Cerpen - Kumpulan Cerpen

Cerpen - Kumpulan Cerpen

Cerpen: RINDU RANI

Cerpen Rizki tiara novyani Tia
Komunitas Lingkar Sastra Universitas Islam Malang

Hari ini aku membantah pada keangkuhan, aku membantah pada air mata, pada uraian logis yang kadang magis, aku membantah pada kesedihan. Di dalam sana aku melihat perih, perih yang tak terurai tapi menggumpal. Aku…aku yang berdiri di tengah badai kerinduan jauh bunda, melihat sederet redam yang remuk dalam kebisuan… Tepat sangat tepat di depan wajahku, berdiri tegar dengan senyum yang hambar. Kawan, hari yang cerah membutakan lagi mataku dari segumpal rindu tak bertuan.
Sobatku ini, sama layaknya dengan sobatku yang lain dalam teori fisik dia tidak kekurangan sama sekali, tidak, dari segi psikologis dia logis walaupun tidak sangat, dari kecerdasan emosional dia mengagumkan, kecerdasan intelektual tidak memalukan. Lantas di mana yang membuat dia kadang ada tapi tak ada… Kenapa dia?


“Ternyata aku lemah…

“tidak aku sangat lemah, katanya saat dia mendatangiku di taman sekolah ketika aku sedang asyik dengan buku ku. Tapi aku ingin kuat, aku ingin sekuat mereka, aku ingin setegar mereka, aku ingin lariku secepat mereka…” tersedu. Kali pertama aku melihat air matanya, belum jatuh sobat masih tergenang dalam lingkaran abadi yang ingin dia kuat-kuatkan.

“Kenapa?” ah bodoh. Kataku (tak terucap)

“Ada apa?” hhh… klise

Dengan pertanyaan apa aku harus menjawab itu semua?

Dari mana aku harus memulai pertanyaan. Aku tak tahu. Tapi aku yakin, dia tak perlu jawaban dariku, dia hanya ingin menyaksikan ketidak adilan denganku, lebih tepatnya mengajakku. Aku terpaku, ku ingat penolakkanku pada kejadian tahun 2002 lalu, kejadian di mana tak dapat ku genggam tangan bunda… tidak dengan air mata untuk menghentikannya, tapi jiwa tenang tak mengerti apa-apa dan pasti tatapan kosong. Tak setetes pun air mataku jatuh… begitu cepat semuanya begitu cepat terjadi sampai tak masuk segalanya dalam logika ku.

“Apa yang bisa ku lakukan untuk sobat?” akhirnya aku berucap tak ada jawaban aku menunggu, air matanya menjawab “Ada kerinduan yang memuncak dalam nafas ku tak tahu harus ku bawa ke mana rindu ini?

“Apa yang sedang kau rindukan sahabatku?”

Hhhh… helaan nafas panjangnya terasa berat “Mama…!” dengan menutup wajahnya ia terisak. Satu… ya satu lagi kawan kisah hati di tinggalkan bunda, hampir sama denganku tapi ternyata banyak sekali berbedanya. Ku dekati dia ku genggam tangannya yang berusaha menutup wajah penuh air mata, matanya terbuka. Ku tatap tajam ku cari di mana letak bedakku dengannya, dengan sedikit ragu dia mengatakan pertengkarannya dengan Mamanya. Semua semata gengsi anak yang sudah merasa cukup mampu hidup sendiri. Satu kalimat perih kawan, yang memang tak pantas diucapkan pada wanita yang telah lama merawat kita! “Ma… katanya walaupun mama adalah ibuku, sekali pun aku nggak mau mengemis pada Mama!” dengan tanda seru di belakang kalimat menegaskan bahwa kalimat itu bersifat perintah pada dirinya sendiri untuk jangan sampai ia mengemis-mengemis walaupun pada Mamanya. Luar biasa kawan yang dikatakan sahabatku itu pada Mamanya, ku tahan amarahku untuk mengalahkanya karena aku yakin sudah lebih dari 100x dia memaki dirinya sendiri dengan kata-kata mengalahkannya. Bukan hanya kata-kata itu yang luar biasa kawan, tapi dampak yang ditimbulkan luar biasa. Lagi… tidak kurang dari tiga bulan setelah tragedy itu tak satu pun pesan singkat sahabatku ini, Rani yang di balas sang Mama, tak satu pun telfonya terjawab suara Mama… semua seakan lenyap dan yang lebih menghebohkan sakit yang di deritanya kian hari kian parah, bukan sekedar sakit kepala, sakit gigi apalagi flu tapi leukemia di deritanya… Kawan aku lelah aku yang hanya mendengarkan ceritanya saja lelah bagaimana dengan rani? Tidak sama sekali dia tampakkan penderitaannya, tak seorang pun melihatnya bersedih, pintar dia menutupi, tapi ketahuilah di balik sapa cerianya, di balik tawa palsunya dia menyimpan berjuta sakit tak terperi, kerinduan tak terbendung… temanku ini juga lelah Kawan…

Pernah di suatu ketika kutanyakan padanya

“Sudahkah ibumu menjawab telfonmu?”

“Belum …” hhh… sambil tersenyum kecil dia menambahkan “aku sampai lupa jika mempunyai seorang ibu” Aku menahan air mata itu agar tidak jatuh.


“Assalamu’alaikum” (jawabku ditelfon, siang hari tepat setelah satu kuliahku selesai).

“Wa’alaikumsalam, Rara?” Tanya di sebrang

“Ya, benar, ini siapa?” timpalku

“Rara ini aku Ivon, Rani pingsan sewaktu berangkat kuliah tadi keadaannya kritis”

“Rumah sakit mana?” tanyaku

“Widya Farma” jawab Ivon

“Aku langsung kesana” tutupku

Di perjalanan tak ada yang bisa aku pikirkan hanya gundah yang membuatku resah, bukan pertama kalinya kabar ini ku terima tapi entahlah ada yang lain, pesan yang ku dapat dari Ivon… Kritis, dalam bayanganku kritis berarti koma terlambat sedikit saja… ah… aku tak mau membayangkan itu.

“Gimana Rani?” tanyaku pada Ivon setibaku di RS Widya Farma, sudah banyak yang berada disana selain sahabat ada juga Keluarga Rani nenek dan tante-tantenya, di sini hanya itu keluarga Rani sebab orang tuanya dan adik-adiknya tinggal di Bandung.

“Kata dokter penyakit yang diderita Rani bisa disembuhkan dengan cara pencangkokkan sum-sum tulang belakang, hanya itu harapan terbesar , sedangkan yang bisa mendonor sum-sum tulang belakang tersebut hanya keluarga kandung dan yang cocok dengan sum-sum tulang belakang Rani” jelas ivon. Aku tertunduk, separah itukah penyakit yang dideritamu Ran…? Tak seberkas rasa sakitpun kau perlihatkan kepada kami kini dengan cara yang seperti ini kah yang kau inginkan untuk memberitahu kepada kami? Air mataku mulai menggenang. Tiba-tiba dokter keluar.

“Ada yang bernama Rara? “ Tanya dokter

“Saya dok…” aku melangkah kearah dokter.

“Saudara Rani terus menyebut nama Saudara, silakan masuk tapi saya harap jangan terlalu lama mengajaknya bicara” perintah dokter

Akupun masuk, kulihat serba putih, tabung oksigen, kabel infus, alat deteksi jantung lengkap terpasang pada tubuh Rani.

“Ran…” panggilku lembut, Rani membuka matanya perlahan sekali

“Ra…” hampir tak bisa ku dengar gerak bibirnya pun lambat, pucat.

“Mama… beritahu mama” terbata tak jelas, ku tahan isak ku tak bisa ku bayangkan hari-hari yang selama ini selalu kita lewati bersama akankah purna, aku berusaha untuk tidak berfikir seperti itu, tapi tahukah kau kawan siapa yang tidak akan berfikir sama dengan ku ketika melihat sesosok hidup terbaring lemah tak berdaya dibantu selang-selang oksigen? Selama ini Rani menyembunyikan ini dari orang tuanya dan kini ia ingin aku memberitahukanya, ku ambil HP Rani di tas yang tergeletak di atas meja disamping tempat ia berbaring, ku cari nama Mama di kontak HPnya, dan astaqfirullah HPnya bergetar, satu pesan diterima ada tulisan Mama dari identitas pengirim, aku tak percaya… Rani mulai menggelincang seperti ada sesuatu yang membebaninya, ku panggil dokter dan keluarga serta sahabat ikut masuk, dokter memeriksa Rani, Rani mulai tenang setelah di beri suntikan, dokter mempersilahkan siapa saja yang ingin bicara dengan Rani, semua air mata tumpah, aku terpaku lalu keluar dan sedikit bicara pada perawat disebelahnya tapi aku ingat pada pesan di HP Rani yang masih ku genggam, Rani masih membuka matanya. Ku dekatkan HP itu di wajahnya, ku lihat dia membaca pesan itu… matanya berkaca-kaca, semua orang masih tersedu-sedu menatapnya, nenek Rani hampir jatuh tapi ia tak mau pergi dari tempatnya berdiri, Ivon dan tante Rani membopong lengan nenek.

Rani menggerakkan bibirnya ia tersedu dan berkata ”Aku lega… aku tenang… ja..ngan khawatir…” Diam Rani menutup matanya, monitor menggambarkan garis lurus dengan bunyi yang mengiris hati, tangis histeris dari masing-masing kami, nenek tak bisa menangis ia langsung pingsan, aku tak bisa menerimanya aku tatap pesan di HP Rani “Nak…” hanya tulisan yang ku baca, penantian Rani tak lebih dari satu tahun hanya dijawab dengan kata itu, tapi Rami sudah merasa cukup hanya dengan kata itu aku ingin memakinya betapa bodohnya dia menunggu hanya demi kata iu aku tak terima…

Dokter masuk bersama dua perawatnya tapi mengapa ada senyum disana, tak lama kemudian ia angkat bicara “tenang semuanya Rani hanya tertidur karena pengaruh obat penenang saya berikan tadi” katanya dengan tampang seperti orang yang menang taruhan. Aku masih belum percaya “lalu mengapa monitor itu…” tak ku teruskan.

“O… itu memang saya yang mematikanya karena Rani sudah tak memerlukan itu. Ku tatap dada Rani masih ada gerakan naik turun… Bodoh…

Cerpen : Penantian dalam Pencarian

Cerpen Kiriman Nike Angguni T.L dari BSI Kelas II C

Jangan lupa lihat komentar kami mengenai cerpen ini, untuk kritik dan sarannya ditunggu

Sebuah cerita tentang perjalan hidup dan perjuangan untuk menemukan wanita yang telah melahirkanku. Inilah aku seorang gadis berusia 20 tahun . Aku adalah Yuri, Yurika Anastsya. Aku tinggal dipinggiran Kota Jakarta, di suatu pemukuiman yang warganya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sejak kecil aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Aku sangat menyayangi mereka tapi sejak 10 tahun yang lalu aku hanya tinggal berdua dengan Nenek, karena Kakek telah meninggal, sejak saat itu Nenek bekerja seorang diri demi menghidupiku. Nenek adalah semangatku, tetap tegar dan semangat bahkan Ia tak peduli dengan usianya kini telah lanjut . Aku selalu berdoa agar Nenek selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang, karena hanya Nenek-lah miliku satu-satunnya di dunia ini.

Kini aku bekerja sebagai waitres. Aku bekerja paruh waktu sehingga aku bisa membantu-bantu nenek. Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan pendidikanku karena aku tak ingin terlalu menyusahkan Nenek. Padahal aku bercita-cita menjadi seorang dokter, tapi sepertinya itu ta akan mungkin terjadi. Oleh karena itu, aku memilih untuk bekerja agar aku bisa membantu ekonomi Nenek. Apapun akan kulakukan untuk membahagiakan Nenek karena aku sangat menyayanginya. Jam kerjaku mulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Jadi sebelum aku pergi bekerja, Aku bisa membantu Nenek jualan dipasar.

Aku dibesarkan Nenek sejak bayi, tak jarang aku berpikir sebenarnya aku anak ibuku atau anak Nenekku? Belum pernah sekalipun aku bertemu dengan Ibuku, melihat langsung wajah Ibu. Aku hanya dapat melihat wajah Ibuku dari sebuah foto . Lantas kemanakah Ayahku? tak pernah sedikitpun Nenek bercerita tentang Ayahku, tentang Ibuku, setiap aku bertanya kepada Nenek, Ia hanya dapat menangis dan selalu bilang, “Suatu saat nanti kamu pasti akan mengetahuinya, Nenek akan menceritakan semuanya jika sudah tepat waktunya.” Sebenarnya aku sangat ingin mengetahui lebih banyak cerita tentang kedua orang tuaku. Tapi aku juga tak ingin melihat nenek menangis, keceriaan Nenek adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Akhirnya aku tak pernah menanyakan hal itu lagi.

Pagi ini nenek alpa dari kegiatannya berdagang di pasar karena pagi ini nenek sakit, sehingga aku tak mengijinkanya untuk berjualan. Aku membiarkan Nenek beristirahat di rumah saat aku pergi bekerja, aku menitipkan Nenek kepada Mba Sri, tetanggaku yang sudah aku anggap seperti kakaku sendiri. Sedih rasanya melihat Nenek terbaring sakit. Tangan dan kaki nenek tak dapat bergerak, aku panik saat tahu itu sehingga aku langsung membawa Nenek ke Rumah Sakit, ternyata setelah diperiksa dokter, Nenek terkena serangan stroke. Aku sangat sedih mendengarnya. Tapi dengan penuh kasih sayang aku tetap marawat nenek.

Pada suatu malam, Nenek memanggilku dan memintaku untuk duduk disamping ranjang tempatnya berbaring lemah. Ia berkata “ Nak, Nenek rasa kini tiba saatnya kamu tahu semua rahasia yang telah Nenek pendam selama 20 tahun, tapi nenek minta kamu jangan pernah sedikitpun membenci Nenek, karena Nenek telah menyimpan ini semua seumur hidupmu. Dan satu lagi nenek minta kepadamu, kamu harus menerima semua kenyataan yang ada dalam hidupmu. Nenek percaya, kau adalah anak yang baik dan tak akan mungkin membenci dan mengingkari kenyataan.” Rasa penasaranku semakin besar , ada apakah sebenarnya yang terjadi ? Akhirnya, nenek menceritakan semuanya.

Oh… Tuhan sungguh tak percaya dengan kenyataan ini.

Ibuku adalah seorang pasien Rumah Sakit Jiwa, dan aku dalah anak seorang korban pemerkosaan. Mungkin karena itulah alasan Nenek tak pernah menceritakan keberadaan Ibu apalagi ayahku. Lantas siapakah Ayahku ? dan dimanakah Ia kini?

Sejak peristiwa pemerkosaan itu, Ibu mengalami depresi berat sehingga akhirnya Ibu seorang pasien Rumah Sakit Jiwa di kota Bandung. Sewaktu Kakek masih hidup, Nenek dan kakek sering mengunjungi Ibu, hampir setiap minggu mereka mengunjunginya, sampai akhirnya Ibu melahirkan Aku. Melihat keadaan Ibu yang seperti itu, akhirnya Kakek dan Nenek membawaku pulang dan merawatku hingga kini aku menjadi seorang gadis yang tegar dan semangat seperti Nenek. Kakek dan Nenek mereka sibuk dengan pekerjaanya dan merawat aku akhirnya mereka jarang menemui Ibu apalagi setelah Kakek meninggal Nenek tak pernah lagi menemui Ibu.

Suatu hari, Nenek memberikan secarik kertas dan sebuah foto seorang wanita yang Nenek bilang itu adalah Ibuku. Pada foto itu tertera sebuah nama seorang wanita yaitu Lanny Widiawati itu adalah Ibuku. Nenek memintaku untuk menemui ibuku. Sungguh rasanya sangat tak mungkin untuk aku meninggalkan Nenek dalam keadaan sakit seperti itu. Apalagi mencari seorang tidak akan mungkin dalam 1 atau 2 jam saja, apalagi sebelumnya aku belum pernah menginjakan kaki di Bandung. Nenek terus memaksaku, akhirnya aku pun memutuskan untuk menuruti keinginan Nenek dan berniat meminta Mba Sari untuk menemani nenek untuk sementara waktu selama aku berada di Bandung.

Sore ini juga aku pergi ke Bandung untuk melakukan pencarian, dengan berat hati aku pergi meninggalkan Nenek. Nenek berpesan kepadaku “Nak, jaga dirimu baik-baik segeralah kembali kalau kau sudah menemukan ibumu.”

Akhirnya aku pergi ke Bandung, setibanya aku di Bandung, aku merasa seperti begitu asing berada dikota tersebut. Aku mulai bertanya kepada orang-orang yang sedang berada di situ tentang alamat tempat Ibuku tinggal.

Aku sempat kesasar untuk beberapa kali. Tapi untungnya ada seorang Ibu muda yang mau menunjukan tempat keberadaan Ibuku. Ibu muda yang mengantar aku memiliki permasalahan yang sama yaitu Ia pun hingga kini belum pernah bertemu dengan Ibu kandungnya, karena Ibunya meniggal saat melahirkannya.

Tibalah aku di tempat itu yaitu sebuah bangunan tinggi yang dikelilingi oleh pepohonan dan taman. Di sana terlihat banyak orang-orang yang tak waras sedang banyak yang bermain- main layaknya anak kecil.

Oh Tuhan.... seperti apakah keadaan Ibuku? Apakah Ibu juga seperti itu ? Seorang Satpam memberitahuku untuk menemui Ibu Suster Kepala, aku pun diantar sampai keruangan tempat Suster Kepala itu. Aku bertanya satu persatu tapi Ibuku katanya tak ada di sana lagi. Katanya, Ibuku dibawa lari oleh seorang mantan Suster Kepala karena dulu tempat itu pernah mengalami suatu peristiwa kebakaran. Ketika Ibu Suster Kepala bercerita demikian aku mulai putus asa , kemala lagi aku harus mencari Ibuku ? aku mencoba meminta alamat Ibu Suster Kepala yang membawa pergi Ibuku. Tapi sayangnya Beliau tidak mempunyai alamat Ibu Rosy, Mantan Ibu Suster Kepala.

Lantas, mengapa Ibu Rosy hanya membawa pergi Ibuku? Jawab Ibu Ratna kepala Suster yang kini, katanya Ibu Rosy sangat dekat dengan Ibuku, Ia menganggap Ibuku seperti Ibunya sendiri. Ibu Ratna memberiku sebuah foto wanita paruh baya, itu adalah foto Ibu Rosy, orang yang membawa pergi Ibuku. Tetapi aku merasa seperti pernah bertemu dengan wanita itu, ternyata Ia adalah Ibu muda yang tadi mengantarku ketempat ini. Karena Ibunya telah meninggal , maka Ia pun begitu menyayangi Ibuku. Tapi Untungnya ada yang memberitauku tentang alamat Ibu Rosy yaitu seorang tukang kebun yang sudah berada disitu sejak lama. Rasa putus asaku sejenak hilang karena Tuhan memberiku jalan untuk mencari Ibu kandungku. Aku pergi meninggalkan tempat itudan terus mencari keberadaan Ibuku dengan menyelusuri jalan Kota Bandung yang begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan dan para pedagang yang berjualan disepanjang trotoar. Pencarianku hari ini tak membuahkan hasil. Aku memutuskan untuk mencari tempat untuku bermalam.

Esok harinya aku mulai melakukan pencarian lagi, hingga akhirnya aku menemukan alamat yang diberi tukang kebun itu kepadaku. Aku mengetok rumah itu, seorang Bapak-bapak keluar membukakan pintu. Aku menanyakan tentang Ibu Rosy, tapi ternyata Ibu Rosy telah 2 tahun pindah dari rumah itu. Aku sangat putus asa, keputusasaanku membawaku kembali keJakarta. Aku ingin melihat keaadaan Nenekku. Aku seperti kehilangan jejak akhirnya aku berhenti melakukan pencarianku.

Sakit Nenek bertambah parah. Aku menyesal telah meninggalkan Nenek untuk pergi ke Bandung. Aku sedih melihat keadaan Nenek yang semakin hari semakin parah. Aku membawa nenek keRumah Sakit , aku tak tega membiarkan Nenek menderita seperti itu. 2 hari diRumah sakit, Nenek tak bisa diselamatkan. Nenek pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kini aku tak punya siapa-siapa lagi diDunia ini, aku kehilangan orang yang paling aku sayang yang telah merawat aku hingga kini.

Merasa tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, kecuali Ibuku, aku memutuskan pindah keBandung dan mulai kehidupan bari disana. Aku mulai mencari pekerjaan dan mencari tempat tinggal. Kini aku telah bekerja disebuah restoran. Sambil bekerja aku mencari Ibuku. Setelah bekerja selama 6 bulan, aku melihat seorang wanita yang pernah mengantarkan aku dan yang telah menunjukan tempat Ibuku tinggal.. Ia adalah Ibu Rosy orang yang selama ini merawat Ibuku.

Dengan rasa yakin aku mendekati Ibu itu dan bertanya ” apakah Ibu, Ibu yang pernah mengantarkan aku ke Rumah sakit Jiwa tempat Ibuku?”

Ibu menjawab “ ade...?” “ ya Ibu, ini aku, apakah aku boleh bertanya kepada Ibu ?” “ boleh nak, dengan senang hati Ibu akan menjawab pertanyaanmu .” dan ternyata memang benar ia adalah perawat yang waktu itu membawa lari Ibu pada peristiwa kebakar tiu.

Aku diajak kerumahnya dan aku dapat melihat Ibuku. Hatiku senang karena aku dapat melihat langsung dan memeluk Ibuku, wanita yang selama ini aku cari, yang lebih membuatku bahagia adalah Ibuku telah sembuh dari penyakit kejiwaanya. Ibu Rosy telah menganggap aku adiknya dan memintaku tinggal bersamanya.

Inilah kisahku, kisah hidup dan perjuanganku untuk mencari Ibu kandungku.

Cerpen: Anak Haram

Cerpen: Hendri R.H
Ketua Divisi Linguistik Komunitas Anak Sastra

Kompas.com
SABTU, 7 NOVEMBER 2009 | 02:25 WIB

Aku tak pernah mengerti kenapa dilahirkan, bahkan Aku tak pernah meminta Tuhan untuk meniupkan ruhnya ke dalam rahim Ibuku. Andai kata ada semacam pemilihan di Alam Ruh, Aku lebih memilih dilahirkan dari rahim seorang Ibu negara, ustadz, atau bahkan seorang guru. Setidaknya kalau dilahirkan dari mereka tidak akan dicap sebagai anak haram. Karena sepuluh tahun yang lalu Aku menangis dipangkuan seorang Ibu yang kini kukenal sebagai seorang pelacur.

Pernah suatu saat bertanya pada seorang Ustadz, “ Kenapa Aku dilahirkan di mulut Rahim seorang pelacur, bukankah Tuhan membenci pekerjaan itu?”
“Karena suatu saat Kau akan menemukan kebenaran dan hakikat hidup dari seorang hamba Tuhan, Dia tidak menciptakan makhluk yang tidak mempunyai jalan hidup, perkara kau dilahirkan dari seorang pelacur atau bukan, itu kehendak Dia.”

Aku selalu menyesal bertanya hal itu pada Ustadz, pikiranku selalu dipenuhi tanda tanya, esensi hidup apa yang Tuhan rencanakan, bukankan dia Maha adil? Ah, pertanyaan itu hanya membuatku pusing, seperti benturan-benuran keras ketika ku memikirkannya, bahkan Ibuku sendiri tak mengetahui kenapa ia menjadi pelacur.

Saban hari Aku hanya menunggu seseorang di balik pintu. Kursi-kursi yang kujajarkan dan ditata rapi, hingga menyapu ruangan tamu kulakukan tiap hari. Perlakukan terhadap rumahku selalu istimewa setiap harinya, bahkan ketika menginjak bangku SD. Aku terbiasa membaca buku di ruang tamu. Semua itu kulakukan demi menemukan seorang manusia yang harus memenuhi fitrahnya, sebagai Ayahku.

Entah kenapa hari itu Aku memakai pakaian bagus, pemberian Ibuku memang, walapun tidak halal, tapi harus berbuat apalagi. Tuhan juga memaklumi keadaanku, perkara Aku berkomplot dengan Ibu sebagai kejahatan pelacuran, tak kupedulikan. Dia toh harus memenuhi kewajiban sebagai seorang Ibu dan menapkahiku sebagai seorang anak.

Dalam pakaianku yang serba bagus, daun telingaku menangkap suara langkah kaki, perlahan tapi pasti, langkah itu semakin jelas, dan terakhir berhenti, tak kedengaran lagi. Malah bunyi ketukan pintu yang terdengar, Aku membuka pintu itu, berharap yang datang bukan Ibuku. Benar saja, seorang lelaki. Ia terlihat santai dan penuh wibawa, sosok ayah yang kuidam-idamkan dari dulu kini ada didepanku.

Setelah kuhidangkan makanan yang enak-enak, Aku langsung lari ke ruang tengah, mengambil cermin dan mengintip lelaki itu dari balik tirai. Kini kubandingkan bahwa wajah lelaki itu dengan wajahku, tak ada yang mirip, bahkan hidungnya pesek, kulitnya hitam, perawakannya agak kecil. Sedangkan Aku justru kebalikannya. Benarkan ia Ayahku? tak berani mulut ini menanyakanya langsung, tapi Aku berharap ia memang Ayahku.

Perkara cermin Aku tak pernah pedulikan, memang benar bahwa cermin adalah makhluk yang paling jujur, setidaknya itu yang dikatakan sastrawan dalam sajaknya. Tapi dalam kondisi ini Aku tak boleh percaya pada benda itu, keinginanku terlalu besar untuk menebak bahwa lelaki yang ada dihadapanku adalah seorang Ayah.

“Kemana Ibumu nak?” Lelaki itu membuyarkan lamunanku, dari tadi Aku hanya memandang wajahnya seakan ia hendak pergi untuk selama-lamanya.
“Pergi keluar.” Jawabku.

Tak berani Aku menyebut bahwa Ibu pergi melacur, Aku takut calon Ayahku ini kecewa dan pergi begitu mengetahui bahwa wanita yang ditunggunya sedang mengobral rahimnya untuk ditukarkan rupiah. Lama benar dengan pergolakan senandung lamunan, Ibu datang.

Seperti biasa Ibuku selalu pulang dengan badan lemas, tak pernah Aku tanyakan padanya. Sepulang dari tempat melacur ia selalu tidur dan tak boleh diganggu. Bahkan Aku tak berani menanyakan bahwa lelaki didepanku adalah ayahku sendiri, biarlah Ibu sendiri yang mengatakan padaku, lebih indah pengakuan seorang Ibu kepada anaknya, bahwa ayahnya telah lama berpisah, kini ada dihadapannya.

“Sudah lama menunggu Mas,” Ibuku bertanya pada lelaki itu.
“Dari tadi, tidak lama untungnya ada anakmu, dia mungkin jadi anak yang baik.”
“Semoga mas, jangan sampai menjadi Aku yang seperti ini.”

Belum pernah ku dengar doa seorang lelaki yang mengharapkan untuk kebaikan masa depanku. Aku semakin yakin bahwa ini adalah Ayahku, Ayah yang selama ini kutunggu, yang bisa mendidik, yang bisa menjadi raja dalam kerajaan kecilku. Biar Ibu tak mengobral tubuhnya dijalanan lagi.

Aku cepat-cepat pergi ke kamar, tak kuasa menahan tangis, walaupun Ibu tak menyebutkan langsung bahwa itu ayahku, namuan Aku tetap terharu sejadi-jadinya.
Dari balik tirai kuintip lagi dan kudengar pembicaraan mereka, namun alangkah kagetnya ketika Ibu memberi uang pada lelaki itu.
“Ini uang kembalian yang kemarin mas,” kata Ibuku sambil memberi uang dua puluh ribu.

Sontak batinku kaget, hancur luluh, dan harapanku untuk medapatkan seorang ayah pupus sudah. Kini lelaki itu pergi tanpa beban telah meminjam Rahim Ibuku, seakan telah membayar ia langsung pergi tanpa ada dosa.

Kuambil gelas yang telah ia minum, langsung Aku banting ke lantai, jijik melihat dia dan tak sudi menerima kenyataan bahwa dia hanyalah pelanggan Rahim Ibuku. Buat apa penjamuan ini dan penghayatan bahwa dia bukan ayahku. Kini Aku mulai mempercayai cermin, makhluk yang selalu berkata jujur.

“Kenapa kau berkelakuan aneh, Ibu tidak suka.”
“Apa Ibu tidak mengerti, Aku merindukan ayah, yang membuat Aku lahir ke dunia ini adalah Ayah dan dan Ibu. Kini yang kukenal hanyalah Ibu, mana Ayahku, seorang anjing yang lahir ke dunia pun akan menanyakan dimana ayahnya berada, Aku bosan dikatain anak haram terus.”

Tapi hanya tetesan air mata sebagai jawaban atas pertanyaanku. Aku sendiri pergi ke kamar dengan penuh tanda tanya. Tak mungkin menyalahkan Ibu mengenai keberadaan ayahku, tak mungkin juga menyalahkan Tuhan karena membuat Aku ada di dunia ini.

Yang tak pernah dimengerti, kenapa Ibu tak tahu dimana Ayahku. Sudah berapa lelaki yang pernah memakai rahimnya. Mungkin bercampur dengan lelaki lain dan lahirlah Aku. Hanya bisa menghibur diri sendiri bahwa yang memakai Ibu adalah pejabat, guru, dosen, pebisnis. Biar Aku yang dikatakan anak haram setidaknya masih ada keturunan dari orang-orang tersebut.

Sepuluh hari setelah kejadian itu, Aku jarang mengobrol dengan Ibuku. Hingga suatu malam ia pulang dengan wajah lesu, kasian benar melihatnya terlebih ia masih sebagai Ibuku. Aku harus membalas budi, setidaknya itu yang dikatakan oleh agama.
“Nak, maafkan Ibu tak bisa mendidikmu”
“Ndak apa-apa Bu, gimana kondisinya sekarang”
“Ibu tak kuasa lagi, beban ini terlalu berat, Ibu tak bisa menemukan ayahmu, bahkan Ibu tak becus menghapus diksi anak haram dalam kehidupanmu” Jawabnya dengan terbata-bata.

Kini Aku tahu bahwa Ibuku sekarat, namun yang anehnya ia selalu memegang payudaranya. Ku beranikan bertannya padanya.
“Adakah yang bisa ku bantu bu.”
“Ndak ada nak, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu menderita kanker payudara ketika kau lahir, maafkan Ibu nak, jadilah anak yang sholeh dan teruskan cita-citamu.” Itulah kalimat terakhir yang kudengar. Ibuku menghembuskan napasnya yang terakhir.
Kini dua kali Aku tertegun bagai disambar geledek, mendengar kenyataan bahwa Ibuku menderita kanker payudara. Aku menangis sejadi-jadinya.
“Durhalah diriku yang telah memperlakukan Ibu seperti orang asing.”

Dalam keremangan malam, kutemukan esensi hidupku, bahwa manusia mempunyai arti untuk orang lain. Perkara Ibuku masuk surga atau neraka, itu urusan Tuhan, namun akan kudoakan agar dia masuk surga, semoga doa anak yatim dikabulkan.

Sosok Ibu bahkan melampui ayahku jiga memang ada, dialah Ibuku sebenarnya rela berjuang demi anaknya. Tak pernah ia mengeluh, dan melawan sinisme sosial.
Aku tak boleh membenci Ibu, dia adalah pahlawan dalam hidupku, rela berkorban batin dan fisik. Aku tak boleh menggugat Tuhan atas kelahiranku, Kini yang kugugat adalah masyarakat yang mengatakan Aku anak haram.

Bandung, 1 November 2009
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: