan Helen mencoba untuk menenangkannya.
“Hiks… Hiks! Kenapa.. Ayu membocorkan rahasiaku? Hu… Huu!” tangis Ratih.
“Sudah, sudah! Kamu tenang, ya” hibur Helen.
Saat Ratih dan Helen keluar dari toilet, berita itu sudah menyebar kemana-mana, tapi tidak ada yang berani membicarakannya. Di belakang, Ayu berusaha minta maaf, tapi terus saja ditolak oleh Ratih.
Sebenarnya sih, ini bukan salah Ayu juga, karena berita ini sudah berhenti menyebar. Jadi aku harus memaafkan Ayu. Mmm… aku bikin surprise saja, tekad Ratih dalam hati.

ééé

Keesokan harinya saat pulang sekolah, Ratih pergi ke Toko ‘Anita’s Toys’, toko yang menjual berbagai macam boneka. Ratih membeli boneka Teddy berwarna putih. Saat Ratih keluar toko, Ratih melihat orang mirip dengan Ayu.
“Itu seperti Ayu. Kok dia ke arah rumahku, ya. Ada perlu apa dia?” gumam Ratih.
“Ayuuu… !” panggil Ratih.
“Ratiih, tunggu yaa” pekik Ayu, kemudian Ayu menyebrang jalan dannn …… Ada mobil yang menabrak Ayu.
“Awassss …” teriak Ratih sambil berlari menghampiri Ayu.
“Ayu sadarlah!” kata Ratih sedih.
Setelah itu, Ratih menelpon Tante Maya. Dan tidak lama kemudian, Tante Maya datang dan langsung membawa Ayu ke rumah sakit. Ratih pun ikut serta.

Sesampainya di rumah sakit, Ayu langsung dibawa ke ruang UGD. Tante Maya terlihat tegang di luar ruangan. Setelah kurang lebih 30 menit lamanya, Dokter ke luar dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?” tanya Tante Maya khawatir.
“Anak Ibu tidak apa-apa. Tetapi mengalami cedera berat di kaki kirinya. Jadi kaki anak Ibu harus diamputasi!” jelas Dokter.
“Apaa?” kaget Tante Maya.
Ratih yang mendengarnya langsung menangis histeris dan menyesal tidak memaafkan Ayu.
“Tante Maya, maafin Ratih, ya!” ujar Ratih sedih.
“Tidak, Nak. Kamu tidak salah” jawab Tante Maya.
“Dokter apa kita sudah boleh masuk?” tanya Tante Maya kepada Dokter.
“Boleh, Bu. Silahkan!” ucap Dokter.
“Ayo, Ratih kita masuk!” ajak Tante Maya.
“Iya, Tante” kata Ratih.
Di ruang UGD, Ayu diberi oksigen dan kaki kirinya diberi penahan.
“Ayu!” panggil Ratih.
“Ra… tih” kata Ayu lemah.
“Tadi sepulang sekolah, aku ke Toko ’Anita’s Toys’. Terus aku membeli boneka Teddy putih ini. Nih, aku kasih ke kamu sebagai tanda persahabatan” ujar Ratih.
“Jadi… ini boneka persahabatan! Kamu… mau menjadi… sahabatku lagi?” tanya Ayu senang.
“Iya, aku sudah memaafkanmu. Boneka ini sebagai lambang persahabatan kita” kata Ratih senang.
“Ayu, kaki kirimu kan cedera berat, jadi harus diamputasi. Kamu tidak masalah kan, Sayang” tanya Tante Maya, bunda Ayu.
“Tidak apa-apa, Bunda. Yang penting di samping Ayu selalu ada Bunda dan Ratih!” ujar Ayu.
Tiba-tiba Dokter dan suster masuk ke dalam ruangan untuk membawa Ayu ke ruang operasi.
“Ayu, kamu sudah siap?” tanya Dokter.
“Insya Allah, saya siap, Dokter. Bunda, Ratih doain Ayu, ya supaya operasinya berjalan lancar!” pinta Ayu.
“Iya, Sayang. Bunda akan selalu berdoa untukmu” kata Tante Maya.
“Iya, aku juga Ayu” ujar Ratih.
“Yasudah. Sekarang Ayu suster bawa ke ruang operasi” ucap suster.

Selama 1 jam operasi, belum juga ada tanda-tanda operasi akan selesai. Beberapa menit kemudian, Dokter keluar ruangan dengan wajah senang.
“Bagaimana Dokter, apa operasi Ayu berjalan lancar? Bagaimana keadaan Ayu Dokter?” tanya Tante Maya bertubi-tubi.
“Tenang, Bu. Operasinya berjalan lancar, kondisi Ayu juga baik-baik saja, hanya dia masih lemas” jelas Dokter.
“Ooh, boleh saya masuk?” tanya Ratih.
“Boleh, Nak” kata Dokter.
“Tante, Ratih masuk dulu, ya” pamit Ratih.
Ratih pun masuk ke ruang operasi. Keadaan Ayu kelihatan sangat lemah.
“Ayu” kata Ratih.
“I… yaa” ucap Ayu.
“Ini aku Ratih. Aku mau kamu menyimpan boneka persahabatan ini” pinta Ratih.
“Tapii …” kata Ayu gugup.
“Tidak ada tapi-tapian. Aku kan membelinya untuk kamu. Jadi kamu yang menyimpannya” ujar Ratih.
“OK. Aku akan menyimpannya hingga kita besar nanti. Kamu janji sama aku kamu harus menjadi sahabatku selamanya” ujar Ayu.
“Iya aku janji. Kamu Best Friend-ku. Hahaha!” ucap Ratih senang.
“Iya. Selamanya kita akan menjadi sahabat. Hahah!” tawa Ayu senang.
Akhirnya mereka berdua menjadi sahabat untuk selamanya. Karena mereka sudah berjanji. Walaupun mereka sudah besar, mereka tidak akan melupakan sahabat. Karena ada boneka persahabatan, mereka akan selalu ingat, kalau mereka mempunyai sahabat yang baik.

ééé


Tamat
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: