Jan 12, 2011

Puisi Dessy Listiani

Kumpulan Puisi Dessy Listiani

Hanya Dusta

Dulu kau pernah mengucap
Hanya diriku satu
Bidadari dalam hati mu
yang mampu sirnakan sepimu

Dulu kau pernah berjanji
untuk selalu menyayangiku
Dengan sepenuh hati
meski suatu saat nanti aku tak dapat lagi
memberikan kasih dan sayangku
untuk mu

meski kecewa selalu aku tanamkan
meski luka selalu aku goreskan
kau berjanji
akan selalu berada di dekatku
menemani hariku
untuk melangkah maju bersama sang mentari

Namun kini...
Kemana semua janji mu..??
kemana ucap manismu dulu..??
mengapa kini engkau pergi
ketika aku tengah menguji
ketulusan dari segala ucapan mu

kini aku meragu
pada semua ucap dan janji
yang kau ungkap pada ku
kini aku merasa ragu
pada janji yang ada
pada ketulusan yang nyata

semua terlihat seperti bayang semu
yang selalu menggantung dalam hidup
sebagai pelengkap dari kepalsuan


Jika Benar

Setiapkali aku bersamanya…
Hatiku gemetar..
Dan degup ini…
Kian tak menentu rimanya…
Sempat aku bertanya..
Apakah arti dari rasa ini.??
Apa cinta..??
Atau…
Hanya rasa nyaman semata..??
Telah aku menilik…
Pada hati dan serambi jiwa
Namun tak jua aku menemukan
Jawab dari segala tanya hati

Jika benar…
Rasa ini cinta
Janganlah biarkan aku buta
buta oleh sang rasa
biarlah aku tegar menjalani
pahit manis dari romansa hidup

Jika benar…
arti getar ini cinta
ijinkanlah aku menjaganya
Walau sang jiwa tak pernah tahu
Akan rasa ini..
Namun…
jangan biarkan aku terperosok
Pada lubang yang nista
Lubang gelap yang penuh derita
Dan sesal yang selimuti dada


Sebuah rasa

Aku tak pernah mengerti dengan rasa yang menguasai hati

Apakah aku harus marah dan membencinya?

atau memaafkan dan tersenyum kembali padanya?

Aku tak tahu apa yang ada dihadapku?

apakah rasa sayang atau ungkapan dari kebencian?

hati ini bergetar

degup pun kian kencang nadanya

Entah harus bagaimana aku hadapi sebuah rasa yang menikam hati

kata demi kata kian menghujam hati

menumbuhkan perih dan pedih yang menyayat hati

melelehkan mutiara yang menghujani pipi

semua rasa hilang tak berarti

tak bermakna

hatiku sakit memendan amarah yang tak bisa terucap

menahan benci yang tak bisa aku ungkap

namun sosok jiwa di depanku tak pernah mengerti

ia hujani hati ini dengan bisa api

dan sekarang masihkah aku harus tetap bersabar?

untaian kata tak terjaga terucap lagi oleh sang jiwa

membuatku mati pada sang rasa

ingin berbalik aku menikam

namun heti gemetar

tak sanggup aku ungkap kebencian dan amarah pada sang jiwa

hanya mampu aku menahan

sebuah luka yang tercipta dari bisa api yang ia tanam

hatiku kembali merintih merasa sakit

ketika sebuah kata terucap oleh lisan yang tak terjaga

mutiarapun kembali terjatuh

mengiringi sakit dari hati yang tertikam

tapi....

aku tetap tak dapat mengungkap melalui sebuah kata

sebuah rasa sakit dari untaian kata yang telah terucap

hanya dapat aku hapus sebuah rasa bersama tetes air mata

yang mengalir jatuh tak bermakna

dan tak meninggalkan arti