Cerpen Remaja - Jelek ??? Nggak Masalah !!!

Cerpen Remajaoleh: Rika Itho Manalu

Jelek ??? Nggak Masalah !!!

“Duh... ada lagi. Ada lagi. Kenapa sih, nggak ilang-ilang. Huft….” Gontokku.

Kesal. Itulah gambaran suasana hatiku. Jengkel, malu, nggak pede, ditambah lagi bete. Hal yang selama ini menghantuiku. Karena kerap mengikutiku dan tak pernah menjauh dari kehidupanku yang merana ini. Perasaan yang selalu ada saat aku melihat wajahku yang tak rupawan ini.

Wajah yang pas-pasan, badan gemuk, kulit item(ya walaupun kata orang-orang sih…item manis gitu), rambut yang 11:12 sama sarang tawon, trus ditambah lagi dengan sekumpulan jerawat yang mengitari wajahku. Memenuhi wajahku. Jerawat ini selalu tumbuh dan tak pernah hilang dari wajahku. Ada. Ada. Dan selalu ada. Kayak lagu Gheisa tuh. Selalu Ada. Eh…eh…bukan. Selalu Salah maksudnya. Hehehe. Itulah jerawat yang kehadirannya tak pernah aku harapkan. Mereka selalu mengajakku berperang. Dan pada akhirnya,  merekalah pemenangnya.Mereka bersorak-sorai meyanyikan lagu “We Are The Champions”. Dan aku hanya terdiam meratapi kemenangan mereka.

Bukan tak ada usaha yang aku lakukan untuk memusnahkannya, tapi udah 1002 cara yang aku tempuh. Aku telah memakai beribu-ribu merk obat penghilang jerawat. Tapi, tetep aja mereka selalu ada (mungkin betah kali ya tinggal di mukaku). Apalagi kata mama, tumbuh jerawat adalah hal yang wajar dalam masa pertumbuhan. Ya aku pasrah aja deh apa kata mama.

Trus, kalau ada cowok yang bilang kalau wajahku ini bagai rembulan di malam hari, aku akan memakan mereka hidup-hidup. Ya iyalah, menghina banget tuh orang. Itu artinya wajahku tak rata, bolong-bolong lebih tepatnya. Amati aja bulan, bulan permukaannya tak rata. Jadi untuk para ladies, jangan mau ya dibilangin begitu. Tamplok aja mereka. Hhhehe. Pis…becanda kok!!

Itulah gambaran diriku dan kehidupanku. Aku. Aku adalah seorang cewek yang selalu merana saat aku berdiri didepan kaca. Memandangi wajahku yang tak berbentuk ini. Abstrak. Itulah kata-kata yang sering dilontarkan oleh teman-temanku. Sampai-sampai cermin berkata padaku ”Hei….manusia buruk rupa. Minggir kau sana . Aku mual lihat wajahmu itu.” (duh…sedihnya.Hohho).

Namaku Riski Dian Situmorang. Dan Situmorang itu adalah marga yang diturunkan oleh ayahku. Ya, aku adalah anak keturunan Batak. Aku sangat bangga sama daerahku ini. Tapi, walaupun aku mempunyai darah batak. Aku tak mengerti tentang daerahku itu. Bukan sama sekali tak mengerti, tapi hanya sedikit saja yang aku ketahui dari cerita orang tuaku. Karena aku dilahirkan dan dibesarkan di Bandung. Aku pun tak berbicara dengan logat batak yang khas itu. Aku hanya menyandang marga itu. HIDUP BATAK!!!! HORAASSS!!!! Hehhee…

SMA Harapan Bangsa. Itu nama sekolah tempat aku menuntut ilmu. Disekolahku aku cukup dikenal oleh warga sekolah. Bukan karena wajahku yang paling buruk tapi karena aku menjabat sebagai Sekretaris OSIS. Ditambah lagi, prestasiku disekolah. Aku kerap kali mengikuti beberapa perlombaan dan tak jarang aku menyabet gelar juara 1 (hehhe). Tapi tetep aja aku nggak pede dengan keadaanku sekarang. Apalagi, saat aku bertemu dengan para adik kelas yang mau minta tanda tangan saat MOS. Mata mereka membelalak, menyiratkan rasa tak percaya kalau aku kakak kelas mereka. Wah, rasanya aku mau menghukum mereka habis-habisan. Tapi semuanya itu nggak etis. Wajar kalau mereka mencibir didepanku.Itu semua karena mereka melihat tubuhku yang kecil mungil ini. Tinggiku aja cuma 148 cm. Nggak kebayang kan tuh…

Tapi aku tetap bersyukur kepada Tuhan karena aku masih diberikan anggota tubuh yang lengkap. Masih banyak orang-orang yang tubuhnya tak sempurna. Mereka tetap berjuang walaupun dengan keadaan mereka. Tak jarang, ada beberapa penyandang cacat yang mempunyai kelebihan yang luar biasa, yang tak dimiliki oleh manusia normal lainnya. So, you must go on!

***

“Ok. Hari Kamis nanti kita akan melanjutkan rapat ini. Saya harap kalian mempersiapkan rencana kegiatan untuk agenda berikutnya. Dan untuk kamu, Kiki. Saya mau lihat proposal Pensi yang kamu janjikan” tutur Dimas. Aku pun menganggukan kepala tanda mengiyakan.

Akhirnya, rapat pun selesai. Semua anak yang terlibat sebagai panitia berjalan gontai keluar ruangan. Wajah mereka terlihat kusut. Sekusut baju di rumahku yang belum disetrika. Wajah mereka menyiratkan rasa penat. Penat yang muncul saat rapat berlangsung. Aku pun begitu. Sama seperti mereka, aku merasakan capek yang tak kunjung henti menderuku. Ini semua karena pensi yang tak lama lagi diadakan. Pensi ini mendadak, karena itulah, kami merasa terbebani dengan adanya pensi ini. Kami harus secepat kilat membuat proposal yang akan diserahkan ke Kepsek. Belum lagi ditambah dengan tugas-tugas sekolah yang menumpuk dan harus dikerjakan. Tapi kami harus menyanggupinya, karena itu menjadi tanggung jawab kami semua.

“Huft. Capek!!” gerutukku. Aku membereskan buku-buku yang ada dimeja sembari mengelap keringat dengan lengan bajuku.


“Kenapa?? Capek?? Kamu kira aku juga tak merasakan capek sepertimu?” tanyanya. Dimas melirikku. Aku merasa malu.

“Nggak kok, Dim. Maaf ya, aku ngeluh-ngeluh gitu.”

Dimas diam. Ia hanya menatapku dengan senyumannya yang khas. Bibirnya tersungging dan terlihat lesung pipitnya yang manis.

“Hahhaa…. ngapain aku marah sama kamu. Wajar kalau kamu capek. Emang pensi ini sangat menyita waktuku. Terkadang aku berfikir untuk mengundurkan diri menjadi Ketua OSIS. Tapi, semuanya itu tak mungkin. Kita sudah diberi amanah, jadi kita harus menjaga amanah ini. Iya kan, Ki?” tanyanya.

Aku kaget. Karena sembari tadi, aku hanya memandangi wajah nan mempesonanya. Tutur bicaranya menunjukkan ia sangat dewasa dan berwibawa. Itulah yang membuatku sangat mengangguminya.

“I….iy…iya” jawabku terbatah-batah.

“Ya udah. Yuk kita pulang” Dimas menggandeng tanganku. Jantungku berdegup kencang. Dag dig dug! Aku merasa bahagia. Bahagia sekali.

Dimas. Dia dalah seorang cowok yang keren, pintar, cool, dan baik. Dia menjabat sebagai Ketua OSIS. Jadi aku cukup mengenalnya, itu karena posisiku sebagai Sekretaris OSIS. Mau tak mau, aku selau berada didekatnya. Bukan hanya karena posisi yang kami pegang, tapi Dimas juga tergolong murid yang berprestasi disekolah. Dimas juga beberapa kali terlibat dalam perlombaan, dan itu semua menuntutku untuk berdua, belajar bersama dengannya. Itu juga yang membuat cewek-cewek yang mengejar - ngejar Dimas iri padaku. Karena aku yang selau dekat dengannya (akhirnya ada juga orang yang iri padaku. Hahhaa).

Dimas juga menjadi ketua tim basket disekolahku. Tak heran ia menjadi idola para wanita aneh yang berteriak-teriak histeris layaknya orang kesurupan saat Dimas main basket. “Go Dimas!Go Dimas go! Go Dimas go!Go Dimas go!” Itulah kata-kata yang selalu mereka teriakkan. Hingga mereka semua membentuk sebuah club yang berisi para fans-fansnya Dimas. DSC. Dimas Sweety Community. Ya, itulah nama club yang diketuai oleh Rasti. Si cewek borju yang tergila-gila pada Dimas. Yang selau mengejar-ngejar Dimas. Padahal, Dimas tak merespon perhatian yang diberikan Rasti. Rasti juga selalu sentimentil saat bertemu denganku. Dia selalu menyindirku kalau aku tak pantas berada didekat Dimas. Aku hanya menganggapnya angin yang berlalu saja.

***

“Ki, gimana proposalnya. Udah selesai kan?” tanya Dimas yang menemuiku dikelas. Aku langsung memberikan proposal yang diminta. Hatiku senang karena dimas menyempatkan waktunya untuk menemuiku. Ya…walaupun sebenarnya, emang ada keperluan sih…(ge-er).

“Thanks ya!” senyumya. Senyuman maut.

“Sama-sama” jawabku semanis-manisnya.

Dimas pun pergi. Aku hanya bisa memandangi kepergiannya. Lamunaku buyar seketika saat nenek sihir mendatangiku. Rasti.

“Eh... cewek buruk rupa. Gue peringatin sekali lagi ya. Jangan deketin my sweety gue. Dimas. Ngerti nggak sih loe!!” bentaknya.

Suara pukulan meja terdengar keras. Keras sekali. Aku terdiam . Tak berkutik. Air mataku menetes membasahi pipiku. Maklum, aku orang yang cengeng. Tak bisa dibentak. Cengeng bukanlah pilihanku. Aku pun terkadang kesal dengan sifat lahiriahku ini.

“Kenapa sih...kamu selau ngatain aku. Aku kan nggak punya salah sama kamu. Aku juga nggak pernah deketin Dimas. Tadi ia hanya minta proposal Pensi” tuturku dengan lantang.

“Aku tau kamu cantik dan sempurna. Banyak lelaki yang tergila-gila sama kamu. Tapi kamu nggak berhak menghina aku, Ras” lanjutku. Air mataku tak terbendung lagi. Aku menangis.

“Emang loe buruk rupa. Coba loe ngaca. Lihat wajah loe yang tak cantik alias buruk itu. Jadi loe itu harus sadar. Dimas itu nggak mungkin suka sama loe. Dia itu sukanya sama gue yang cantik ini. Ngerti loe ” tawanya terbahak-bahak. Dikuti tawa meriah dari teman-teman satu ganknya.

Aku menangis. Aku tak menyangka, apakah Rasti sangat membenciku . Aku tak berniat untuk mendekati Dimas. Karena aku sadar dengan keadaanku yang tak menawan. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Itulah yang selalu Rasti ucapakan padaku.

***

“Ki, Kiki! Kamu kenpa, Nak. Ayo buka pintunya! Mama mau masuk nih”. Mama mengetuk pintu kamarku. Aku mempersilahkan mama masuk karena pintu tak dikunci.

“Ki, kamu kenapa? Kok nangis sih? Ayo cerita sama mama!” Mama membelai rambutku dan menghibur hatiku yang galau.

“Nggak kok, Ma! Kiki nggak kenapa-napa”. Aku memeluk mama. Aku merasa lebih baik berada di pelukan mama.

“Ma, aku mau nanya. Kenapa sih aku item begini. Trus jelek lagi. Mama, Kak Ayu, Papa. Semuanya kulitnya putih, trus nggak jelek. Apa aku ini anak angkat ya, Ma?” tanyaku polos.

“Hahaha…Kiki. Kiki. Kamu itu ngomong apa? Kamu itu anak kesayangan kita semua. Kamu item begini karena kamu itu keturunan langsung dari oppungmu (oppung = nenek.Catet!). Oppungmu itu mirip sekali dengan kamu” jelas mama.

“Kamu itu kan nggak item-item amat, Ki. Kamu itu item manis. Kamu juga cantik kok. Lihat orang-orang bule datang ke Indonesia hanya untuk berjemur, ngeitemin kulit. Jadi, kulitmu itu diidam-idamkan oleh banyak orang”. Aku berfikir sejenak. Benar juga apa kata mama.

“Ya udah deh, Ma. Aku nggak nangis lagi karena kulitku ini.”

“Nah, gitu donk. Anak mama!! Ya, udah, kamu tidur sana supaya besok nggak bangun kesiangan”. Mama mengusap air mataku dengan tangannya yang lembut dan mencium keningku. Aku senang mendengar ucapan mama. Mama emang selalu ada untukku. I really love my Mom a lot.

***

Acara pensi yang diadakan sekolahku berjalan lancar dan sukses. Semua kegiatan yang ditampilkan meriah dan mendapat sambutan dari Pak Walikota. Tamu-tamu undangan juga memberi kata “SELAMAT” atas Pensi ini. Aku dan semua teman-teman yang mengisi acara sangat gembira. Aku tak menyangka, acara dadakan yang kami selenggarakan ternyata sukses. Buah kerja keras kami, ternyata tak sia-sia.

“Horeee…….akhirnya Pensi ini sukses. Aku seneng banget”. Aku meloncat kegirangan.berpelukan dengan teman-teman yang lain.

“Ya, kita sukses. Horee….” tutur Silvi yang juga ikut mengambil bagian dalam Pensi. Kami semua bergembira. Tak ada satu pun yang bersedih. Apalagi kami akan ditraktir oleh Bu Lasmi, Guru Pembina Pensi. Asyik!!!

Lalu, aku mengasingkan diri dari sorak-sorai teman-temanku. Aku berjalan mencari keberadaan Dimas karena ingin mengucapakan selamat. Mataku mencari-cari sosok lelaki yang diam-diam aku kagumi itu.

“Nyari siapa, Neng?” tanya pria yang mengaggetkanku dari belakang. Tapi suara dan tutur bicaranya tak asing bagiku. Aku kenal. Ya Dimas. Itu Dimas. Aku menoleh. Dihadapanku berdiri sesosok pria yang kekar, tinggi, gagah, dan mempesona.

“Eh…..Dimas. Kamu nih bikin aku kaget aja” tawaku kecil.

“Habis…dari tadi aku perhatiin kamu nyari-nyari seseorang. Emang siapa sih yang kamu cari” tuturnya. Apa?? Dimas memperhatikanku. Wajahku memerah. Aku tak menyangka Dimas perhatian denganku.

“Kamu perhatiin aku? Ngapain?” tanyaku gelagapan.

“Ya,dari tadi emang aku perhatiin kamu. Dari kamu ngurusin Pensi sampe selesainya acara ini. Kamu kelihatan sibuk banget. Ya walaupun aku juga sibuk sih… Hhhehe” tawanya lebar.

“Sebenarnya aku nyariin kamu. Aku mau ngucapin selamat. Kita berhasil. Pensinya sukses.” Tuturku dengan girang. Sangking girangnya. Aku tak sadar kalau aku memeluk Dimas. Upsss!!!

“Eh…sorry. Sorry. Maaf ya, Dim”. Aku melepaskan pelukanku. Wajahku memerah karena malu, Aku menunduk.

“Hahaha….nggak papa kok. Malah aku seneng kalau dipeluk sama cewek yang aku suka.” Tuturnya. Aku tersentak kaget. Aku tak percaya. Aku mau pingsan. Kakiku gemetar mendengar ucapan Dimas. Aku wanita yang dicintainya?? I don’t believes. It’s wrong!

“Dim… apa nggak salah yang aku denger tadi. Aku cewek yang kamu sukai. Mana ada seorang pangeran tampan jatuh cinta sama cewek buruk rupa. Ini dunia nyata, Dim! Bukan dunia fantasi.” Meyakinkan Dimas dan meyakinkan diriku sendiri kalau aku tak berada didunia khayalan.

“Apaan…sih kamu, Ki. Kamu itu cantik. Kamu aja yang nggak peduli dengan kecatikan yang kamu miliki. Kamu satu-satunya wanita yang membuat hatiku berdegup kencang saat aku didekatmu. Kamu cewek yang beda bagiku. Aku juga udah tertarik denganmu saat pertama kali kita bertemu. Jadi jangan kamu merasa si buruk rupa. Banyak kok, cewek-cewek yang wajahnya cantik tapi hatinya tak secantik wajahnya. Dan kamu sebaliknya, Ki” Aku merasa melayang mendengar pujian Dimas. Aku merasa sedang berada diatas awan dan dibawa jauh terbang tinggi ke langit ke-7.

“Ki,apa kamu mau jadi pacarku?” tanyanya. Ia berlutut dihadapanku. Aku merasa malu karena adegan ini ditonton oleh banyak orang termasuk Rasti and the gank.

“Dim…. aku mau jadi pacarmu! Mau banget! He…he…he…” Aku bahagia begitu juga dengan Dimas. Aku berpelukan dengannya. Dimas memeluk tubuhku dengan erat. Seakan-akan tak mau melepaskanku. Aku merasa hangat berada dipelukannya. Dan untuk Rasti. Ia pingsan menyaksikan adegan romantis kami. Ia langsung digotong oleh teman-teman satu ganknya.

Akhirnya, si buruk rupa tak ada lagi.ia telah berubah menjadi angsa cantik yang menemukan cinta sejatinya. Dan untuk si nenek sihir, ia hanya merana melihat kemesraan kami berdua. Aku juga tak pernah lagi mempermasalahkan wajahku yang pas-pasan. Karena dengan keadaan inilah aku mendapat seorang pangeran yang rupawan. Pangeran yang akan mengisi hari-hariku dengan indah. Aku besyukur karena Tuhan telah memberikan kado yang indah kepadaku. Dan kisah yang hanya ada didunia fantasi ternyata ada didunia nyata. Kisahku dengan Dimas, itulah faktanya. Wajah jelek ??? Nggak masalah tuh !!! ^_^
======================***====================================

Rika Itho Manalu
E-mail : Rikaithomanaluxiipasatu@yahoo.com
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: