Cerpen: Jilbab Putih

Sebuah cerpen  yang latar belakangnya bersifat religius. Buat kamu yang kepengen rasa baru sebuah cerpen dengan tema percintaan yang berbeda, sepertinya cerpen berjudul "Jilbab Putih" ini wajib kamu baca sampai tamat.

Udara panas serta angin membawa debu berhamburan di latar sebuah rumah dan beberapa rumah di sekelilingnya. Daerah Klaten tepatnya desa Mandungan, bulan agustus di desa tersebut sangatlah miris, air sulit dicari. Hari ini begitu panas, memang bulan-bulan ini sedang musim kemarau, yang menyebabkan udara dan hawa di luar rumah sangat tidak mengenakkan. Maka dari itu, desa Mandungan sangat sepi, tidak ada orang = maksudnya tidak ada, benar-benar tidak ada yang di luar rumah. Setiap orang pastilah sangat enggan keluar rumah karena hal tersebut.



Di sebuah rumah jawa bercat biru muda, merupakan salah satu rumah sederhana di desa itu, ada sedikit gemuruh.
“Pak, aku ndak ikut saja, aku kesel  tenan!”  Ucap wanita muda memakai kaos merah muda dan bercelana jeans itu di ruang tamu.
“Bu?? Ayo, buruan tema-teman di pemancingan sudah menunggu! cepatlah sedikit!” Jawab seorang pria sedikit agak tua kepada wanita tersebut.
“Aku capek pak harus jadi penghibur di pemancingan itu, bayak tamu yang nggak sopan kepadaku!” ucap wanita itu kembali.
“Bu Halimah, istriku sayang! Buruan ta!!” Ucap pria itu sedikit menggertak.
“Ii…iya pak! Maaf. Yuk, kita berangkat.”
Akhirnya Halimah dan suaminya segera meninggalkan rumah dengan sepeda motor Revo nya. Mereka berjalan menyusuri jalan Jogja-Solo yang sangat panas.
“Tuhan, aku ingin bebas!” Halimah berkata dalam hati.
Halimah membuka tas merahnya dan mengambil sesuatu dari dalam tas tersebut, sebuah Al-Quran.
“Andai aku bias membacanya, andai aku seorang muslim yang dapat membaca tulisan ini dengan nada-nada indah! Aku ingin sekali Tuhan!” Kembali Halimah berkata dalam hati dan berfikir.
Di sepanjang jalan menuju pemancingan dimana Halimah bekerja dengan suaminya, Halimah hanya diam, tak banyak bicara satu kata pun dengan suaminya. Dia berfikir, dia dalam keadaan tertekan kali ini. Entah apa yang menyebabkan dia seperti itu.
Halimah masih membawa Al Qur’an ditangannya. Lalu ia memasukkan kembali ke tasnya itu.
Halimah memandangi pemandangan disepanjang jalan menuju tempat ia bekerja. Melewati sawah-sawah bertanamkan jagung, menyusuri jalan pedesaan yang bias dikatakan ramai.
45 menit perjalanan, sampailah mereka disuatu tempat pemancingan, dengan plank bertuliskan “Warung Apung & Pemancingan ILHAM 01”. Pemancingan hari itu sangat ramai, karena hari itu hari minggu.
Segera diparkirlah motor Revo itu ditempat parker.
“Kok baru berangkat mbak Imah??” Tanya seorang penjaga parkir kepada Halimah.
“Iya mas, mari mas,” Halimah bergegas masuk.
Halimah adalah seorang yang ramah pada siapapun, termasuk tukang parkir.
“Titip yo mas,” Ucap laki-laki yang tadi memboncengkan Halimah.
“Sip mas Bambang”
“Ok, sekarang kita saksikan penyanyi kita yang telah kita tunggu dan nanti-nantikan, mbak Imah!!” Suara itu terdengar di sound system yang terletak persisi di tengah warung apug itu.
Seketika itu halimah maju dan menuju panggung dan langsung bernyanyi dangdut. Dia menyanyi  seperti ada paksaan, ada tekanan dalam batinnya, namun ia tutupi. Setelah Halimah menyanyikan 2 lagu, ia langsung duduk. Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Ia ingin ke kamar mandi. Lalu ia bergegas kekamar mandi yang terletak diantara mushola dan dapur. Beberapa saat, Halimah keluar dari kamar mandi dan berjalan diatas papan-papan yang tersusun rapi, seperti rumah gadang. Dia membuka tas nya mengambil sesuatu dari tas merah nya,mengambil dompet. Mengambil beberapa uang ribuan, lalu ia memasukkan ke kotak amal. Dia berhenti sejenak, ia lihat di mushola itubeberapa orang sedang beribadah. 1 jadi imam dan yang lainnya dibelakangnya. Halimah masih juga belum berpindah dari tempatnya. Ia memandangi lekat-lekat beberapa orang yang sedang melakukan sholat itu. Tiba-tiba Halimah meneteskan air mata.
“Kenapa aku menangis?” Tanya Halimah pada dirinya sendiri. Ia lalu mencuci muka di tempat wudlu. Beberapa orang yang sholat tadi sudah selesai,ada salah satu yang menghampiri Halimah.
“Mbak,mau sholat? Ini mukenanya silakan!” Ucap seorang wanita sebaya Halimah kepada Halimah.
“E..e.. ia terimakasih mbak!” Sambil tersenyum Halimah sedikit gagap menjawab. Mukenanya berwarna putih dengan rendra berwarna hijau itu dia terima, dia bingung, benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan disana.
Sementara itu dipanggung tempat Halimah tadi bernyanyi, Bambang, suami Halimah sedang menjadi MC. Dan didepan mushola kecil itu masih ada Halimah yang belum beranjak. Dengan pelan, ada keraguan Halimah melangkah menuju mushola. Ia mau masuk dengan kaki kanan terlebih dahulu, sepertinya Ia tahu adab memasuki tempat suci. Seperti mushola, Halimah sudah masuh, Ia menuju pojok mushola, didalam mushola masih ada seorang lelaki, sedikit lebih tua disbanding Halimah.
Halimah sedikit melirik ke lelaki itu, lelaki itupun demikian hingga akhirnya kedua mata insan itu bertemu. Lelaki itu langsung menunduk dengan berucap “Astagfirullah aladzim!”
Halimah masih memandangnya, Halimah masih membawa mukena yang diberikan seorang wanita tadi. Dia meletakkan mukena itu dialmari kembali sambil berkata “Aku belum siap. Maafkan aku!”
Sepertinya lelalki didepan Halimah, mendengar perkataannya. Seketika lelaki itu berbalik dan berdiri tepat didepan Halimah. “Assalamu’alaikum” Lelaki itu menyapa Halimah. “maaf mbak, saya tadi mendengar perkataan mbak, lalu saya kaget dan saya ingin bertanya dengan mbak. Tapi saya mohon maaf kalau saya lancing.”
“Wa’alaikumsalam” Halimah sedikit gugup dan gagap menjawab salam seorang muslim itu. “Saya  Halimah, penyanyi disini mas!” Halimah menjawab sambil menata nafas dan sikapnya.
“saya Very. Sepertinya lebihenak kalau berbincang sambil duduk.”
“Kita duduk dekat situ saja mas, kosong kok.” Keduanya munuju meja kosong disamping mushola.
“maafa mbak. Ehm, mbak Halimah, kenapa tadi mbak Halimah bilang kalau belum siap. Belum siap bagaimana mbak? Maaf daya lancing Tanya seperti itu!” Very yang pertama mengajak berbicara.
Halimah menjawab dengan senyuman. Lalu very kembali bertanya “Mengapa mbak Halimah tersenyum?”
“Tidak ada apa-apa. Perlu mas Very ketauhi, maaf ya! Saya itu bukan seorang muslim!”
“Masya Allah?? Maakan saya mbak Halimah, saya ndak tahu!”
“Tidak apa-apa, saya tadi juga sempat kaget ada wanita yang memberi saya mukena. Ehm, mas Very sudah sholat?”
“Sudah mbak!” Very menjawab, namun hanya menunduk, tidak berani menatap Halimah.
Namun tidak denagan Halimah. Halimah terus saja menatap mata Very.
“Mas Very ndak usah takut gitu! Kok nunduk terus??”
“Saya tidak takut mbak. Saya menunduk karena saya menjaga pandangan daya. Saya ingin menjaga mata saya dengan tidak memandang lawan jenis dengan nafsu.”
“Apakah islam mengajarkan seperti itu mas?” Tanya Halimah.
“Tentu mbak! Menurut pribadi saya islam itu sangat luar biasa, islam itu untuk semua zaman dan bagi seluruh alam”
“Maksudnya bagaimana mas Very?”
“Mbak Halimah, dalam Al Qur’an kitab suci saya, dijelaskan tentang berbagai hal, tentang perintah dan larangan, tentang kehidupan, hari kiamat dan berbagai hal lainnya mabak. Termasuk seperti menjaga pandangan kepada lawan jenis yang bukan mhram.”
“Saya masih bingung mas Very? Saya ini bukan muslim, namun saya tertarik dengan ajaran-ajaran muslim, saya kagum dengan  Al Qur’an. Saya membawa Al Qur’an dimanapun dan kapanpun” Halimah berkata seperti itu sembari mengeluarkan Al Qur’an dari tas merahnya.
“Subhanallah, mbak Halimah ini memang….. ehm, ndak jadi saja” Very sedikit kaget dengan perkataan Halimah tentang Alqur;an tadi.
“Saya ingin dapat membaca Al Qur’an mas? Oiya saya masih belum mengerti tentang menjaga pandangan itu mas, tolong jelaskan ya mas?”
“Mbak Halimah, dalam Alqu’an tentang pedoman antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram telah dijelaskan dalam surat An-Nur ayat 30 dan 31. A’udzubillahiminasayaitonirrajim bismillahirrohmanirrakhim, kulill mukminiina yaghuudhumin ab shorihim wayakhfadzu furujahum dzalika adz kalahum innallaha khabirum bima yash na’un. Artinya : katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesengguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Saya takut akan azab dan peringatan Allah mbak!”
Halimah mendengar itu sontak bertepuk tangan sambil berkata “keren Banget mas, saya sangat kagum dengan islam dan kitab sucinya. Jujur saya ingin sekali dapat membaca Al Qur’an. Dulu waktu saya masih SMA, pas saya masih seorang muslim saya belum bisa membacanya mas. Karena saya dlu sekolah tidak di madrasah atau sekolah umum. Tetapi diluar negeri mas.”
“Subhanallah, luar negeri mana mbak??”
“Di SMK Kristen 75, hehehe.” Lalu keduanya pun tertawa.
“Astagfirullah, sudah jam 2 mbak, maaf saya harus pergi, mau mengkuti pengajian di masjid jami’. Maaf mbak, Insaya Allah dapat dismbung lain waktu.”
“Ok mas Very. Sebenarnya saya masih banyak yang ingin saya tanyakan sama mas Very. Terima kasih ya mas atas penjelasannya. Sangat mengesankan.”
“Sama-sama mbak Halimah” Very segera berdiri dan berjalan menyusuri jalan dari papan-papan kayu itu.
Halimah segera menuju ke panggung kembali.
“Darimana tho? Ditunggu malah kemana aja kamu ini. Mau pulang ndak?” Tanya Bambang pada istrinya.
“Iya pak, mari pulang!”
Keduanya langsung bergegas meninggalkan panggung dan menuju ke tempat parkiran.
Akulah para pencarimu Ya Allah………..
Dering itu terdengar dari HP Halimah.
“Hallo” Halimah mengangkatnya.
“Ini ibu nduk, gimana kabarmu? Gimana Bambang?” terdengar suara seorang wanita dari HP halimah.
“Baik bu, ibu gimana?”
“Alhamdulillah, baik juga nduk, piye Bambang? Masih sering gebukin kamu?”
“Ya seperti inilah bu, tapi Halimah ikhlas kok bu!”
“Kok suaramu sayu sekali, kamu lagi sakit ya nduk?” Tanya ibu itu kepada Halimah.
“Ndak kok bu. Bu??”
“Iya nduk , ada apa?”
“Saya ingin seperti dulu, saya ingin seperti ibu!” Halimah sambil terisak, air mata mengalir di kedua mata beningnya.
“Seperti dulu gimana nduk?” Tanya ibu agak bingung.
“Saya ingin kembali muslim bu, saya ingin menjadi mua’allaf” kata khalimah sambil menangis.
Halimah semakin terisak, kembali air mataya meleleh di pipinya.
“Kamu sudah bilang sama suamimu nduk? Menurut ibu, yang terbaik buatmu itu yang bias menentukan ya Cuma kamu. Ibu hanya bisa mendukung dan berdo’a. Sudahlah, kamu jangan menangis seperti itu. Sudah.”
“Iya Bu, terimakasih.”
“Ya sudah, sebaiknya kamu bilang sama suamimu. Bagaimana baiknya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Salam buat bapak ya bu.”
Setelah telepon mati, Halimah langsung keluar, duduk di kursi depan rumah. Kursi kayu, berwarna coklat tua lalu ia pandangi langit.
“Mendung, kelam, seperti mata hatiku, aku ingin kembali terang. Aku ingin seperti dulu. Aku sesak dengan semua ini. Aku sesak dengan semua sikap Bambang kepadaku. Aku sesak dengan polah tingkah Bambang yang begitu menyakitiku.”
Halimah berbicara sendiri dengan malam yang dingin, dimalam berawan mendung, tak ada bintang, apalagi bulan.
Ia teringat kata-kata Very, “Islam itu sangat luar biasa. Islam itu untuk semua zaman dan bagi seluruh alam.”
Kata-kata itu yang sedang ia pikirkan. Kata-kata itu yang selalu terbayang.
“Islam memang sungguh luar biasa. Aku ingin menjadi salah satu didalamnya kembali.”
Halimah adalah anak seorang petani. Dari kecil ia telah di didik dengan cara islam, karena kedua orang tuanya seorang muslim. Hingga berumur 17 tahun, Halimah menjadi muslim. Namun, ketika dilamar Bambang, pemuda yang dulu begitu ia cintai, ia menjadi tidak muslim lagi. Ia berpindah agama seperti Bambang, karena paksaan Bambang.
Hari minggu selanjutnya pun tiba, seperti aktifitas biasanya. Halimah dan Bambang menuju ke tempat mereka bekerja sebagai penghibur di pemancingan. Dulu Halimah mengenal Bambang bukan seperti Bambang sekarang, dulu Bambang adalah seorang yang sabar, pengertian, perhatian, rajin, bisa menjaga nama baik, dan tidak kasar, namun ternyata setelah Halimah menjalin hubungan, rumah tangga bersama Bambang selama satu tahun, semua terasa berbeda.
Kelakuan si kucing garong……………
Lagu itu terdengar di sound system di panggung itu, itu suara Halimah.
Tiba-tiba ada Bapak-bapak sekitar 45 tahun dating menghampiri Halimah.
“Mbak tak sawer yoh…….”
Halimah hanya tersenyum sambil terus menyanyi.
“Aku pilih ya mbak tempatnya,yo asik”
Bapak tua itu memberikan uang kepada Halimah sambil berjoget, namun Halimah kaget setengah mati ketika bapak tua itu meletakkan uang saweran tidak pada tempatnya, seketika Halimah mendorong bapak tua itu. bapak yang mungkin sedikit agak tidak waras hanya tersenyum dan berlalu.
Halimah telah menyanyikan beberapa lagu, jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Halimah langsung bergegas ke mushola seperti janjinya minggu kemarin. Ia akan bertemu dengan Very, seorang ustadz yang seminggu lalu sedikit menjelaskan tentang menjaga pandangan.
“Assalamu’alaikum” kali ini Halimah yang mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam” Very menjawab dengan senyum yang sangat ramah.
“Mas Very bagaimana kabarnya?”
“Baik, Alhamdulillah, gimana kabarnya mbak Imah?”
“Baik, tapi tidak terlalu baik. Hehehe, mas Very saya ingin minta tolong dijelaskan tentang Islam yang luar biasa itu.”
“Baik mbak, Islam itu luar biasa:
Islam itu untuk semua zaman, seperti yang tercantum dalam Al Qur’an surat An-Nahl ayat 35 yang artinya: Dan sesungguhnya, Kami mengutus Rosul pada tiap-tiap umat. Sembahlah Allah saja dan jauhilah tagut itu
Tagut adalah setan dan apa saja yang disembah selain Allah SWT
Islam itu rahmat bagi seluruh alam.
Islam juga mengatur semua fase kehidupan manusia. Mulai dari kandungan, lahir, anak, remaja, dewasa, mati.
Ajaran Akidah Islam pun juga menyeluruh mbak. Tentang semua hal, manusia, Tuhan, alam, hari pembalasan, dll.
Dan yang terakhir, ajaran akhlak Islami yang universal salah satunya yang sufah saya jelaskan minggu lalu itu mbak.”
Panjang lebar penjelasan dari Very.
Halimah menitikkan air mata.
“Mbak Imah kenapa?” Tanya Very kepadanya.
“Tak apa mas.” Jawab Halimahsesenggukan dengan menunduk, lalu Ia bangunkan kepalanya itu menatap gadis yang lewat disamping nya.
“Aku ingin seperti dia Mas.” Sambil menunjuk gadis berjilbab biru muda yang baru saja lewat.
“Subhanallah, mbak Imah ingin seperti dia? Itu juga merupakan salah satu ajaran Islam untuk menutup aurat. Yang bisa merubah dan memperbaiki diri mbak Imah adalah diri Mbak Imah sendiri.”
Tiba-tiba Bambang datang dan langsung menarik tangan Halimah.
“Ayo pulang! Ternyata kamu selingkuh di belakangku.” Ucap Bambang geram.
“Tidak Pak, aku bisa jelaskan.”
“Sudah ayo pulang .” Halimah di tarik secara paksa oleh Bambang dan Very pun menyaksikan kejadian tersebut.
Dirumah sederhana ber cat biru muda kembali ada sedikit gemuruh.
“Plakk!” tamparan itu melanyang di pipi Halimah.
“Maafkan saya pak. Saya tadi cuman minta saran kepada mas Very.” Ucap Halimah sesenggukan, terisak air matanya.
“Very? O jadi mau selingkuh sama ustadz toh? Plakk..” kembali tamparan kedua melayang di pipi Halimah.
“Saya sudah tak kuat pak. Saya ingin seperti dulu, saya ingin kembali muslim.”
“Itu urusan mu, sudah bukan menjadi urusan ku.”
“Maafkan saya pak.”
“Terserah kau bu! Plakk..!” Bambang untuk yang ketiga kalinya menampar pipi Halimah. Namun ini yang terkeras. Sampai-sampai Halimah terkapar dan tas merah nya terjatuh, dan mengeluarkan seluruh barang yang ada didalamnya, berbagai alat kosmetik, dan tentu saja Al Qur’an.”
“Apa ini bu? Kau ini seperti pelacur! Mau dengan siapa saja!” Bambang sambil mengambil Al Qur’an kecil milik Halimah yang terjatuh dari tas nya.
Halimah tak bisa bicara, ia terkapar tak berdaya. Bambang telah mendzolimi istrinya sendiri.
“Apa ini bu?” Sambil menunjuk Al Qur’an ditangan nya.
Halimah hanya bisa menangis dan terisak.
“Gubrak!!” Bambang membuang Al Qur’an kecil itu dilantai dan menginjak-injaknya. Tak sampai disitu saja, bambang kembali mengambil Al Qur’an itu, ia geledahi sakunya, ia mencari sesuatu. Dapat! Aia mengambil korek api, seketika Bambang langsung menyulut Al Qur’an itu dengan korek api. Terbakarlah Al Qur’an milik Halimah.
“Ya Allah tolong saya.” Halimah berdoa dalam hati, ia masih saja menangis sesenggukan.
“Pergi kamu pelacur dari rumahku!!” suara Bambang seperti menyambar hati Halimah, Halimah minta maaf kepada Bambang namun tak dihiraukannya.
“Segeralah pergi kamu! Hanya bisa mengotori rumahku!”
Halimah langsung pergi meninggalkan Bambang.
Halimah tak tau harus pergi kemana. Ia ingat, ia tahu harus pergi kemana.
Ia berjalan menyusuri jalan jogja-solo, jalan menuju tempat ia bekerja.
Sesampai di pemancingan itu, Halimah langsung menuju mushola, Ia sangat bersyukur karena Very masih di mushola itu.
“Mas Very, hiks..hiks.” Halimah langsung duduk di depan Very dan Very pun sempat kaget, namun Very telah mengetahui jawabannya sebelum dijelaskan oleh Halimah.
“Jadikan aku seorang muslim mas!”
Mata Very terbelalak kaget bukan kepalang, hatinya berkata, “Subhanallah, akhirnya mbak Imah diberikan petunjuk.”
“Ikuti kata saya mbak. Asyhaduanlaa ilaa hailallah.”
“Asyhaduanlaa ilaa hailallah.” Halimah mengikuti kata-kata Very.
“Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh.” Very kembali melanjutkan kata-katanya.
“Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh.” Halimah kembali mengikuti kata-kata Very.
“Alhamdulillah mbak Imah, Insaya Allah mbak sudah kembali menjadi muslim.” Ucap Very.
“Alhamdulillah, terimakasih mas Very.”
Very hanya tersenyum.
“Mbak Imah ingin lebih cantik? Ehm, maaf maksud saya, mbak Imah ingin terlihat cantik di depan Allah?” Tanya Very sedikit was-was, takut salah pengertian.
“Ia mas, ingin sekali. Ingin sekali saya memperbaiki diri saya.”
“Baik mbak, saya punya adik daerah sini, namanya Siti Aisayah, mungkin mbak Imah bisa meminjam busana adik saya itu.”
“Tentu mas, saya akan sangat senang.”
“Assalamu’alaikum.” Salam terucap secara bersamaan dari mulut Halimah dan Very.
“Wa’alaikumsalam. O, mas Very silakan masuk.” Jawab seorang wanita muda dengan tersenyum.
“Iya nduk, terimakasih.” Ucap very.
“Wah kok rame-rame ada apa ini?”
“Begini dik, kenalan dulu ini mbak Halimah. Begini mbak Halimah adalah seorang muallaf dan ingin memperbaiki dalam tata cara berbusana. Tentu adik tau maksud mas Very kan?”
“Owh, tentu mas.” Ucap Aisayah seorah mengerti kata very.
“Mbak Halimah, mari silahkan kita kekamar sebentar.”
Beberapa saat keduanya di kamar, adik Very, Siti Aisayah berjilbab merah muda dan Halimah yang sebelumnya belum berjilbab keluar dengan busana muslim dengan jilbab putih.
“Subhanallah!” ucap Very, namun itu tak lama memandangi Halimah.
Halimah memang ayu, apalagi memakai jilbab.
“Terimakasih dik Aisayah!” Halimah menjabat tangan Aisayah.
“Sama-sama mbak.” Aisayah mengucapkan terimakasih kembali.
“Kalau begitu saya pulang dulu, saya akan bicara dengan suami saya. Sekali lagi terimakasih banyak ya dik Aisayah dan as Very. Saya pulang dulu.”
“Iya mbak, sama-sama, tugas sesama muslim adalah saling membantu.”
“Assalamu’alaikum” Ucap Halimah.
“Wa’alaikumsalam”  Balas Very dan Aisayah hampir bersamaan.
“Assalamu’alaikum” Ucapan salam dari seorang wanita sembari mengetuk pintu rumah bercat biru muda.
“Siapa?? Bentar.” Suara keras terdengar dari dalam rumah.
Ketika Bambang membuka pintu, betapa kaget dan tidak diduganya. Wanita itu adalah Halimah. Halimah memakai busana muslim berwarna biru muda dan memakai jilbab putih.
“Assalamu’alaikum pak.”
Bambang masih termangu dan tidak percaya bahwa itu Halimah, istrinaya yang sudah di usirnya.
Ia terlihat lebih cantik dengan balutan jilbab putih itu. (Subhanallah).
———————-TAMAT———————
Karya : CintaQuwh “dydy”. Makasih Ya cinta… :) 

beritahu teman anda artikel-artikel bagus dari gen22.blogspot.com

http://rosyady.wordpress.com/2009/12/29/jilbab-putih/
Share :

Ingin berlangganan artikel terbaru dari kami? Silahkan isikan alamat email Anda pada kolom di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Komentar Facebook: