Cerpen "Antara Aku, Kau dan Kehidupanku"

Antara Aku, Kau Dan Kehidupanku
oleh: Nurani Soliha


“Aku benci hidupku…” itulah kata pertama yang keluar dari mulutku setiap mataku kembali terbuka dari tidurku. Tak lama ku dengar suara ketukan pintu “tok..tok… non Aina sudah siang, nanti non telat ke sekolah lagi!...”, terdengar suara pembantuku yang selalu setia membangunkan ku setiap paginya. “ya bi…”.
Namaku Aina, seorang siswi di salah satu SMK di Bandung, aku termasuk golongan keluarga yang di atas rata-rata. Kadang aku kesal mendengar teman-temanku yang selalu berkata “wah… Aina hidupmu enak, apa yang kau mau pasti tersedia…” aku benci mereka. “mang, ayah dan ibu sudah berangkat??” aku bertanya kepada supirku yang sudah siap untuk mangantarku. “sudah non, dari tadi, ayah non berpesan agar setelah pulang sekolah langsung pulang,,” “iya mang,, nanti kita langsung pulang,” jawabku.
Saat aku mau menghampiri mobil, ada suara memanggil diriku, “ Aina,,,,,” saat ku menoleh ke belakang seorang gadis yang sebaya denganku menghampiriku, dia adalah sahabatku, aku panggil dia Tria. “tumben terlambat?” aku bertanya karena dia tak pernah datang telat seperti ini. “maaf, aku mencari buku bahasa ku, tapi tak ada!”. “buku apa?” tanyaku kembali, “bahasa..!” jawab Tria, “kau lupa atau gimana, kan buku itu di kumpulin, baru sekarang di kembaliin lagi,” aku mencoba menjelaskan, “ oh ya, aku lupa. Kenapa kau tak mamberi tahukan ku dari tadi, jadi kita nggak kesiangan kayak gini!” protes Tria padaku. “mana Ai tau, Tri gak ngasih tau,”. Tiba-tiba supirku ikut berbicara “monggo non Aina, non Tria kita brangkat. Dari tadi di tungguin.”. kami pun segera berangkat agar tidak kesiangan.
Sampailah kami ke sekolah, tanpa berbicara kami langsung menuju ke kelas di mana kami terbiasa melakukan kegiatan belajar. Suasana kelas selalu ribut kalau guru belum datang, “huh… untung tak kesiangan…!” celetuk Tria. Tak lama kemudian lonceng bertanda jam masuk berbunyi tak lama setelah berbunyi Bapak guru datang ke ruang kelas. Tapi tak seperti biasanya pak guru datang ke kelas, beliau tak hanya membawa buku pelajaran tapi juga membawa saorang siswa. “ selamat pagi anak-anak “ Pak guru menyapa kami yang sedari tadi terus riuh melihat siswa yang di bawanya. “ Ai pak guru bawa siswa dari mana? Wah ganteng ya, seperti Vokalisnya Peter Pan,,” komentar Tria tentang siswa baru tersebut. “ oya?? Menurutku juga, tapi dia mirip Vokalisnya Peter Pan kalau dia duduk di bangkumu, lalu kamu melihat dia di ujung Monas sambil bawa sedotan,,!” komentar ku, “ apa sih, dasar jutek banget,,,” tambah Tria yang tak menerima komentarku.
“ sudah, kalian jangan berisik terus, bapak membawa kabar baik pada kalian. Mulai saat ini kalian mendapat teman baru pindahan dari Jakarta, silakan kamu perkenalkan diri kepada teman-teman baru mu, “ pinta pak guru. “ baik pak…” jawabnya. “ selamat pagi, nama ku Hendi Ramadhan, aku pindahan dari Smk Wirakarya,,”. Memang benar apa yang di katakana Tria, dia ganteng, dan sepertinya dia pintar, tapi kenapa dia pindah sekolah? Kemudian Tria mengangkat tangannya “ ada apa Tria?” Tanya pak guru, “ Tria mau Tanya pak, kenapa dia pindah sekolah, padahal Smk Wirakarya sekolah Favorite di Jakarta?” Tanya Tria. “ silahkan Hendi kamu jawab pertanyaan teman kamu “ jawab pak guru, lalu Hendi menjawab “ karena ayahku pindah tugas,’’.
“ ya sudah kalau begitu, Hendi sekarang kamu mulai belajar, silahkan kamu duduk bersama… Aina”. Apa aku sebangku dengan dia, memang aku duduk sendirian karena aku males kalau ada teman sebangku, lalu aku protes pada pak guru “ pak, kenapa harus di bangku Ai? Tria duduknya juga sendiri!” protesku, “ tidak Ai, bangku Tria sudah ada yang menempati, tapi tidak hadir untuk hari ini, lagian kamu duduk sendiri, kamu juga bisa membantu Hendi untuk beradaptasi, kamu siswi berprestasi di sini.” Jelaskan pak guru padaku, huh padahal… Tapi tak apa, mungkin dia tak secerewet teman-teman ku yang lainnya. Siswa baru itupun duduk di bangku ku, dia memandangiku dengan aneh, “kenapa? Ada yang aneh?” tanyaku “tidak,” jawabnya, “ kenapa tadi kamu ketus sekali kepadaku, kenapa kamu tak mau ada teman sebangku?” Tanya siswa baru tersebut, aku Fikir dia tak cerewet ternyata sama saja. “ kenapa kamu banyak Tanya, kamu masuk ke sekolah ini untuk bertanya atau belajar?” tanyaku ketus. Lalu Tria menjawab “ sudahlah Hendi, Aina emang ketus tapi dia baik kok,” “ siapa yang minta pujianmu?” aku Tanya lagi, “ ih Ai,,,,,” jawab Tria
Jam istirahatpun tiba, kami segera keluar dari ruangan, “Aina,” ada apa lagi siswa baru ini, dari tadi gak bosen nanya terus, “ ada apa Hendi Ramadhan, apa kamu mau Tanya padaku kemana aku akan pergi?” Hendi memandangku dengan heran. Tapi entah mengapa tatapan matanya yang begitu, aku merasakan kehangatan yang berbeda, ah.. kenapa aku ini, ayo Aina, jangan kamu tergoda oleh anak baru ini. “ tidak, aku hanya ingin bilang padamu, sedari tadi aku terus memperhatikanmu, ada sesuatu yang kau sembunyikan, di balik perkataanmu yang ketus, tapi matamu tak ingin berbuat seperti itu, iya kan?’’ apa yang di katakan anak baru ini, “oyah! Ternyata di sekolah ini ada peramal baru… so banget.” Lalu Tria membawa Hendi ke kantin, tapi apa yang di katakan anak itu benar, aku bukan ketus, sombong atau angkuh, aku hanya ingin menyembunyikan semua jati diriku, aku ingin mereka hanya tahu aku Aina seorang anak Dirut perusahaan yang mereka anggap aku anak yang sempurna, biarlah hanya sahabatku yang tahu, bagaimana aku dan kehidupanku.
“ada yang berbeda pada Aina, kamu mungkin tahu?” Tanya Hendi pada Tria, “ emang kenapa? Sepertinya biasa-biasa aja!” jawab Tria dengan tenang, “sepertinya tidak biasa, aku yakin kamu tahu tentang Aina, dari tatap matanya yang kosong, sepertinya dia menderita! Malah amat menderita…” jelaskan Hendi, Tria berfikir apa mau laki-laki ini, dia baru pertama melihat Aina, tapi dia bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya itu, “apa sih, Hendi so tau banget, aku sahabatnya dan aku lebih tau dia, ngerti!! Udahlah jangan banyak Tanya, urusi persoalan adaptasi mu,” Tria sedikit berteriak sehingga teman-teman memperhatikan Tria  dan Hendi, aku tahu Tria bermaksud melindungiku, Tria menyusulku, dia menyampaikan apa yang di katakana Hendi, menurut Tria, Hendi begitu tahu tentang aku, padahal aku bertemu dengan Hendi baru kali ini dan belum 24 jam.
“sebenarnya dia siapa?” Tanya Tria. Tiba-tiba kepalaku sakit, mataku mendadak gelap, “Ai kamu kenapa?” Tria panik, Tria membawaku ke UKS, “di kantongnya!” bisik Tria, lalu dia pergi ke kelas untuk mengambil sesuatu, “dimana ya?” Tria terus mencari sesuatu di tas sekolah ku, “nah, ini dia” Hendi masuk kelas dan memperhatikan Tria yang berwajah pucat, “kau kenapa?” Tanya Hendi “apa urusanmu” jawab Tria kesal “apa itu? Sepertinya obat, tapi obat apa dan punya siapa?” Tanya Hendi “kau ini nanya atau mengintrogasi? Bukan urusanmu, minggir aku sedang sibuk!” Tria pun pergi ke luar kelas menuju ke ruang UKS, “Triana tunggu” teriak Hendi.
“bagai mana keadaan Aina?” Tanya Tria pada petugas yang menjaga Aina di ruangan, “sepertinya dia telat minum obat! Memang dia sakit Tri?” Tanya petugas UKS. “tidak, cuman Aina lupa minum vitaminnya!” jawab Tria. Hendi menyadari Aina sedang sakit, tapi sakit apa fikir Hendi. Aina pun di suruh pulang oleh guru karena kondisinya yang lemas. “hati-hati ya Na, nanti pulang sekolah Tri ke rumah!” pesan Tria, “iya” jawab Aina yang masih lemas, Tria pun kembali ke kelas, “Aina sakit apa?” Tanya Hendi, “bukan urusanmu, dan jangan kau mengintrogasi lagi karena kau takkan mendapatkan jawaban, ngerti!” tegas Tria pada Hendi, Hendi tambah penasaran apa yang di sembunyikan oleh gadis ini.
Sebelum pulang ke rumah Tria mampir ke rumah Aina, “bi, Ainanya ada?” Tanya Tria pada pembantu Aina, “eh non Tria, ada non silahkan masuk langsung saja ke kamarnya non!”. Tria langsung pergi ke kamar Aina, terlihat Aina yang masih lemas dan lunglai, “Ai, bagai mana keadaanmu?” Tanya Tria pada Aina yang menyambutnya dengan senyum manis, “besok antar aku ke rumah sakit ya, aku tak yakin aku baik-baik saja!”.
Keesokan harinya Tria mengantar Aina ke rumah sakit, Aina pun di periksa, “bagai mana Dok keadaan teman saya?” Tanya Tria harap-harap cemas, “apa anda tahu sebelumnya?” Tanya dokter, “tahu apa dok?” “Aina menderita kangker otak stdium akhir!” tersentak jantung Tria mendengar penjelasan dokter, “tapi dok, kenapa bisa begitu? Yang saya tahu Aina hanya menderita sakit kepala biasa?” penjelasan Tria, “mungkin ayah dan ibunya sudah tahu, tak ada yang bisa di lakukan, kangkernya sudah menyebar, hanya saja berikan dan minum obat ini secara teratur, setidaknya bisa menahan rasa sakit yang di derita oleh Aina,” jelaskan dokter.Tria keluar dari ruang dokter,dia melihatku dengan miris, air matanya membasahi pipinya yang lembut. “stadium akhir? Tak ada harapan? Hanya bisa menahan rasa sakit? Kenapa kau tak memberi tahuku Ai? Kenapa kau menyimpan semua ini? Kau menggapku orang lain?” sambil menangis Tria memeluku, “maafkan akuTri, aku tak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini, tapi aku takut kamu sedih dan memberitahukan aku sakit kepada orang tuaku,” jawabku, aku tak tahu apa yang harus aku sampaikan pada sahabat kecilku itu, “apa yang kau bilang, orang tuamu tak mengetahui kau sakit?” Tanya Tria lagi “ya, hanya kamu yang tahu,” jawabku lagi.
Hari-hari ku lewati, dengan harapan yang kosong, bahkan orang tuaku tak memperdulikanku, aku tak mau menjadi beban mereka dan menambah fikiran mereka. Keesokan harinya aku mulai pergi ke sekolah. Tiba-tiba ada yang menyapaku “pagi cantik!” sapa Hendi pada Aina yang sedang duduk di bangku taman, “baru tahu aku cantik, ada apa?” Tanya ku ketus. “tak ada apa-apa, aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sangat ku senangi,” ajakan Hendi padaku, “apa urusanku?” “kau ini, tapi karena sikapmu itu yang membuatku suka padamu, aku jemput kau nanti malam,” “hei, memang aku menjawab ajakan mu apa? Lagian dari mana kau tahu alamat rumahku?” teriak ku, “jangan panggil aku Hendi bila ku tak tahu alamat rumah gadis ketus sepertimu,”. Ada apa dengan laki-laki ini. Di perjalanan sekolah aku bercerita pada Tria, “apa? Hendi mengajak mu Dinner?” jawab Tria kaget, “iya, nanti malam dia akan menjemputku,” jawabku singkat, “dan kamu mau?” Tanya Tria lagi, “gak taulah, aku belum menjawabnya, tapi dia langsung mau menjemputku, entah kenapa Tri, aku ngerasa nyaman banget kalau deket ma dia, rasanya aku merasakan sesuatu yang sangat membuatku merasa senang. Senyumnya, cara dia bercanda,” “kamu menyukai Hendi Ai?” Tanya Tria yang curiga. “aku tak tahu apa yang ku rasakan ini, aku berusaha buat ketus ma dia Tri, tapi Hendi yang sabar seakan membuatku luluh dengan apa yang ada pada dirinya, tapi kalau aku jatuh hati padanya, aku takut menyakitinya dengan keadaanku saat ini Tri, aku takut!” jawabku miris.
“jangan seperti itu, kau masih remaja. Kau berhak mendapatkan kasih sayang dari seseorang yang kamu sayangi,” Tria mencoba menghiburku, “tapi kamu tahu kan umurku tak lama lagi, aku bertahan hanya untukmu, bukan demi yang lain,” jawabku lagi, “kau benar-benar tak ingin memberitahukan orang tuamu?” Tanya Tria, “biarkan mereka menyadari, bahwa yang mereka cari mungkin lebih berharga dari ku,” jawabku.
Jam pun menunjukan pukul 7, tiba-tiba terdengar bel pintuku berbunyi, “ting….tong… permisi selamat malam,,” terdengar suara laki-laki di luar pintu rumahku, tak lama kemudian pembantuku memberi tahuku ada yang mencari, ternyata benar, Hendi yang mencariku, “hai cantik, udah siap?” Tanya Hendi, “memangnya kita mau kemana? Aku tak memberikan jawaban ya, tapi kau datang. Kau tak malu datang ke rumah orang tanpa di undang?” Hendi hanya tersenyum dan berkata “kenapa kau menyambutku dan berpakaian rapih kalau tak mau, ayolah jangan kau berpura-pura, yu kita jalan. Jangan ketus padaku nanti nyesel lagi!” dengan percaya dirinya Hendi menarik tanganku dan membawa ku pada kendaraan roda empat yang dia parkir di halaman rumahku, “hei percaya diri sekali kau, mau di bawa kemana aku?? Hendi…..”
Entah di bawa kemana aku oleh siswa baru ini, di sepanjang jalan aku hanya terdiam dan cowok yang menurutku tampan ini tak sedikitpun mengeluarkan suara, ia hanya fokus pada jalan yang ada di depan. Tak lama kemudian mobilnya berhenti di suatu tempat, aku pun tak tahu ada tempat yang seindah ini. Mata ku melihat sekeliling tempat itu, lampu-lampu yang amat terang, “waw, ternyata ada tempat yang seindah ini, dari mana kau tahu? Kau kan pindahan?” tanyaku tanpa melihat wajahnya, “kau cantik dengan senyum manismu,” apa yang di katakannya? Aku berpaling melihat raut wajah yang ku suka itu, matanya yang indah, membuat hatiku yang selalu gundah menjadi tenang, senyum yang manis, ya Tuhan di usiaku yang tak lama lagi ini, kau memberikan keindahan yang tak pernah ku rasakan. Sahabatku yang selalu ada di sisiku, dan kini kau berikan aku sosok laki-laki yang menurutku sempurna. Apa aku berdosa membiarkan dia masuk kedalam hidupku yang tak menentu ini? Aku takut, aku membuatnya sakit dengan semua yang ada di sekitarku Tuhan, aku tak ingin dia menangis saat kehidupan tak lagi berpihak padaku. Tiba-tiba Hendi memegang tanganku, ia pun berkata “kau seorang hawa yang amat sempurna di mata seorang adam yang tak sempurna ini! Tapi sang adam hanya ingin berkata apakah kau izinkan aku menjadikan yang halal dirimu untuk ku?” apa yang dia maksud? Apa aku sempurna? Apa aku seorang Hawa yang indah? Aku hanya anak remaja yang sedang menunggu kehidupan pergi, Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin membiarkan anak manusa ini berharap harapan yang tak mungkin aku berikan. Aku hanya tertunduk, terdiam. Rasa ini tak bisa aku hilangkan, aku merasa hidupku telah usai. Lampu-lampu itu tak terlihat lagi.
Tubuhku tak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Kau sesuatu yang indah wahai adam, aku tak pernah berani memandang raut wajahmu. “Tria, Aina masuk Rumah Sakit, cepat kau beri tahu orang tuanya!” Hendi panik memberitahukan Aina jatuh tak sadarkan diri saat dia baru ada sekitar 15 menit di tempat itu. Lalu Tria menghubungi orang tua Aina yang ada di luar kota dan ia bergegas menyusul Hendi ke rumah sakit. “ada apa? Mengapa Aina sampai tak sadarkan diri seperti itu Hen?” Tanya Tria panik. “aku tak tau Tri, aku ajak dia keluar tapi tak lama kami ngobrol di tempat itu dia pingsan, aku panik lalu ku bawa dia ke sini, aku tak tau dia kenapa!” jelaskan Hendi, “ya ampun Aina, kamu harus kuat, bertahanlah!” Tria semakin panik. “sebenarnya Aina kenapa Tri? Lalu mana orang tuanya?” Tanya Hendi “kamu mau tahu apa yang terjadi sama Aina? Kamu mau tahu kemana orang tuanya?” Tanya Tria yang tak tenang, “Aina menderita kangker otak stadium akhir Hendi!!! Dia tak punya lagi kesempatan untuk menikmati masa remajanya lagi, tak ada harapan untuknya, kamu tahu usia Aina? Dia baru 17 tahun, tapi dia menghadapi sasuatu yang tak seharusnya dia rasakan. Dan kamu tahu apa yang lebih parahnya lagi? Ayah dan Ibunya tak pernah tahu Aina sakit, yang mereka tahu hanya mencari materi untuk buah hatinya tanpa mengetahui buah hatinya itu akan pergi dan apa yang mereka cari akan sia-sia!!! Puas!”
Hendi hanya terdiam, dia tak mengeluarkan suara sedikitpun. Seseorang yang dia sayang, yang dia inginkan untuk menjadi sesuatu yang berharga akan menghilang untuk selamanya. Dia tak pernah membayangkan semua itu. “kau bohong Tri! Aina sehat, senyumnya takan pernah menghilang, kehidupannya takan pergi.” Hendi berkata dengan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya. Lalu dokterpun keluar dari ruangan di mana Aina berada, “maaf, kami sudah berusaha!”. Ucapan dokter itu sudah amat jelas, “gak mungkin dok,” Hendi tak percaya, Tria hanya bisa menangis, tak ada yang bisa dia lakukan terhadap sahabatnya itu, yang dia fikirkan hanya orang tua Aina. Mungkin mereka takan percaya buah hati mereka satu-satunya, harapan mereka, kini sudah pergi.
Tubuh kecilnya tak kuat lagi menahan ganasnya virus itu, Tria melihat orang tua Aina yang tak berhenti menangis menyesali kepergian buah hati mereka. Hendi yang masih tak percaya, sosok wanita yang dia idamkan kini telah tertidur pulas di pangkuan ibu pertiwi. Tak ada lagi ucapan ketus itu, tak ada lagi sahabat yang menemani Tria berduka dan tertawa. Yang ada tanah merah yang menjadi tempat abadi anak remaja itu.
Ya AINA NUR ANDINI, sosok yang takan pernah bisa terlupakan. Tria menghampiri Hendi yang duduk terdiam di halaman rumah Aina, “kini kau sudah mendapatkan jawban dari semua pertanyaan mu, kehidupan Aina tak seindah apa yang di katakan orang-orang itu. Aina bukan sombong, dia juga tak mau angkuh, mereka belum melihat apa yang terjadi di dalam hidupnya. Kau yang selalu bertanya kini hanya terdiam, sedangkan aku telah mempersiapkan diriku untuk melihatnya damai dan tenang. Tak ada kata yang Ai ucapkan untuk terakhir kalinya padaku, bahkan sampai akhir hayatnya orang tuanya tak mengetahui apa yang terjadi pada putri mereka. Aku hanya bisa menyampaikan sesuatu yang dia inginkan untuk terakhir kalinya.’’
Lalu Hendi bertanya pada Tria “mengapa kau tidak mengeluarkan kesedihanmu? Air matamu tak mengalir, apa kamu tak merasa kehilangan?” Hendi bertanya pada Tria “air mataku sudah habis, kering, Aina tak mau melihat orang yang dia sayang mengeluarkan air mata gara-gara dia, bahkan dia tak mau melihat mata sayumu mengeluarkan air mata. Kamu tahu, saat kau mengajak Ai pergi, dia amat gembira, senyum yang tak pernah ku lihat, tertawa yang begitu renyah itu hadir lagi. Sebelum dia pergi denganmu, dia menulis ini untuk mu, bacalah mungkin ini keinginan terakhirnya. Maaf Ai telah membuatmu menangis, selamat tinggal Hendi,,” ucapan terakhir Tria pada Hendi.
Hendi membuka surat itu di tempat Aina jatuh untuk terakhir kalinya, tempat yang akan menjadi kenangannya, inilah kata-kata terakhir untuk laki-laki yang Aina kagumi
“Hai….
Sebelumnya aku minta maaf telah lancang membiarkan mu masuk  dalam kehidupanku. Aku sudah berusaha untuk menolak rasa itu, rasa yang kau berikan, tapi aku tak bisa menolaknya. Kau yang lembut, membuat raga yang rapuh ini menjadi tegar, hidupku yang singkat ini kau hiasi dengan sunyum manismu. Tak ada yang bisa membuatku kuat dan bertahan selain semangat dari sahabatku, tapi tiba-tiba kau hadir memberi warna baru dalam sisa hidupku.
Kehidupanku yang tak sempurna ini telah usai, penantian panjangku yang ingin merasakan kedamain telah tiba. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan untuk terakhir kalinya padamu. Siswa baru, kau yang ku impikan, ingatlah ragaku memang telah terbaring tapi hati dan jiwaku akan tetap bersamamu. Kau yang terindah, terima kasih kau telah menghiasi sisa hari-hariku. Dan kini biarlah menjadi kenangan yang manis untuk kita, dan ini rahasia kita, rahasia antara aku, kau dan kehidupanku.
Selamat tinggal”

Kini aku kehidupan tak lagi aku genggam, sahabatku melewati hari-harinya tanpa diriku lagi. Laki-laki yang ku inginkan terlihat tegar dengan semua kenyataan ini. Ayah dan ibuku tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dan kini aku telah damai, jiwaku telah tenang, terima kasih Tuhan.



TAMAT

Nurani Soliha
E-mail : solihanurani@rocketmail.com
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: