Feb 24, 2011

Puisi-Puisi Kurnia Hidayati

Hujan Telah Menghilang


Hujan kini telah menghilang
Membekas air yang menggenang
Membuat raga melintas tanpa bayang
Ya, mentari tak berani muncul sekarang


Tapi lihat, awan begitu merata
Sinarnya tak seredup kala hujan menerpa
Mentari mulai bangkit
Walau sinarnya terhempas awan tak bersuara


Aku disini hanya mencoba merangkai kata
Walau kurasa tak bermakna




Dan, Gerimis Masih Saja Turun..


Ketukan- ketukan itu, masih terdengar
Entah apa yang di ketuknya, hingga terdengar suara
Mengusik rasa kantuk yang menggantung sedari tadi


Ketukan itu kini semakin cepat, seperti bunyi tapak kaki dikejar waktu
Menandakan gerimis semakin ingin turun
Tulisan- tulisanku mencoba menandingi derasnya air


Menyeruak begitu sering menjatuhi bumi,
Hujan, kau bukan sainganku
Walau ku telah lelah menulis, meski ku telah menyerah
Dan Gerimis Masih Juga Turun




Pagi di Pucuk Awan


Tampak kilau-kilau itu
Putih membaur bingkai awan
Disanalah mentari bersembunyi
Mungkin lebih tepatnya, awan tak menutup sebagai tabir


Langit kini tampak abstrak
Menyambut raga bersiap lelah
Jejali jalan, tapaki pekerjaan
Untuk sebuah hidup yang di harap


hmmmh.. hujan memang inspiratif. Seperti puisi tentang hujan yang ditulis oleh Kurnia Hidayati di atas.


Kumpulan Puisi >> Puisi Persahabatan >> Puisi Patah Hati >> Puisi Romantis >> Puisi Rindu >> Puisi Sahabat >> Puisi Ibu >> Puisi Lucu >> Puisi Sakit Hati >> Puisi Perpisahan >> Puisi Putus Cinta >> Puisi Sedih >> Puisi Bahasa Inggris >> Puisi Sunda >> Puisi Cinta Kahlil Gibran >> Puisi Harapan >> Puisi Kehidupan >> Puisi Kangen >> Puisi Humor >> Puisi Gombal >> Puisi Jatuh Cinta >> Puisi Hujan